www.bisnistoday.co.id
Jumat , 19 Juni 2026
Home EKONOMI Ekonomi & Bisnis PMI Manufaktur Tercatat Melemah Ditengah Gejolak Global
Ekonomi & Bisnis

PMI Manufaktur Tercatat Melemah Ditengah Gejolak Global

Pabrik Pakaian
PEKERJA PABRIK Pakaian , belum lama ini./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Kemenperin mencatat terjadi sedikit penurunan Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia. Pada Mei 2024, PMI Manufaktur yang berada di level 52,1 atau mengalami perlambatan dibanding bulan sebelumnya yang berada di posisi 52,9. Pelambatan ini dipandang masih cukup solid, ditengah rentanya gejolak ekonomi global.

“Kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada para pelaku industri nasional yang hingga Mei masih bisa mempertahankan kinerja PMI tetap dalam fase ekspansi. Performa positif ini membukukan selama 33 bulan berturut-turut kita konsisten di level ekspansi,” kata Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif di Jakarta, Senin (3/6).

Jubir menjelaskan, aktivitas produksi sektor industri yang menurun karena anjloknya pesanan dari luar negeri dan juga kekhawatiran pengurangan pesanan dalam negeri pada waktu mendatang. Kondisi ini berkaitan langsung kebutuhan tenaga kerja industri.

PMI Manufaktur Indonesia pada Mei 2024 mampu melampaui PMI Manufaktur Jerman (45,4), Prancis (46,7), Vietnam (50,3), Jepang (50,4), Taiwan (50,9), Amerika Serikat (50,9), Inggris (51,3), Korea Selatan (51,6), China (51,7), dan Filipina (51,9).

Namun demikian, Kemenperin menengarai adanya perlambatan PMI Manufaktur Indonesia pada Mei. Hal ini bisa dipengaruhi oleh regulasi yang dianggap tidak probisnis kepada para pelaku industri dalam negeri, misalnya penerbitan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 8 Tahun 2024 tentang Perubahan Ketiga atas Permendag No 36/2023 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor.

“Walaupun PMI kita masih solid dan sehat, tetapi sudah mulai turun. Kami khawatir penurunan ini sebagian disebabkan oleh regulasi yang tidak pro ke pelaku industri, yang dianggap kurang bersahabat dengan sektor manufaktur, salah satunya Permendag No. 8/2024, sehingga mempengaruhi optimisme pelaku industri dalam negeri,” papar Febri.

Sentimen Negatif

Kemenperin akan terus berupaya agar Permendag 8/2024 tidak membawa sentimen negatif yang lebih dalam bagi pelaku industri manufaktur di Indonesia, sehingga PMI bulan depan tidak akan merosot lagi. “Kami sudah menerima masukan dari banyak asosiasi sektor industri yang menyatakan keberatannya atas penerapan Permendag 8/2024, dan itu pun sudah disampaikan mereka kepada publik oleh masing-masing asosiasi,” tuturnya.

Selain itu, karut marut dari implementasi kebijakan harga gas bumi tertentu (HGBT) untuk industri, juga akan membawa dampak penurunan PMI atau kepercayaan diri dari pelaku manufaktur di tanah air. Padahal fasilitas HGBT menjadi stimulus penting untuk meningkatkan produktivitas industri dan menarik investasi masuk ke Indonesia.

“Banyak sekali calon investor yang menunggu apakah kebijakan HGBT USD6 per MMBTU untuk industri ini akan dilanjutkan atau tidak? Karena insentif ini sangat menarik bagi mereka, sebagai salah satu kunci untuk bisa berdaya saing,” jelasnya.

Menanggapi capaian PMI Manufaktur Indonesia pada Mei 2024, Paul Smith selaku Economics Director S&P Global Market Intelligence mengatakan bahwa data survei bulan Mei menunjukkan kinerja solid di sektor manufaktur Indonesia. Hal ini didorong oleh perolehan output dan permintaan baru.

“Permintaan pasar juga bertahan positif, meski sebagian besar didukung oleh klien domestik karena manufaktur global terus menunjukkan penurunan kinerja untuk permintaan ekspor baru,” jelasnya. Meski pertumbuhan bertahan positif, terlihat tandatanda akan memburuk. Kepercayaan diri para pelaku industri turun ke posisi terendah selama lebih dari empat tahun./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Pameran Konstruksi
Ekonomi & Bisnis

PT AMBPI Bakal Ramaikan Ajang Indo Build Tech 2026

JAKARTA, Bisnistoday - PT Adiwisesa Mandiri Building Products Indonesia kembali berpartisipasi dalam...

Logo BI
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Bank Indonesia Lanjutkan “Rally” BI Rate Menjadi 5,75 Persen

JAKARTA, Bisnistoday - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung 17-18...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Kementerian UMKM Tingkatkan Kemampuan Digitalisasi Pengusaha Mikro

BALIKPAPAN, Bisnistoday – Kementerian UMKM memberikan pelatihan digitalisasi kepada pengusaha mikro melalui...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Lima Isu Krusial dalam RUU Perkoperasian, Salah Satunya Pembentukan LPS Koperasi

JAKARTA, Bisnistoday - Pemerintah dan DPR memulai pembahasan tingkat pertama Rancangan Undang-Undang...