www.bisnistoday.co.id
Rabu , 5 Agustus 2026
Home OPINI Otobiografi Kadiroen Dalam ‘Berjalan Sampai Ke Batas’
OPINIProfile

Otobiografi Kadiroen Dalam ‘Berjalan Sampai Ke Batas’

GUBU BESAR Ilmu Sejarah FIB - Undip Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, Ketua Departemen Ilmu Sejarah FIB - UI, Dr. Abdurakhman, Duta Besar Triyono Wibowo dan Guru Besar Ilmu Sejarah FIB UI, Prof. Dr. Susanto Zuhdi.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Buku bertitel “Berjalan Sampai ke Batas” menceritakan perjalanan panjang seorang rakyat Indonesia biasa kelahiran Demak, Jawa Tengah bernama Kadiroen Kromodiwirjo (1898 – 1986). Buku otobiografi yang mengisahkan Kadiroen, lulusan Sekolah Angka Satu (Ongko Siji) 1906 – 1911 ini, dimulai dari kisahnya menjadi pegawai di perusahaan kereta api SCS (Semarang Cirebon Stoomtram Maatschappij), lantas kemudian aktif di pergerakan Sarekat Islam di Kaliwungu, Semarang.

Bagaimana ia tumbuh berkembang menjadi sosok pribadi yang jujur, ulet, tekun dan bekerja keras, berpendirian teguh dan konsisten dengan prinsip-prinsip yang diyakininya. Bagaimana kemudian ia menjadi seorang pejuang politik nasionalis yang tanpa kompromi mencita-citakan Indonesia merdeka.  Sampai akhirnya tahun 1926 Pemerintah Hindia Belanda melakukan penangkapan anggota dan aktivis pergerakan nasional, yang kemudian dibuang ke Digul, Irian Barat (1928).

Menurut pandangan Guru Besar Sejarah dari Universitas Indonesia Prof. Dr. Susanto Zuhdi, buku ini menarik untuk dibaca, karena ditulis oleh seorang masyarakat biasa. “Kadiroen menulis kisah biografinya dengan kesadaran sendiri, tanpa ada permintaan dari pihak lain.

Dengan menulis sendiri kisahnya, selain ia mewariskan nilai-nilai penting kepada keturunannya kelak, ia juga menyajikan fakta seperti sanggup hidup bertahan di dalam kamp pembuangan di masa lalu (Digul yang hutan belantara dengan masih tinggi kemungkinan terjangkit malaria atau meninggal karena dimakan Binatang buas). Sehingga di masa kini kisah tersebut diteladani, dengan sebaiknya  tidak mudah berputus asa saat kita menghadapi kondisi yang cukup sulit.”

Susanto menjadi pembahas dalam serial Bincang Sejarah ke-15 dan bedah buku “Berjalan Sampai ke Batas, Kisah Nyata seorang Digulis, yang diasingkan ke Boven Digul, Papua, diadakan oleh Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI) bekerjasama dengan keluarga besar Kadiroen Kromodiwirjo, di Departemen Sejarah – Fakultas Ilmu Budaya  – UI, Selasa (21/3).

Tampil sebagai pembicara utama Duta Besar Triyono Wibowo, serta pembahas Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, Guru Besar Sejarah dari Universitas Diponegoro.

Susanto mengakui masyarakat Indonesia dinilai masih lemah dalam penulisan sejarah keluarga. Berbeda kondisinya dengan masyarakat di luar Indonesia, menceritakan kisahnya menjadi buku adalah hal yang biasa (lazim). Padahal kisah keluarga menjadi sumber otentik dalam mentransmisikan nilai-nilai kehidupan kepada generasi berikutnya.

“Ada kendala dalam penulisan kisah sejarah keluarga. Yang pertama adalah kendala sikap Bangsa Indonesia yang “terkesan sombong” apabila bicara mengenai diri sendiri dan keluarganya.

Padahal apa yang dikemukakan oleh Kadiroen lewat bukunya tersebut secara mikro memang berkisah tentang perjuangan diri dan keluarganya. Karenanya bisa saja ada pemikiran kisah tersebut ditujukan semata-mata untuk kepentingan keluarganya.

Namun demikian di saat penutur kisah sudah berbicara secara kontekstual tentang sepenggal perjuangannya mencapai ‘Indonesia Merdeka’ maka berbagai peristiwa yang dialami oleh Kadiroen, sudah menjadi bagian dari perjalanan bangsa. Itu sebabnya kisah Kadiroen ini layak menjadi bagian konsumsi publik masyarakat bangsa Indonesia.

