PADA 24 Juni 2026, dua gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,2 SR dan 7,5 SR mengguncang wilayah utara Venezuela, mengakibatkan lebih dari 6.500 orang tewas dan kerusakan parah pada sejumlah infrastruktur.
Bulan berikutnya, kebakaran hutan hebat dan gelombang panas menyebabkan puluhan ribu orang harus mengungsi serta melahap ratusan hektare lahan di Prancis, Spanyol, dan sebagian wilayah Kanada. Amuk api ini juga berdampak pada kualitas udara di wilayah timur laut Amerika Serikat.
Di akhir Agustus, tepatnya pada tanggal 26, giliran banjir bandang dan tanah longsor menerjang sejumlah permukiman di Tibet dan Nepal. Dahsyatnya air bah yang disebabkan runtuhnya bongkahan es menyapu ribuan orang yang berada di kaki pegunungan Himalaya tersebut.
Di Tanah Air, meski tidak menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, kengerian serupa juga terjadi. Mulai dari kebakaran dahsyat yang melahap lahan dan hutan di Kalimantan, Sumatera, dan Lombok, hingga meletusnya Gunung Anak Krakatau yang membuat sebagian wilayah di Pulau Jawa diselimuti debu dan mengganggu sejumlah jadwal penerbangan.
Selain itu, bunyi dentuman yang dirasakan sebagian warga di Bandung Raya beberapa waktu lalu, juga memicu tanda tanya, sekaligus kekhawatiran.
Sebagian dari kita mungkin tidak menyaksikan peristiwa-peristiwa itu dengan mata kepala sendiri. Namun, kehadiran media sosial, membuat kengerian yang ditampilkan menimbulkan ketakutan kolektif bahkan menyelinap hingga ke alam mimpi. Masyarakat pun dibuat cemas dengan keadaan dunia yang sedang tidak baik-baik saja.
Di tengah ketidakpastian ini, manusia biasanya selalu akan berusaha mencari jawaban. Ketika sebuah bencana terjadi, pertanyaan “mengapa” dan “apakah ini sudah diperkirakan sebelumnya?” hampir selalu muncul. Di tengah derasnya informasi di media sosial, jawaban itu pun datang dari berbagai arah. Salah satunya berupa ramalan.
Tidak jarang, sesaat setelah sebuah bencana terjadi, beredar kembali video atau pernyataan seseorang yang disebut-sebut telah meramalkan kejadian tersebut.
“Sudah diramalkan.” Kalimat semacam itu kemudian menyebar dengan cepat. Video lama kembali muncul, potongan pernyataan dibagikan berulang-ulang, dan orang mulai mencari-cari kecocokan antara apa yang pernah dikatakan dengan apa yang baru saja terjadi.
Frankie MacDonald
Salah satu contoh yang belakangan ramai dibicarakan adalah Frankie MacDonald, seorang pengamat cuaca amatir asal Kanada. Sebelum gempa Flores pada 15 Agustus 2026, Frankie memang telah membuat pernyataan mengenai kemungkinan terjadinya gempa besar di Indonesia sebelum akhir tahun. Ketika gempa berkekuatan M7,7 kemudian mengguncang Flores, pernyataan tersebut kembali beredar dan dianggap oleh sebagian orang sebagai ‘ramalan’ yang terbukti.
Menariknya, beberapa waktu kemudian, Frankie, yang sama sekali tidak pernah menyebut dirinya sebagai peramal, kembali membuat pernyataan tentang kemungkinan gempa besar di Indonesia yang akan terjadi sebelum akhir tahun. Bahkan, ia secara spesifik menyebut gempa ini akan berdampak di Jakarta dan sejumlah negara tetangga.
Di sinilah kita bisa belajar satu hal sederhana ‘sebuah ramalan atau prediksi sebaiknya tidak hanya dilihat dari bagian yang kebetulan cocok dengan kenyataan.’ Kita juga perlu melihat kapan ramalan itu dibuat, seberapa spesifik isinya, wilayah mana yang disebut, dan apakah ada bagian lain dari ramalan tersebut yang ternyata tidak terbukti.
Misalnya, mengatakan “akan terjadi gempa besar di Indonesia” tentu berbeda dengan menyebut secara tepat lokasi, waktu, dan kekuatan gempa. Semakin luas rentang waktu dan wilayah yang disebut, semakin besar pula kemungkinan sebuah peristiwa dapat dianggap cocok dengan pernyataan tersebut.
Tetap tenang
Ini bukan berarti kita harus mencurigai setiap ramalan atau menganggap orang yang mempercayainya sebagai sesuatu yang keliru. Ramalan, bagaimanapun, telah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan kebudayaan di banyak tempat. Bagi sebagian orang, ramalan memiliki makna spiritual atau personal yang penting.
Yang perlu kita miliki adalah kebiasaan untuk membaca sesuatu dengan lebih tenang. Sebab, ketika sebuah peristiwa sudah terjadi, mencari pernyataan lama yang terasa sesuai dengannya adalah hal yang gampang. Istilahnya, Cocoklogi. Yang jauh lebih sulit adalah mengingat semua ramalan yang pernah dibuat tetapi tidak pernah menjadi kenyataan.
Maka, ketika sebuah ramalan kembali muncul setelah bencana, mungkin kita tidak perlu buru-buru percaya, tetapi juga tidak perlu buru-buru mencibir. Cukup bertanya “Kapan ramalan itu dibuat? Seberapa spesifik? Apa yang sebenarnya dikatakan? Dan berapa banyak ramalan lain yang ternyata tidak terbukti?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu mungkin tidak akan membuat kita tahu apa yang akan terjadi besok. Tetapi setidaknya, kita tidak mudah kehilangan akal sehat ketika berhadapan dengan ketidakpastian. Ramalan, prediksi, atau apa pun itu, jangan sampai membuat kita cemas berlebihan. Anggap saja sebagai pengingat agar tetap waspada, apalagi kita memang tinggal di wilayah rawan bencana.
oleh: Adiyanto, wartawan Bisnistoday


















![Polisi antihuru-hara berhadapan dengan siswa SMA saat unjuk rasa di Paris [Yves Herman/Reuters]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/10/Pelajar-prancis-680x533.jpg)

















