JAKARTA, Bisnistoday – Indonesia bakal dihadapkan keadaan yang serba sulit diprediksi ditengah berbagai ancaman disabilitas dan geo politik global. Kondisi yang tidak menentu (uncertainty) sampai kapan konflik Rusia dan Ukraina berakhir? Belum lagi disusul oleh ketegangan Cina, Taiwan, dan Amerika Serikat sendiri. Ini menjadikan ketidakpastikan di kalangan geo politik maupun pasar keuangan dunia.
Kondisi risiko tinggi ini, tidak sedikit negara telah mengambil jalan pintas melalui kebijakan bunga tinggi. Mereka juga tidak dipersalahkan, karena sulitnya mencari pilihan dalam mengatasi inflasi yang tinggi. Demikian juga, risiko resesi dunia tahun depan terus membayangi yang mendorong langkah agresif kebijakan ketat moneter dari bank sentral sejumlah negara di dunia.

Begitupun, di negara adidaya yakni Amerika Serikat, juga tidak menepis mulai memasuki rezim bunga tinggi sebagai konfirmasi atas ketidakpastian keuangan global. Hal ini mendorong dominasi penguatan mata uang Dolar AS, sehingga berdampak mayoritas terhadap melemahnya nilai tukar mata uang negara-negara lainnya.
“Kondisi krisis global ini, membuat negara-negara yang rentan, akan terpengaruh berat. Sedangkan untuk Indonesia, krisis global malah memunculkan peluang atas naiknya harga komoditas dunia.”
Perekonomian Nasional
Terlepas dari hal tersebut, dari sisi domestik di Indonesia terlihat geliat ekonomi sudah mulai meningkat pasca pandemik Covid-19. Aktifitas masyarakat mulai meningkat dibarengi dengan konsumsi yang terus membaik dengan tren positif. Sekaligus, hal ini sebagai konfirmasi penyeimbangan ditengah ketidakpastian global.

Kondisi fiskal Indonesia-pun, relatif masih terkelola dengan baik dengan masih memperlihatkan angka surplus pada Kuartal III-2022 diantaranya sebagai penopang utama harga komoditas yang masih berada di level tinggi. Sebagai peredam gejolak global yang sangat baik dengan tingginya harga komoditas.
Diperkirakan sampai akhir tahun, harga komoditas ini masih surplus sehingga memperbaiki current account. Begitupun, diramalkan Bank Indonesia terus melanjutkan kebijakan ketat untuk mengelola lonjakan inflasi dan nilai tukar rupiah.
“Memandang hal tersebut diatas, bahwa diyakni pemulihan ekonomi Indonesia masih on the track dan melihat resiko global yang tinggi pada tahun 2023 agak sedikit tertahan pemulihanya.”
Pertumbuhan Ekonomi
Sementara, pertumbuhan ekonomi Indonesia (GDP) tercatat lumayan kuat dengan pertumbuhan consensus pada Kuartal II -2022 masih berada di level 5,4% dari targetnya 5,2%. “ Ini masih memperlihatkan inline dengan ekspektasi sebelumnya,” ucapnya.
Stabilnya pertumbuhan ini, karena pada periode tersebut didukung dangan peningkatan mobilitas pergerakan masyarakat, begitupun upaya mempertebal imunitas saat pandemik berlangsung. Kondisi ekspor selama periode tersebut juga memperlihatkan pertumbuhan baik.
Sementara, realisasi investasi pada kuartal III-2022 sudah mencapai 75% dari target atau sebesar Rp139 Triliun meningkat dari kuartal II-2022. Hal yang sama juga untuk FDI (investasi asing) mengalami pertumbuhan pada kuartal III -2022 sebesar 66,4% dari Kuartal II-2022 sebesar 42,2%.
Pertumbuhan Ekspor Impor
Disisi lain, untuk trade balance tercatat mengalami surplus kendati sudah mulai memperlihatkan penurunnan. Tercatat kondisi surplus ini sudah ke 29 kali pada September 2022 dari data kesetiapbulannya. Dibandingkan pada kuartal III-2021 mengalami kenaikan dari 25,1 juta Dolar AS menjadi 39,9 juta dolar AS pada kuartal III-2022.