Kedua, sebagai sumber utama, tidak semua orang mampu menuliskan kisahnya secara detil. Selama ini apabila menggali informasi, perlu bertanya langsung kepada pelaku sejarah, karena apabila tidak diungkapkan, maka fakta tersebut tidak muncul (tampak). Karenanya saya dapat sampaikan, belum ada yang bisa menulis seperti yang dilakukan oleh Kadiroen,” papar Susanto, sejarawan ahli bidang maritim.

Baik Susanto maupun Singgih sepakat, nilai-nilai yang diwariskan oleh Kadiroen berada pada tataran di lingkungan mana sejarah tersebut bermakna, pada konteks peristiwa atau zamannya.  Seperti zaman serba mudah di saat ini jika tidak dimanfaatkan, maka tidak akan ada artinya.

Seperti halnya nilai-nilai yang diwariskan oleh Kadiroen yakni arti keluarga, kebangsaan, pendidikan, termasuk juga bagaimana Kadiroen mampu memanfaatkan berbagai peluang bisnis, menjadi relevan diterapkan pada masa kini, karena menjadi inspirasi dan motivasi untuk diri sendiri.   A

Memoar dengan Value

Singgih melihat memoar asli yang kemudian dibukukan melalui proses panjang selama beberapa tahun ini (ditulis Oktober 1976 dan menjadi buku November 2022) menyiratkan sejumlah value yang menggambarkan kuatnya tokoh Kadiroen.

“Karya ini menjadi penting nilainya dipandang dari segi sejarah, politik dan kondisi ekonomi pada masa itu. Berbagai aspek yang dikemukakannya seperti dalam aspek sejarah keluarga, menjadi referensi bagi lahirnya karya-karya serupa di dalam negeri, sehingga memperkuat dokumentasi arsip berskala nasional. “

Sebagai sejarawan kami melihat memoar ini secara kritis sebagai sumber sejarah yang akan menjadi konstruksi intelektual guna menghadapi realitas yang ada. Dalam hal ini tokoh penulis Kadiroen menjadi saksi dan pelaku sejarah yang memberikan berbagai informasi berharga di masa tersebut, kendati menjadi dokumen sejarah tertulis yang sifatnya subyektif.

Misalnya jelas Singgih, bagaimana buku ini mengungkapkan kekuasaan kolonial Pemerintah Hindia Belanda di mata “wong cilik.” Atau bagaimana mempertahankan konsistensi Indonesia harus bebas dari penjajahan kolonialisme. Ada juga tentang idealisme yang harus dibayar mahal, seperti pegawai yang “tidak manut” pada pimpinan penjajah Belanda terpaksa menerima upah yang lebih rendah daripada mereka yang manut (kooperatif) kepada penguasa Hindia Belanda.

Maka dalam konteks tersebut sebenarnya tidak ada yang meletakkan fondasi agar orang-orang seperti Kadiroen menjadi penggerak anti kolonialisme, namun peran dia dalam hal ini terlihat secara signifikan. Buat generasi penerus, sikap seperti ini memberi semangat kepada anti (perlawanan) terhadap penindasan,” papar Singgih yang banyak menggeluti sejarah maritim Indonesia.

Triyono : Kisah tentang Digul Kadang Selintas Saja

Sebagai pembicara utama, Triyono mengemukakan sejarah tidak pernah memiliki kata akhir atau batas waktu. Dia akan selalu terbuka terhadap temuan baru dan tafsiran baru yang muncul kemudian. Penangkapan dan pembuangan orang-orang pergerakan nasional  menentang  penjajahan Belanda ke Kamp Konsentrasi Boven Digul tidak banyak tampil dalam diskursus sejarah kemerdekaan.

Dia tertulis dalam catatan sejarah, namun hanya selintas saja disebut dalam perjalanan panjang perjuangan Bangsa Indonesia meraih kemerdekaannya.

Demikian pula pengetahuan publik Indonesia terhadap peristiwa besar pemboikotan kapal-kapal Belanda di hampir semua pelabuhan di Australia sebulan setelah Indonesia memproklamirkan Kemerdekaannya, lebih banyak ditempatkan dalam konteks hubungan  politik Indonesia – Australia setelah Kemerdekaan Indonesia.

