JAKARTA, Bisnistoday – Di sebuah kawasan permukiman kumuh di Delhi selatan, India, Afshana Khatoon tampak lelah. Ia lalu berjongkok dan mulai menyalakan tumpukan kecil kayu bakar.
Perempuan itu baru saja kembali setelah enam jam berjalan kaki menyusuri hutan kota dan taman-taman kering ibu kota India ,untuk mencari kayu bakar guna membuat kompor darurat.
Ia telah berjalan bermil-mil, menumpuk ranting dan dahan yang jatuh menjadi satu bundel di atas kepalanya. Matahari musim panas menyengat di atas kepala. Butiran keringat menetes di wajahnya.
Beberapa pekan lalu, perempuan berusia 35 tahun itu dapat menyiapkan makanan untuk keempat anaknya di atas kompor gas kecil tanpa banyak kesulitan. Namun, karena krisis di Timur Tengah, pasokan vital gas minyak cair (LPG) impor India yang digunakan oleh lebih dari 60% penduduk negara itu untuk memasak, menjadi langka. Kalau pun ada, harganya jauh di luar kemampuan daya beli masyarakat umum.
Khatoon, seperti banyak orang di India lainnya dan di juga seluruh Asia, terpaksa memasak dengan bahan bakar mentah dan kotor seperti kayu bakar dan batu bara untuk bertahan hidup.
“Rasanya seperti neraka,” katanya, sembari sibuk mengisi panci dengan air. “Saya tidak makan dengan benar, dan saya harus bekerja jauh lebih berat daripada sebelumnya. Sepanjang hari saya sekarang hanya mengumpulkan kayu bakar dan memasak.”
Menurut Guardian kembalinya penggunaan bahan bakar seperti kayu bakar dan batu bara tidak hanya memperdalam tekanan ekonomi akibat perang terhadap warga sipil di berbagai negara di Asia, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran tentang kesehatan masyarakat, polusi udara, dan kerapuhan transisi energi.
India mengimpor sekitar 60% kebutuhan LPG-nya, di mana sekitar 90% biasanya datang melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang masih diblokir di tengah konflik antara Iran dan AS.
Data resmi menunjukkan konsumsi LPG India turun sebesar 2,2 juta ton pada bulan April, penurunan paling tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Di tengah konflik ini, harga gas untuk memasak di pasar informal, melonjak. Khatoon mengatakan keluarganya tak lagi mampu beli LPG. “Suami saya berpenghasilan 400 hingga 500 rupee sehari. Kami tidak bisa menghabiskan 1.000 rupee hanya untuk gas selama seminggu,” katanya.
Meskipun pemerintah India bersikeras tidak ada kelangkaan, dalam pidato minggu ini, perdana menteri, Narendra Modi, menyerukan kepada masyarakat untuk berhemat, termasuk membatasi penggunaan bahan bakar dan bensin.
Polutan Berbahaya
Kembalinya penggunaan biomassa menimbulkan kekhawatiran tentang kualitas udara di kota-kota di seluruh wilayah tersebut. Bahan bakar padat seperti kayu dan arang membawa berbagai risiko kesehatan dan lingkungan.
Bahan bakar tersebut mengeluarkan sejumlah polutan berbahaya yang dapat menimbulkan masalah kesehatan, seperti penyakit paru obstruktif kronis dan kanker paru-paru, stroke, dan penyakit jantung.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia gabungan efek polusi udara ambien dan polusi udara rumah tangga disinyalir berdampak terhadap 6,7 juta kematian prematur setiap tahunnya. Ironisnya, perempuan dan anak-anak, yang sering melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak atau mengumpulkan kayu bakar, termasuk yang paling rentan.//

