www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 26 September 2026
Home EKONOMI Waspada, Resesi Ekonomi Kian Mengancam
EKONOMIEkonomi & Bisnis

Waspada, Resesi Ekonomi Kian Mengancam

GELORA TALKS : Ahmad Nur Hidayat, dalam Gelora Talks bertajuk : Waspada ! Resesi Ekonomi 2023 Mengingatai. Bagaimana Kesiapan Indonesia? secara daring di Jakarta, Rabu Sore (19/10).
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah diminta serius menghadapi persoalan memburuknya perekonomian global yang mengancam ekonomi nasional. Pemerintah selayaknya tidak memandang ekonomi dalam kondisi baik-baik saja. Puluhan negara di dunia sudah menjalani masa krisis ekonomi. 

Ahmad Nur Hidayat, Ketua Bidang Kebijakan Publik, DPN Partai Gelora Indonesia mengatakan, IMF memprediksi sekitar 31 negara akan mengalami krisis dari perputaran ekonomi dunia. FIT rating juga memperkirakan Amerika Serikat bakal memasuki masa krisis paling lambat Maret 2023. Tidak jauh berbeda dengan kondisi perekonomian Tiongkok yang juga mengalami perlambatan dengan pertumbuhan satu digit yang seperti biasanya double digit.

“Sejumlah negara tersebut, merupakan negara tujuan ekspor Indonesia. Tentu ini bakal mengalami guncangan. Investor nomer dua untuk Indonesia yakni cina juga bakal segera memasuki resesi,” terang Ahmad Nur Hidayat, dalam Gelora Talks bertajuk : Waspada ! Resesi Ekonomi 2023 Mengingatai. Bagaimana Kesiapan Indonesia? secara daring di Jakarta, Rabu Sore (19/10).

Baca juga : Anis Matta: Islam Sudah Ajarkan Cara Mengatasi Krisis

Sementara, Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad menguraikan, bahwa kondisi sekarang ekonomi nasional tidak aman dan tekait hal ini pemerintah telah memberikan sinyalemen terhadap masyarakat, dunia usaha serta pemerintah daerah. “Diperkirakan ekonomi 2023 masih mendung,” cetusnya. 

Tauhid menuturkan, ada beberapa indikasi diantaranya, krisis perang Rusia Ukraina masih belum reda. Ini mendorong suplai gas ke Eropa jauh menurun, sedangkan masih ada kecenderungan kenaikan suku bunga global.”Amerika Serikat juga mengalami situasi yang sama,” ujarnya. 

Permintaan masarakat di Inggris terhadap konsumsi terus meningkat, dengan diiringi inflasi yang berkepanjangan. Untuk bank sentral AS (The Fed) juga tidak mampu membendung naiknya suku bunga. Seperti diketahui The Fed ini, sebagai rujukan bank sentral berbagai engara. “Saya kira bunga The Fed ini, mencari titik tengah sekitar 4,5% atau naik lagi sebesar 100 bps untuk meredam inflasi yang terus meninggi,” tuturnya. 

Waspada Pelemahan Rupiah

Tentu saja, suku bunga Bank Indonesia serta perbankan nasional juga tentu bakal mengimbangi kondisi ini. Kalau tidak capital outflow bakal melonjak. Ini tentu berdampak terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar yang melemah. “Bagi perusahaan yang memiliki utang tinggi, baka sangat berisiko,”

Tauhid memperkirakan sekitar akhir tahun masih ada ruang naik suku bunga BI sekitar 25-50 bps. Untuk tahun depan, masih terbuka adanya peluang untuk menaikkan suku bunga lagi. Ini tentu membawa dampak terhadap cost of fund yang tinggi. 

Menjadi persoalan juga, apabila tingkat ekspor tahun depan juga menurun. Beberapa harga komoditas dunia seperti kelapa sawit sekarang sudah menurun, sedangkan harga batubara diperkirakan masih tetap tinggi, meski ada sedikit peluang penurunan.”Kemungkinan surplus tetap ada tapi menipis, bahkan ada kecenderungan deficit ekspor,” terangnya.

Capital Outflow Makin Deras 

Menurut M Tauhid, kondisi perekonomian global yang tidak baik-baik saja ini, akan berdampak langsung terhadap sektor pariwisata seperti turis Eropa dan Amerika Serikiat dan sejumlah negara lainnya. Hal ini perlu dilakukan upaya khusus untuk mengatasinya. 

“Pasar keuangan global bakal turun, capital outflow meningkat dan kondisi Indonesia tidak baik-baik saja,” terangnya.

Dalam perkembangan investasi untuk FDI, sekarang cenderung turun. IMF memprediksikan tingkat inflasi tahun ini sekitar 4,6% akan meningkat menjadi 5,5%. Sedangkan pertumbuhan ekonomi tahun depan sekitar 5% dari tahun ini masih diperkirakan sekitar 5,3%. 

“Ya tentu harus mencari alternative tujuan ekspor, sedangkan keuangan global (global player) mencari yield yang tinggi. Nah, obligasi pemerintah juga harus mengimbangi dengan tingkat kupon rate sekitar 7-8% tahun depan,” tuturnya./

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Ekonomi & Bisnis

Hartadinata Perkuat Pasokan Emas melalui Kerja Sama Pembelian Emas Murni dengan PT Freeport Indonesia

BANDUNG, Bisnistoday– PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) memperkuat bisnis bullion melalui kerja...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

KDKMP Akan Menjadi Agen dan Distributor Barang Bersubsidi

JAKARTA, Bisnistoday –Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) akan menjadi simpul distribusi barang...

Ekonomi & Bisnis

ProtoArc Indonesia Hadir di CIEIE 2026, Tawarkan Workspace Ergonomis

JAKARTA, Bisnistoday - China (Indonesia) International E-Commerce Industry Expo 2026 (CIEIE 2026)...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

KemenUMKM Andalkan Lembaga Inkubator Bangun Ekosistem Kewirausahaan

SURABAYA, Bisnistoday–Kementerian UMKM mengandalkan lembaga inkubator sebagai ujung tombak memperkuat ekosistem kewirausahaan...