Disana sini memang ada sejumlah referensi, terutama yang ditulis oleh penulis dan sejarawan Australia mengenai peristiwa besar ini, tetapi sangat sedikit  atau bahkan tidak ada tulisan yang dibuat oleh para pelaku atau orang   Indonesia  yang terlibat langsung menggerakkan pemboikotan tersebut.

Tulisan  mengenai Boven Digul baru bermunculan setelah masa reformasi politik 1998, ketika kebebasan menulis dan akses terhadap informasi terbuka  lebar, dan ketika ijin terbit sudah tidak lagi menjadi halangan dalam mempublikasikan buah pikiran atau pendapat.

Tulisan-tulisan itupun umumnya bukan  dibuat  oleh ex Digulis sendiri yang mengetahui dan memiliki pengalaman langsung di Kamp Konsentrasi Bovel Digul, melainkan oleh tangan kedua berdasarkan  cerita atau pengakuan  dari Digulis atau sumber-sumber lain.

Buku Berjalan Sampai ke Batas ini diterbitkan dari manuskrip tulisan tangan Kadiroen sendiri  sebagai seorang Digulis.  Penerbitan buku ini dengan demikian bernilai bukan saja karena melengkapi dokumentasi sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga membuka wawasan publik kita mengenai kamp konsentrasi Boven Digul dan segala bentuk kekejaman dan penindasan penjajahan Belanda disana.

Rentang  waktu yang cukup lama (lebih dari 40 tahun)  antara peristiwa yang diceritakan dengan penulisannya menyebabkan kesaksian dan informasi yang disajikan tidak memuat detail tanggal dan bulan, hal yang sebenarnya  diperlukan dalam  penulisan sejarah.

Namun demikian,  informasi dalam buku ini benar berdasarkan  peristiwa nyata dan pengalaman langsung  yang dialami atau disaksikan sendiri oleh penulis, yang kebenaran dan akurasinya  terkonfirmasi dari catatan atau tulisan-tulisan sejarah dari sumber-sumber lain, terutama dari penulis dan arsip Australia.

Buku ini memberikan informasi dan sekaligus membuka pengetahuan kita secara lebih lengkap tentang Kamp Konsentrasi Boven Digul;  sikap dan kondisi mental para deportados setelah berada di Boven Digul,   komitmen dan konsistensi perjuangan mereka yang kemudian dilanjutkan dari Australia untuk Kemerdekaan Indonesia.

Memberikan Pemahaman Lengkap

Dari buku ini  publik dapat memperoleh gambaran dan pemahaman  lebih lengkap  proses perjalanan perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya menyangkut  perjuangan dan penderitaan kaum Digulis di  Kamp Konsentrasi Boven Digul,  dan peran mereka dalam peristiwa pemogokan buruh pelabuhan Australia (Waterfront Workers Federation – WWF)  terhadap kapal-kapal Belanda di Australia.

Buku tulisan Kadiroen ini menyajikan sebuah kisah dari tangan pertama bagaimana kehidupan dan suasana di Kamp Konsentrasi Boven Digul baik di Kamp Konsentrasi Tanah Merah maupun Kamp Konsentrasi Tanah Tinggi.

Bagaimana tekanan kehidupan akibat  kondisi alam sekitar dan kesulitan hidup yang dijalani di  Kamp Konsentrasi,  dan perbedaan ragam pandangan politik diantara para deportados telah mempengaruhi  dan merubah  bukan saja perilaku, sikap dan mentalitas para deportados tersebut, melainkan juga  konsistensi  mereka terhadap perjuangan melawan penjajahan Belanda.

Mereka yang dibuang ke Boven Digul adalah orang orang pergerakan nasional Indonesia yang  melawan Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda dan dinilai membahayakan kelangsungan kolonialisme Belanda di Indonesia.

Mereka berasal dari beragam  latar belakang berbeda,  baik organisasi maupun orientasi politiknya atau bahkan orang-orang yang sama sekali tidak terkait sama sekali dengan “Peristiwa 1926/1927.”  Mereka yang berorientasi kiri atau  komunis ada, tapi  kaum  santri dan nasionalis juga banyak.  Pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang anti penjajahan Kolonial Belanda, terlepas dari apapun aliran dan orientasi politiknya.

