JAKARTA, Bisnistoday – Indonesia dan India pererat kerja sama strategis dalam pengembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang beretika, inklusif, dan berorientasi pada kepentingan publik. Komitmen tersebut mengemuka dalam Official Pre-Summit 2026 yang digelar oleh MicroSave Consulting (MSC) bersama Kedutaan Besar India di Jakarta, India Indonesia Chamber of Commerce (IndCham), serta Women Entrepreneurship Platform (WEP) di bawah NITI Aayog.
Forum ini mempertemukan pejabat pemerintah, pelaku industri, mitra pembangunan global, hingga pakar teknologi dari kedua negara. Diskusi difokuskan pada penguatan tata kelola AI yang bertanggung jawab, berpusat pada manusia, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi pijakan menuju AI Impact Summit 2026 di New Delhi.
Wakil Menteri Komunikasi dan Urusan Digital, Nezar Patria, menegaskan bahwa kolaborasi Indonesia-India membuka peluang besar untuk memanfaatkan AI dalam menjawab tantangan publik.“Pertumbuhan ekonomi digital di kedua negara menjadi peluang strategis untuk memanfaatkan AI secara aman, tepercaya, dan berpusat pada manusia, mulai dari inklusi keuangan hingga ketahanan iklim,” ujar Nezar dalam special remarks-nya.
Ia menambahkan, penguatan tata kelola serta investasi pada infrastruktur dasar AI menjadi kunci agar inovasi tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Kerja sama ini, menurutnya, sejalan dengan nota kesepahaman (MoU) Indonesia–India yang ditandatangani pada awal 2025.
Peran Strategis AI
Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menekankan peran strategis AI dalam mendorong kemaslahatan sosial, termasuk peningkatan layanan publik dan perluasan perlindungan sosial berbasis kebutuhan “Dialog ini tidak hanya membahas teknologi, tetapi juga langkah konkret membangun ekosistem AI yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Keselarasan kebijakan menjadi sorotan utama forum. India mengusung kerangka people, planet, and progress dengan fokus pada inovasi AI yang multibahasa dan mudah diakses melalui infrastruktur publik digital. Sementara itu, Strategi Nasional AI Indonesia 2020–2045 menitikberatkan pada prinsip kepercayaan, transparansi, pengembangan talenta, dan akuntabilitas, terutama di sektor kesehatan, pendidikan, pemerintahan, ketahanan pangan, dan mobilitas.
Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menilai kolaborasi lintas industri menjadi kunci agar kebijakan AI dapat diterjemahkan menjadi dampak ekonomi nyata.“Interoperabilitas sistem AI dan penguatan ekosistem startup serta UMKM akan memastikan AI mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berdaya saing,” katanya.
Isu kesetaraan gender juga mengemuka. Anna Roy, Programme Director WEP, menegaskan pentingnya akses setara bagi perempuan dan inovator muda dalam ekosistem AI.
Diskusi panel strategis dalam acara ini membahas kolaborasi Selatan–Selatan, digital public goods, interoperabilitas data, serta peran AI dalam pemberdayaan tenaga kerja dan UMKM. Direktur Infrastruktur, Ekosistem, dan Keamanan Digital Bappenas, Andianto Haryoko, menegaskan bahwa AI merupakan pilar pembangunan jangka panjang Indonesia.
“Fokus kami adalah memastikan manfaat AI dirasakan semua lapisan masyarakat, termasuk pekerja informal dan UMKM,” ujarnya.
Acara ditutup oleh Grace Retnowati, Partner dan Country Head MSC Southeast Asia, yang menegaskan komitmen MSC dalam mendorong AI yang berpusat pada manusia.“Nilai AI akan terasa ketika teknologi ini menjunjung martabat manusia dan memperluas kesempatan,” katanya.
Pre-Summit ini menegaskan bahwa pengembangan AI tidak hanya soal kecanggihan teknologi, tetapi juga keadilan, transparansi, dan keberlanjutan. Berbagai gagasan dan kolaborasi yang terbangun di Jakarta diharapkan menjadi fondasi kuat menuju AI Impact Summit 2026 di New Delhi pada 19–20 Februari 2026./




