JAKARTA, Bisnistoday – Kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin dinilai masih cenderung spekulatif. IHSG ditutup pada level 8.031,87 dengan kenaikan sebesar 96,61 poin setara 1,22 persen pada perdagangan Senin (9/2). Sejumlah saham yang dinilai memiliki risiko tinggi menjadi penopang penguatan.
Analis Senior PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto menguraikan, penguatan IHSG kemarin kami nilai bersifat spekulatif, karena terutama ditopang saham-saham berisiko tinggi seperti DSSA, EMAS, dan BRMS. Sedangkan, saham-saham berfundamental kuat di sektor perbankan justru terkoreksi.
“Investor asing masih melanjutkan aksi jual di saham BBCA, dengan net sell kemarin sekitar IDR715miliar, disusul BBRI sekitar IDR264miliar. Net buy asing terbesar tercatat di ANTM, sekitar IDR118 miliar.”
Rully menambahkan, di pasar pendapatan tetap, imbal hasil SBN 10 tahun kembali naik, sementara Rupiah justru terapresiasi ke sekitar IDR16.803 per dolar AS. Pergerakan ini sejalan dengan penurunan indeks Dolar (DXY) ke sekitar 97,3 dan kenaikan imbal hasil UST 10 tahun ke kisaran 4,22%, yang mendorong kenaikan term premium global.
“Sentimen penurunan outlook utang Indonesia serta pembekuan rebalancing indeks masih membayangi pasar domestik dan berkontribusi pada selektivitas investor asing terhadap aset berisiko.”
Pasar Cermati Sejumlah Isu
Jessica Tasijawa, analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menuturkan, sejumlah isu yang menarik dicermati seperti Pemerintah Tiongkok secara lisan mengarahkan bank-bank besar untuk membatasi pembelian US Treasuries.Tiongkok juga mengurangi eksposur yang dinilai berlebihan, sebagai langkah manajemen risiko di tengah volatilitas pasar yang meningkat, bukan sebagai sinyal geopolitik.
Kebijakan ini, menurut Jessica, mencerminkan kekhawatiran atas risiko konsentrasi pada utang AS di tengah ketidakpastian fiskal dan pergeseran kebijakan The Fed. Meski tidak mencakup kepemilikan resmi negara, arahan tersebut menandakan kecenderungan diversifikasi bertahap yang dapat menekan permintaan marjinal terhadap obligasi AS.
Reaksi pasar sejauh ini terbatas, namun langkah ini menambah kekhawatiran global terhadap disiplin fiskal AS dan memperkuat tren pergeseran struktural menuju diversifikasi cadangan berbasis multi-aset.
Indeks Keyakinan Konsumen
Sementara, lanjut Jessica, dari sisi isu lokal, bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia naik tipis +0,3% MoM menjadi 126,97 pada Januari 2026, didukung oleh realisasi stimulus fiskal yang bersifat backloaded, meskipun secara tahunan turun -0,2% YoY (dibandingkan 127,17 pada Januari 2025).
Kepercayaan kelas menengah mencatat penurunan terdalam sebesar -5,72% YoY, diikuti oleh kelompok aspiring middle class dan rumah tangga berpendapatan rendah. Sikap kehati-hatian masih dominan, tercermin dari rasio kecenderungan konsumsi yang turun ke rekor terendah 72,3 (dari 74,3 pada Desember 2025).
Sementara, tambah Jessica, rasio tabungan terhadap pendapatan meningkat menjadi 16,5% (dari 14,9%). Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga masih memprioritaskan penguatan buffer keuangan di tengah ketidakpastian ekonomi.
Ia menambahkan, rupiah menguat +0,4% ke level IDR16.806, mencerminkan intervensi aktif Bank Indonesia, terlihat dari lelang SRBI yang kuat untuk menyerap likuiditas berlebih guna menstabilkan nilai tukar. Menariknya, meskipun nilai tukar menguat, imbal hasil SBN tenor 10 tahun justru naik ke 6,47%, didorong oleh sentimen investor yang masih berhati-hati.//