Kendati demikian, kondisi ekspor dan impor mengalami perlambatan di bulan September 2022. Pertumbuhan ekpor per bulan September melambat 20,3% atau tecatat 24,8 juta Dular AS, dibanding Agustus mampu mencatatkan 27,9 juta dolar AS. Sedangkan kondisi impor juga menurun 11% setara 19,8 juta dolar AS per September 2022 dibanding Agustus tercatat 22,2 juta dollar AS. Secara tahunan, ekspor mengalami penurunan pertumbuhan sekitar 22%.
Dipandang dari sisi pengeluaran pemerintah, dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional begitu memiliki peran penting sebagai katalisator gejolak global. Penyerapan pemerintah ini sangat dibutuhkan dalam menepis ketidakpastina global baik secara ekonomi maupun geopolitik.
“Didalam kuartal III-2022, belanja pemerintah tercatat Rp 1,913 Triliun dinilai sebagai pertumbuhan moderat 5,9 % disamping realisasi budget 61,6 % anggaran tahun 2022.”
Menahan Inflasi
Sedangkan kondisi inflasi di Indonesia mengalami sedikit goncangan tinggi 5,71% dari tahun ke tahun di bulan Oktober 2022 meski dibawah consensus sebesar 5,98% secara tahunan. Hal ini wajar, seiring adanya kenaikan harga BBM pada pertengahan Agustus lalu. Secara bulanan, malah IHK Indonesia mencatat deflasi sebesar 0,1% MoM di bulan Oktober karena penurunan harga bahan makanan.
“Dengan inflasi yang moderat, kami memperkirakan BI akan menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate pada Rapat Dewan Gubernur bulan ini hanya sebesar 25 bps menjadi 5,0%.”
“Dengan FFR yang masih terus meningkat di tengah ketidakpastian global yang lebih tinggi, kami merevisi perkiraan nilai tukar Rupiah terhadap USD menjadi Rp14.935 dari sebelumnya rata-rata Rp14.755 pada tahun 2022, pada akhir tahun ini.”
Ekuitas global, obligasi, dan volatilitas pasar mata uang saat persepsi risiko mulai mereda. Pasar mengharapkan The Fed yang kurang hawkish pada pertemuan FOMC November USD yang kuat karena prospek ekonomi maju lainnya memburuk.
USD tetap pada level tertinggi selama beberapa dekade karena prospek ekonomi utama lainnya memburuk. Rupiah menyentuh di atas 15.600 seiring meningkatnya tekanan pada mata uang negara berkembang.
Imbal Hasil Negara Maju
Seperti diketahui, Amerika Serikat secara konsisten memiliki kurva imbal hasil terbalik sejak Agustus 2022, menunjukkan kemungkinan resesi. Merespon hal tersebut, Bank Indonesia melakukan operation twist untuk menjaga daya tarik pasar obligasi domestik, terutama yang berjangka pendek.
Disisi lain, Imbal hasil obligasi pemerintah di banyak negara meningkat karena kenaikan suku bunga dan inflasi yang lebih tinggi. Kendati demikian, Yield obligasi pemerintah Indonesia meningkat masih moderat dibandingkan negara lain. Hal ini menyikapi pertumbuhan global yang lebih lambat pada tahun 2023.
Sementara, IMF menurunkan prospek globalnya pada tahun 2023 menjadi 2,7% (vs perkiraan sebelumnya sebesar 2,9%), dengan meningkatnya risiko ekonomi global akan meluncur ke dalam resesi. “Prakiraan pertumbuhan dari IMF sejalan dengan pandangan kami dengan melihat kemungkinan besar resesi global tahun depan, terutama di negara-negara ekonomi besar.”
“Kami percaya bahwa kemungkinan resesi global meningkat, terutama di ekonomi maju, termasuk AS, Inggris, negara-negara di zona Euro sebagai akibat dari pengetatan moneter paling agresif dalam beberapa dekade.”
“Mempertimbangkan kondisi ekonomi saat ini, kami memperkirakan negara-negara zona euro dan Inggris akan memasuki resesi lebih cepat di AS.”
Oleh : Senior Economist- PT. Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto





































