www.bisnistoday.co.id
Jumat , 23 Oktober 2026
Home EKONOMI Perekonomian Sulit Tumbuh Jika Kondisi Geopolitik Tak Stabil
EKONOMIEkonomi & Bisnis

Perekonomian Sulit Tumbuh Jika Kondisi Geopolitik Tak Stabil

SULIT TUMBUH: Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana mengatakan, kondisi geopolitik yang tak kunjung mereda bisa menyebabkan pelaku usaha tidak tenang dalam menjalankan kegiatan usahanya. Kondisi yang tidak stabil ini akan membuat perekonomian sulit tumbuh
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday- Kondisi geopolitik yang tak kunjung mereda bisa menyebabkan pelaku usaha tidak tenang dalam menjalankan kegiatan usahanya. Kondisi yang tidak stabil ini akan membuat perekonomian sulit tumbuh.

Hal tersebut dikatakan Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana dalam webinar bertajuk “Prospek Pemulihan Ekonomi Indonesia di Tengah Perubahan Geopolitik Pasca Pandemi” yang dipantau di Jakarta, Rabu (3/8).

Hikmahanto menilai meski saat ini dunia baru saja selesai dari pandemi Covid-19, meski belum sepenuhnya, masih ada kondisi-kondisi geopolitik yang cukup mempengaruhi stabilitas ekonomi dunia.

Kondisi tersebut di antaranya perang antara Ukraina dan Rusia, serta gesekan antara China dan Taiwan yang baru-baru ini terjadi.

Rektor Universitas Jenderal A Yani itu mengkhawatirkan respon Pemerintah China yang mungkin akan membentuk operasi militer khusus terhadap Taiwan. Hal itu serupa dengan yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina.

“Kalau ini terjadi, maka kawasan kita, yang akan terdampak sangat luar biasa. Kawasan kita yang kemudian akan bergejolak dan pelaku bisnis itu tidak akan melakukan usaha mereka dengan tenang,” ujarnya.

Hikmahanto pun menilai perang antara Rusia dan Ukraina masih menjadi salah satu hal yang akan mempengaruhi ekonomi global.

Namun, menurut dia, situasi di Ukraina dan Rusia mulai mencatatkan progres menuju perdamaian. Hal itu ditandai dengan adanya kesepakatan soal rantai pasok pangan yang tidak akan diganggu Rusia.

Menurut Hikmahanto, kesepakatan tersebut juga merupakan buah dari kunjungan Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia beberapa waktu lalu.

Ia menyebut meski Presiden Jokowi tidak secara gamblang meminta gencatan senjata, namun Kepala Negara menyampaikan apabila perang terus terjadi, maka negara berkembanglah yang jadi pihak yang sangat menderita karena terganggunya rantai pasok pangan. Miliaran orang di negara berkembang akan kesulitan mendapatkan pasokan pangan.

“Ini kecerdasan Presiden dalam meminta gencatan senjata, bagaimana dia membungkus isu gencatan senjata dengan isu yang lebih besar yaitu krisis kemanusiaan dan alhamdulillah sudah ditindaklanjuti Sekjen PBB dan Turki, ada kesepakatan pasokan gandum dari Ukraina tidak diganggu Rusia,” kata Hikmahanto./

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Pemasangan Keramik
Ekonomi & Bisnis

Pasokan Gas dan Pengetatan Impor Untuk Lindungi Industri Keramik Nasional

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menegaskan komitmen pemerintah untuk...

Peluncuran Premier One di Bunga Rampai, Jakarta pada Selasa (21/10/2026). Foto: Zahwah Alya Annisa
Ekonomi & Bisnis

Premier One Perkuat Layanan Pengelolaan Kekayaan dan Mendukung Setiap Ambisi Nasabah

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – PT Bank OCBC NISP Tbk. (OCBC) memperkenalkan Premier One...

Mal Ciputra
Ekonomi & Bisnis

Mahasiswa Universitas Ciputra Jakarta Dalami Strategi Dunia Bisnis Ritel Di Mal Ciputra Jakarta

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Mal Ciputra Jakarta menerima kunjungan 45 mahasiswa dan 2...

Logo BI
Ekonomi & Bisnis

Pengamat: BI Rate Berpeluang Ditahan di 5,75 Persen, Kenaikan Jadi Opsi Jika Tekanan Rupiah Berlanjut

JAKARTA, Bisnistoday.co.id– Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menahan suku bunga acuan atau...