WASHINGTON, Bisnistoday – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku telah menyepakati perdamaian atau mengakhiri perang dengan Iran. Penandatangan kesepakatan pengakhiran perang ditangani pada Minggu, waktu setempat. Hal tersebut diungkapkan oleh Presiden Trump melalui platform Tuth Social, kemarin. “Kesepakatan tersebut dijadwalkan akan ditandatangani besok,” tulis Trump, Sabtu kemarin.
Terkait ketegangan di Selat Hormuz, Presiden Trump akan segera membuka kembali melalui kesepakatan yang ditandatanganinya.
“Faktanya, mereka (Iran) tidak lagi menginginkan senjata nuklir, dan mereka juga tidak akan memilikinya, baik melalui pembelian, pengembangan, maupun cara perolehan lainnya,” dalam ungkapkan Trump.
Bagi Trump, hubungan antara Iran dan AS kini berbeda namun akan lebih baik dibandingkan masa pemerintahan AS sebelumnya.“jauh berbeda dan lebih baik.”
Kedepan dalam cuitan Trump, bahwa Amerika Serikat akan berupaya mengambil debu nuklir ketika sudah memasuki waktu yang dianggap tepat dan tenang. Hanya saja, bagi Trump kesepatan damai ini, tidak memperbincangkan transfer dana Amerika Serikat kepada Iran.
“Berbeda dengan pembayaran ratusan miliar dolar yang diberikan kepada mereka pada masa (mantan Presiden AS Barack) Obama, termasuk 1,7 miliar dolar AS dalam bentuk uang tunai, tidak akan ada uang yang berpindah tangan,” cetus Trump.
Perdagangan di Selat Hormuz
Analisis Channel News Asia (CNA) menyebutkan, konflik yang telah berlangsung lebih dari 100 hari ini, telah mengganggu jalannya perdagangan melalui Selat Hormuz (titik penting untuk pasokan minyak dan gas yang menuju Asia), sehingga memocu biaya tambahan tidak hanya bahan bakar dan material berbasis minyak bumi, tetapi juga barang-barang lain di sejumlah wilayah.
Bagi kontraktor Malaysia Sukumar Subrayalu, pendiri dan direktur pelaksana Sugu Construction, dampak konflik di Timur Tengah ini sangat besar. Harga bitumen, material utama yang digunakan dalam pembangunan dan pengerasan jalan, misalnya, telah melonjak sekitar 70 persen dari sekitar RM1.700 (US$430) menjadi hampir RM2.900 per ton, sementara harga solar telah melonjak lebih dari 80 persen, katanya kepada CNA.
“Para pemasok terpaksa merevisi harga atau menekan kontraktor yang sudah terikat dalam perjanjian untuk tidak menaikkan harga,” ujar Sukumar.“Meskipun pasokan masih tersedia, kontraktor menghadapi tantangan dalam penganggaran dan perkiraan biaya karena harga dapat berubah dalam waktu singkat,” imbuhnya./ant/

