www.bisnistoday.co.id
Senin , 28 September 2026
Home EKONOMI Ekonomi Rakyat Perkebunan Sawit Memberikan Multiplier Effect Positif
Ekonomi Rakyat

Perkebunan Sawit Memberikan Multiplier Effect Positif

Social Media

MEDAN, Bisnistoday – Guru Besar bidang Ekonomi Pertanian Universitas Sumatra Utara (USU) Prof Dr Diana Chalil menegaskan, budidaya tanaman kelapa sawit pada lahan yang tepat akan menjadi kunci pemulihan ekonomi pasca bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Dibandingkan komoditas lainnya, perkebunan sawit memberikan multiplayer effect positif yang lebih besar baik secara sosial, ekonomi, maupun lingkungan.

“Manfaat lingkungan tidak (selalu) lagi trade-off dengan manfaat ekonomi. Kita belajar pasca bencana tsunami di Aceh tahun 2004, sawit menjadi preferensi petani karena menguntungkan. Perkebunan sawit rakyat banyak dari konversi komoditi lain,” kata Prof Diana Chalil dalam Diskusi Ilmiah Dialektika Sawit Indonesia di Kampus USU, Selasa (10/2).

Prof Diana yang juga peneliti pada Consortium Studies on Smallholder Palm Oil (CSPO) mengatakan, baik secara nasional maupun regional pada daerah yang tertimpa bencana alam akhir tahun lalu, peran industri sawit sangat signifikan terhadap perekonomian. Karena itu, untuk memulihkan kondisi ekonomi pasca bencana, budidaya tanaman kelapa sawit menjadi pilihan yang paling efektif.

“Dari total pendapatan devisa nasional, 73,83% disumbang oleh sektor pertanian. Dan subsektor pertanian yang memberikan kontribusi devisa terbesar adalah ekspor minyak sawit,” kata Diana dalam Diskusi Ilmiah bertema “Perubahan Iklim Global Sebagai Pemicu Bencana di Sumatra” tersebut.

Secara regional, kata Diana, sawit juga menjadi komoditas penyumbang devisa ekspor terbesar dari Aceh. Sementara di Sumatra Utara, sawit adalah komoditas penyumbang devisa terbesar ketiga.

“Dari sisi penyerapan tenaga kerja, secara nasional mencapai 16,5 juta orang pada 2024 yang terdiri dari
tenaga kerja langsung dan tidak langsung. Ini masih belum memperhitungkan tenaga kerja yang terserap pada sektor hulu, hilir, dan
jasa terkait dalam sistem dan usaha agribisnis sawit,” tegas Prof Diana.

Dari penelitian Prof Diana dan tim di CSPO, terjadi peningkatan pendapatan yang signifikan pada masyarakat di Sumatra Utara setelah melakukan budidaya kelapa sawit. Misalnya di Kecamatan Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan, pendapatan masyarakat meningkat dari rata-rata Rp 31,8 juta per tahun menjadi Rp 42,1 juta.

“Sawit merupakan komoditi yang
berperan penting bagi perekonomian Indonesia. Sawit berpotensi untuk pemulihan ekonomi Sumut dan Aceh. Karena itu perlu dikelola dengan baik agar upaya pemulihan dapat berjalan konsisten dan mencapai hasil yang diharapkan,” kata Prof Diana.

Kata Diana, perkebunan sawit bukanlah penyebab bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat akhir tahun lalu. Namun ke depan, tata kelola perkebunan kelapa sawit harus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga memberikan manfaat ekonomi dan tidak memberikan dampak buruk secara ekologis. “Bukan hanya luas tetapi di mana. Bukan hanya kemampuan lahan, tetapi keseimbangan landscape. Bukan hanya bisa diproduksi tetapi juga bisa dijual dengan harga baik,” kata Diana.

Sementara itu, Ketua Umum RSI (Rumah Sawit Indonesia) Kacuk Sumarto, menegaskan bahwa perekonomian wilayah terdampak bencana seperti Aceh dan Sumatra Utara sangat bergantung kepada industri sawit. Karena itu, tidak mungkin ditinggalkan. Hanya saja, tata kelola sektor pertanian dan perkebunan harus memperhatikan aspek kesesuaian lahan dengan komoditas yang akan ditanam.

“Jika aspek ekofisiologis diperhatikan, maka perkebunan sawit di seluruh Indonesia akan berkembang di tengah ekosistem lingkungan yang berkelanjutan,” kata Kacuk yang hadir sebagai peserta dalam Diskusi Ilmiah “Dialektika Sawit Indonesia: Perubahan
Iklim Global Sebagai Pemicu Bencana di Sumatra” di USU, Selasa (10/2).

Kacuk mengatakan, perkebunan sawit di Sumatra Utara sudah ada sejak lebih satu abad. Dan selama itu, kondisi lingkungan di sekitar perkebunan sawit tetap terjaga dengan baik. Namun perubahan iklim yang terjadi saat ini menjadi tantangan baru bagi pelaku sektor perkebunan dan pertanian.

“Bagaimana dampak ekonomi yang positif tetap kita terima, tetapi risiko ekologisnya bisa diminimalkan,” kata Kacuk. (*)

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Ekonomi Rakyat

PT Maal Luncurkan Program Khusus UMKM: Wujudkan Pedagang Kelas Gerobak Hingga Menjadi Franchise

BOGOR, Bisnistoday- Direktur Utama PT Maal, Maryadi Aryo Laksmono, meluncurkan program khusus...

Teh PalmCo Dominasi Penghargaan Utama National Tea Competition 2026 (dok:PTPN)
Ekonomi Rakyat

Teh PalmCo Dominasi Penghargaan Utama National Tea Competition 2026

JAKARTA, Bisnistoday - Holding Perkebunan PTPN III (Persero) melalui Sub Holding PTPN...

Ekonomi Rakyat

Herbasiana Nutrindo Siap Mengincar Pasar Ekspor, Dari Desa Ngradin untuk Dunia

BOJONEGORO, Bisnistoday - Apabila dulu daun kelor di Bojonegoro hanya berakhir sebagai...

Sejumlah produk Coucou yang dijual di IIPE 2026 ICE BSD. (Dok.Rava)
Ekonomi Rakyat

Coucou Optimistis Capai Target di IIPE 2026

JAKARTA, Bisnistoday – Produsen khusus makanan hewan peliharaan (anabul) Coucou optimistis bisa...