Kondisi lingkungan Kamp Konsentrasi Boven Digul yang kemudian mempengaruhi atau merubah sikap, pandangan dan komitmen perjuangan mereka terhadap penjajahan Belanda. Kadiroen menyebutkan dalam tulisannya  sebagai mereka yang tunduk dan bersedia menjadi bagian dari Penguasa Kolonial di Boven Digul, atau  mereka yang menjadi lunak  namun tidak bersedia bekerjasama, dan mereka yang tetap tegak menjadi die hard sehingga harus diasingkan lebih jauh lagi  ke Kamp Konsentrasi yang lebih menyeramkan  di Tanah Tinggi.

Diungsikannya para deportados dan keluarganya dari Digul ke Australia tahun 1943, setelah  Jepang menguasai sebagian besar wilayah Hindia Belanda, dan kemudian dibebaskannya para deportados Digulis tersebut dari Kamp Tawanan Perang Cowra pada tanggal 7 Desember 1943,  memberi peluang baru  dan  militansi mereka untuk Kemerdekaan Indonesia.

Suasana bebas yang mereka peroleh setelah dikeluarkan dari kamp tawanan perang Cowra membuat mereka  melek dan terbuka terhadap  informasi dan perkembangan dunia, sesuatu yang tertutup  sama sekali sejak mereka masuk Boven Digul.   Mereka bebas melakukan diskusi dan pertemuan-pertemuan politik di Australia.

Mereka juga menjadi tahu perkembangan jalannya Perang Dunia ke 2 di Eropa dan di Pasifik, dan mereka juga tahu diskursus yang ada diantara para pemimpin dunia, khususnya  Amerika Serikat, mengenai kelanjutan kolonialisme Eropa di Afrika dan Asia, serta masa depan status tanah-tanah jajahan mereka di Asia Tenggara.

Bergabung Dalam PARKI

Pengetahuan seperti inilah yang melatar-belakangi keputusan para Digulis bergabung dalam PARKI (Partai Kebangsaan Indonesia) di Mackay untuk mengirim surat ke PBB bulan Juni 1945 agar Indonesia setelah dibebaskan dari pendudukan Jepang, tidak diserahkan kembali ke Belanda (halaman 370).

Di kota Mackay, sejumlah Digulis – termasuk Kadiroen – mendirikan organisasi politik bernama PARKI (Partai Kemerdekaan Indonesia) (halaman 368).  Mereka adalah para Digulis yang konsisten memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia.  Mereka mengerahkan segala daya dan upaya  mendapatkan dukungan publik Australia terhadap sikap mereka yang anti Pemerintah  Hindia Belanda di pengasingan di Australia, dan kemudian dukungan dan pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia setelah Proklamasi.

Mereka mengirim telegram dan menyebar pamflet ke berbagai pihak di Australia, khususnya ke Serikat-Serikat  Buruh Australia, bahkan juga ke berbagai pihak di Amerika Serikat dan Eropa. (halaman 372 – 382) ( catatan : pamflet dan telegram yang dikirim PARKI dapat ditemukan/dilihat  di arsip WWF Australia Indonesian File)

Orang-orang Indonesia di Australia waktu itu terdiri  dari mereka yang bekerja pada Pemerintahan Hindia Belanda dan para pelaut di kapal-kapal Belanda yang  ikut melarikan diri atau terbawa ke Australia ketika Pemerintahan Hindia Belanda mengungsi  ke Australia, setelah Hindia Belanda  jatuh ke tangan Jepang pada tahun 1942;  dan para Digulis yang jumlahnya sekitar 1400-an yang dipindahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda ke Australia dari Boven Digul (Tanah Merah dan Tanah Tinggi) pada paruh pertama 1943.

Dengan berjalannya waktu, orang-orang Indonesia di Australia ini  kemudian terpecah menjadi  2 (dua) kelompok  yaitu yang tetap setia kepada Pemerintah Hindia Belanda dan bersedia bekerja sama dengan Pemerintah Pelarian Hindia Belanda (antara lain tergabung dalam SIBAR : Serikat Indonesia Baru), dan kelompok yang terus konsisten memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia (tergabung dalam KIM – Komite Indonesia Merdeka).

