BANDUNG, Bisnistoday – Pemerintah Kota Bandung mulai memperluas layanan kesehatan mental dengan membuka pelayanan psikologi klinis di 12 puskesmas. Program ini menjadi bagian dari upaya Pemkot Bandung dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan konseling dan penanganan kesehatan mental.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, kehadiran layanan psikologi klinis tersebut merupakan tindak lanjut dari Permenkes Nomor 19 Tahun 2024 yang mengatur keberadaan tenaga psikologi klinis di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
“Di setiap UPTD atau puskesmas ini ada pelayanan psikologi klinis untuk konseling. Saat ini sudah tersedia di 12 puskesmas di Kota Bandung,” ujar Farhan, dalam keterangannya, Kamis (14/5/2026).
Baca Juga:Holiday Inn Bandung Pasteur Hadirkan Promo Long Weekend Escape untuk Liburan Singkat di Bandung
Acara peluncuran layanan psikologi klinis di 12 UPTD Puskesmas Kota Bandung, pada Selasa, 12 Mei 2026.

Adapun 12 puskesmas yang telah membuka layanan tersebut yakni Puskesmas Babakan Sari, Garuda, Cibuntu, Cipamokolan, Kopo, Puter, Padasuka, Ibrahim Adjie, Sukarasa, Pasirkaliki, Salam, dan Cipadung.
Farhan menjelaskan, setiap puskesmas nantinya akan memiliki satu psikolog klinis yang melayani konsultasi pada hari kerja. Dalam sehari, satu psikolog ditargetkan dapat melayani hingga 10 pasien.
Menurutnya, layanan kesehatan mental kini menjadi kebutuhan penting karena kasus stres dan gangguan psikologis di Kota Bandung terus mengalami peningkatan.
Bahkan, kondisi tersebut mulai banyak ditemukan pada usia produktif hingga anak-anak sekolah.
“Salah satu indikator yang cukup mengkhawatirkan adalah adanya kasus percobaan bunuh diri yang terus muncul. Ini harus menjadi perhatian serius,” katanya.
Selain memperkuat layanan konseling, Pemkot Bandung juga mulai melakukan langkah pencegahan di sejumlah titik yang dianggap rawan menjadi lokasi percobaan bunuh diri.
Namun demikian, Farhan menilai penguatan layanan kesehatan mental di fasilitas kesehatan tetap menjadi langkah utama.
Ia menuturkan, penunjukan 12 puskesmas pada tahap awal bukan berdasarkan jumlah penduduk, melainkan kesiapan fasilitas dan ruang layanan yang memenuhi standar privasi.
“Layanan psikologi klinis membutuhkan ruang dengan privasi yang baik supaya masyarakat merasa aman dan nyaman saat berkonsultasi,” ungkapnya.
Farhan juga menilai tekanan ekonomi dan persoalan sosial menjadi salah satu faktor yang memicu meningkatnya gangguan kesehatan mental di tengah masyarakat. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih terbuka terhadap persoalan kesehatan mental dan tidak ragu mencari bantuan profesional.
Layanan psikologi klinis tersebut terbuka untuk masyarakat umum, baik warga Kota Bandung maupun luar daerah. Menurut Farhan, fasilitas kesehatan harus dapat diakses siapa saja yang membutuhkan pendampingan psikologis.
Ia pun mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mental melalui komunikasi dan dukungan sosial di lingkungan sekitar.
“Mulailah dengan bercerita, mencari teman ngobrol, dan mendekatkan diri melalui ibadah,” tuturnya.E2


