JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Sejarah hubungan diplomasi antara Indonesia dan Rusia lumayan panjang dan kompleks. Berbagai fase perubahan politik dalam negeri yang terjadi di masing-masing negara dan juga situasi geopolitik dunia, turut memengaruhi relasi tersebut.
Dalam disertasinya, sejarawan Universitas Indonesia, Dr. Ahmad Fahrurodji menyoroti dinamika tersebut, terutama di era Perang Dingin, yang merupakan era krusial dalam peta percaturan politik global. Pengembangan dari disertasi tersebut kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul Indonesia–Rusia dalam Pusaran Perang Dingin: Geopolitik dan Diplomasi Soviet di Asia Tenggara.
Launching buku setebal hampir 300 halaman terbitan Yayasan Obor itu, dilakukan di Auditorium Gedung I, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Senin (26/10/2026), dan dihadiri sejumlah undangan, termasuk Menteri Kebudayaan Fadli Zon, serta Duta Besar Federasi Rusia, Sergei Tolchenov. Selain peluncuran buku, juga digelar diskusi yang menghadirkan pembicara Budiman Sudjatmiko, Kusnanto Anggoro, Ali Mochtar Ngabalin, dan I Ketut Suradjaja.
Salah satu perhatian utama buku ini ialah dukungan diplomatik Soviet terhadap perjuangan Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa, bahkan sebelum kedua negara menjalin hubungan diplomatik formal. Hubungan itu berkembang semakin erat pada era Nikita Khrushchev, termasuk melalui kerja sama ekonomi, kebudayaan, politik, dan militer.
Dukungan Soviet turut berperan dalam perjuangan Indonesia merebut kembali Irian Barat. Kedekatan kedua negara juga meninggalkan jejak pembangunan, antara lain kompleks olahraga Gelora Bung Karno dan Rumah Sakit Persahabatan di Jakarta.
Peran Sukarno
Dalam buku ini, Fahrurodji menyoroti kepiawaian Presiden Sukarno kala itu dalam membangun hubungan personal dengan para pemimpin dunia, termasuk pemimpin Uni Soviet. “Belum ada presiden Indonesia yang mampu menandingi kelihaian Bung Karno dalam memadukan peran kepala negara dan diplomat. Salah satu kunci keberhasilannya terletak pada pendekatan personal yang melampaui hubungan formal antarpemerintah,” ujarnya.
Dalam diplomasi Soviet, pendekatan tersebut berkaitan erat dengan konsep druzhba atau persahabatan. Menurut Fahrurodji, hubungan antarnegara tidak cukup dibangun melalui kesepakatan politik, tetapi juga membutuhkan kedekatan dan kepercayaan antarpemimpin.
Fahrurodji turut mengulas bagaimana prinsip koeksistensi damai memungkinkan negara-negara dengan sistem politik berbeda membangun kerja sama. Namun, hubungan bilateral tersebut juga mengalami perubahan seiring pergantian kepemimpinan dan orientasi politik masing-masing negara.
“Buku ini tak hanya merekonstruksi sejarah hubungan bilateral, tetapi juga menjelaskan makna dan implikasi dari perubahan kebijakan yang terjadi di kedua negara pada masa Perang Dingin yang penuh gejolak,” tulis Fadli Zon dalam kata pengantar buku tersebut.
Posisi Strategis Indonesia
Buku ini juga mengungkap episode diplomasi menjelang Perang Dunia II ketika Jepang berupaya menarik Uni Soviet ke dalam persekutuan dengan Jepang dan Jerman. Dalam perundingan tersebut, Menteri Luar Negeri Jepang disebut menyinggung kekayaan alam Hindia Belanda sebagai bagian dari tawaran kepada Soviet.
“Padahal, ketika perundingan berlangsung, Jepang belum menduduki Hindia Belanda. Upaya diplomatik tersebut akhirnya gagal dan Uni Soviet kemudian bergabung dengan pihak Sekutu dalam Perang Dunia II,” ujar Fahrurodji.
Temuan itu memperlihatkan bagaimana wilayah Indonesia telah masuk dalam perhitungan geopolitik negara-negara besar bahkan sebelum pendudukan Jepang. Persaingan kepentingan tersebut menjadi salah satu latar historis untuk memahami posisi Indonesia dalam hubungan internasional pada masa berikutnya.
Melalui penelusuran sejarah diplomasi Indonesia–Uni Soviet sepanjang 1945–1964, Fahrurodji mengkaji hubungan kedua negara sejak era Josef Stalin hingga Nikita Khrushchev. Periode tersebut mencakup perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, penguatan hubungan bilateral, serta perubahan konstelasi politik global.
Penelitiannya menggunakan sumber dari Arsip Negara Federasi Rusia, sumber di Bulgaria, serta wawancara dengan sejumlah narasumber.
Salah satu narasumber tersebut ialah Vladlen Sigaev, yang pernah menjadi penerjemah dalam komunikasi Presiden Sukarno dan Khrushchev. Kesaksian dan dokumen historis itu menjadi bagian penting dalam merekonstruksi dinamika hubungan kedua pemimpin.
Fahrurodji berharap bukunya dapat memperkaya kajian sejarah diplomasi Indonesia–Rusia sekaligus menjadi bahan refleksi bagi pengembangan hubungan kedua negara di masa mendatang.//





































