JAKARTA, Bisnistoday – Kinerja operasional PT Pertamina (Persero) kembali menjadi sorotan publik setelah pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM Bersubsidi pekan lalu. Wajar saja ini terjadi, karena harga BBM bersubsidi Pertalite (RON 90) dijual jauh lebih mahal dibanding produk mirip Pertalite yang jauh lebih murah.
Pemerhati energi dan keuangan menduga adanya ketidakefisienan kinerja PT Pertamina (Persero) selama ini. Sehingga, harga produk yang dijual tidak kompetitif dibanding produk swasta yang tidak mengenyam subsidi. Masyarakat bertanya, swasta mampu menjual lebih rendah secara komersial, sedangkan produk pertalite yang disubsidi malah dijual lebih mahal.
“KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) harus usut itu, keuangan pertamina. Termasuk mengusut pembelian minyak mentah Pertamina,” cetus Uchok Sky Khadafi, Direktur Eksekutif Central for Budget Analysis (CBA), kepada media, di Jakarta, Jumat (9/9).
Seperti kenyataan saat harga BBM subsidi Jenis Pertalite (RON) 90 mengalami kenaikan dari Rp7.650 per liter menjadi Rp10.000 per liter pada Sabtu (3/9), sedangkan harga BBM (RON 89) SPBU Vivo bahkan mengalami penurunan dari Rp 9.200 per liter menjadi Rp8.900 per liter sebelumnya.
Terjadi Paradoksal
Mengenai hal ini, Uchok mengaku tak habis pikir mengenai perbedaan harga penjualan produk BBM swasta dan pertamina ini. “Masa harga BBM kita selalu dibilang mahal, dan Pertamina selalu merugi. Ini benar-benar sulap, keuangan pertamina,” sinisnya.
Kondisi demikian, Uchok merasa heran bahwa jajaran direksi PT Pertamina (Persero) masih saja orang yang sama. Bagaimana mungkin, pemerintah menilai dari berbagai aspek bahwa pertamina minus kinerjanya.
“Dan masa sudah mahal BBM, dan Pertamina rugi, kok dirut Nicke masih dipertahankan. Sampai kapan Nicke dipertahankan.Sampai kiamat? Pak Jokowi?” cetus Uchok Sky Khadafi./





