Ada testimoni penting yang diungkap  Kadiroen, tentang asal mula proses yang mendahului dan menjadi pemicu pemboikotan terhadap ratusan kapal Belanda yang akan digunakan untuk menduduki kembali Indonesia setelah Jepang kalah. Sudah banyak dituliskan dalam catatan sejarah Indonesia tentang pemboikotan besar-besaran Serikat Buruh Pelabuhan di Australia terhadap kapal-kapal Belanda setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Publik Indonesia perlu mengetahui fakta apa yang sesungguhnya terjadi  sebagai  proses mula  pemboikotan ini.   Pemboikotan oleh WWF Australia ini  membawa dampak luar biasa bukan saja terhadap rencana operasi keberangkatan dan pendaratan Belanda dari Australia untuk menguasai/menduduki kembali Indonesia, tapi juga peluang waktu yang tercipta  bagi Republik Indonesia yang baru lahir, untuk menguasai wilayah dan berbagai fasilitas serta sarana publik seperti kantor-kantor pemerintahan, radio, rumah sakit, sarana transportasi, air minum dsb  yang ada di Jakarta dan di kota-kota besar lainnya di Jawa dan Sumatera.

Rencana pemboikotan ini  bermula dari percakapan di sebuah kelas kursus Bahasa Inggris yang diberikan oleh seseorang  bernama Jack Lawrence kepada 2 (dua) orang Digulis. Pembicaraan saat itu menyangkut rencana pemulangan paksa orang-orang PARKI oleh Pemerintah Hindia Belanda di pengasingan, yang sudah gerah terhadap aktifitas politik PARKI.

Pembicaraan di kelas kursus Bahasa tersebut kemudian berlanjut melebar sampai menjadi bahan bahasan di WWF Mackay dan WWF Federal,  serta seruan dan permintaan dukungan oleh  PARKI kepada cabang-cabang WWF di seluruh Australia untuk melakukan pemboikotan terhadap semua kapal Belanda.

Ini terjadi pada bulan September 1945. (halaman 379) (Catatan : “decisive approach” yang dilakukan PARKI menyerukan pemboikotan ini  diungkapkan juga oleh Mr. Rupert Lockwood,  seorang wartawan Australia dan sekaligus sejarawan WWF Australia,  dan secara detail menguraikanya dalam bukunya “Black Armada”).

Sebagai Pejuang Bangsa

Dalam buku ini terlihat bagaimana Kadiroen dari seorang pegawai yang rajin dan patuh, berubah menjadi seorang pejuang politik nasionalis yang tanpa kompromi, mencita-citakan Indonesia merdeka. Bagaimana keseharian kehidupannya di Jawa sampai tahun 1928 (saat dibuang ke Boven Digul)  membentuk dia menjadi seorang yang konsisten dan tahan uji.

Berbagai tekanan dan kesulitan hidup terhadap dirinya dan keluarganya di tanah pembuangan Kamp Konsentrasi  Tanah Merah dan Tanah Tinggi sama sekali tidak membuatnya bergeming sedikitpun terhadap perjuangannya  untuk Kemerdekaan Indonesia.

Konsistensi sikap Kadiroen ini tercermin dalam kata-kata yang dia tuliskan di halaman 192 : “…………sedikitpun tidak pernah terlintas dalam pikiran atau angan-angan ingin mengabdikan diri kepada yang berkuasa, baik dengan alasan taktik  atau siasat atau entah apa lagi, dengan harapan supaya diampuni. Yang ada adalah tekad ingin mencoba menjalani sampai bagaimana akhirnya lakon saya ini.  Ibarat orang berjalan saya akan berjalan terus sampai ujung perjalanan. Sampai ke batas…..”/

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Profile

Sekapur Sirih Seulas Pinang, Sebait Rindu dari Tepian Teluk

JAKARTA, Bisnistoday-Waktu mungkin terus berjalan menjauh, tapi kenangan selalu punya cara untuk...

Mendikdasmen
Profile

Abdul Mu’ti Berbagi Kisah Perjalanan dari Anak Desa hingga Menteri

SURABAYA, Bisnistoday  - Sesi kelas inspiratif yang menjadi bagian dari rangkaian Puncak...

Profile

Fadhly Rafiansyah, Mahasiswa Terbaik UPI yang Berhasil Bangun Karier Sebelum Lulus

BANDUNG, Bisnistoday - Menjadi mahasiswa terbaik tidak pernah direncankan oleh Muhammad Fadhly...

Suporter Portugal (dok: Unsplash/Omar Ramadan)
OPINISport & Health

Melihat Sepak Bola dari Kacamata Ilmu Budaya

PADA umumnya, masyarakat memandang Piala Dunia sebatas rivalitas antarnegara.  Yang ingin orang...