www.bisnistoday.co.id
Jumat , 1 Mei 2026
Home EKONOMI Rizal Ramli : Hari ini Sudah Krisis Bukan Tahun Depan
EKONOMIEkonomi & Bisnis

Rizal Ramli : Hari ini Sudah Krisis Bukan Tahun Depan

GELORA TALKS : Ekonom Senior dan Tokoh Nasional, Rizal Ramli dalam Gelora Talks bertajuk : Waspada ! Resesi Ekonomi 2023 Mengingatai. Bagaimana Kesiapan Indonesia? secara daring di Jakarta, Rabu Sore (19/10).
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah diminta ambil kebijakan yang revolusioner agar Indonesia tidak masuk ke jurang krisis lebih dalam. Hutang pemerintah yang menggunung dengan pengeluaran yang jor-joran jadi ancaman krisis lebih dalam. 

Ekonom Senior dan Tokoh Nasional, Rizal Ramli mengatakan, negeri ini sedang sakit sehingga harus segera dibenahi dari puncaknya dan tidak ditengah dan bawah. Badai krisis ini sebenarnya sudah terjadi saat ini. 

“Hari ini sudah krisis, bukan tahun depan. Ketika krisis 1998, saya sudah mengingatkan saat itu, sejak Oktober 1996, tapi dibantah IMF dan Bank Dunia, demikian juga Menkeu dan Bank Indonesia,” tutur Rizal Ramli, dalam Gelora Talks bertajuk : Waspada ! Resesi Ekonomi 2023 Mengingatai. Bagaimana Kesiapan Indonesia? secara daring di Jakarta, Rabu Sore (19/10).

Rizal mengatakan, dibanding krisis tahun 1998, perusahaan swasta yang mengalami krisis, sedangkan hutang negara terkendali. Swasta tak mampu bayar utang sehingga harus default dan rupiah anjlok.

Krisis sekarang berbeda, bahwa utang swasta relative terkendali, dan diuntungkan dengan kenaikan harga komoditas global. Swasta yang bergerak di komoditas batubara atau kelapa sawit menikmati untung besar. “Mereka kaya raya, dan berpesta,” tukasnya. 

Namun, menurut Rizal Ramli, kondisi utang pemerintah yang terlalu berlebihan. Membayar bunganya saja sudah tidak sanggup. Sekarang hutang pokok dan bunga sekitar Rp805 triliun bahkan dengan kondisi sekarang ini bisa tembus Rp830 triliun. “Gali lubang tutup jurang,” cetusnya. 

Rizal mengatakan, pengeluaran negara sudah jor-joran dengan ditutupi pembayaran melalui obligasi dan terus terbitkan surat utang. Bahkan dengan utang tinggi ini, rakyat harus dikorbankan dengan kenaikan harga barang public, kenaikan harga BBM, listrik, pajak, PPN dan lainnya karena duitnya untuk bayar utang.

”Pembayaran pokok dan cicilan, dibebankan ke rakyat karena harus menanggung. Jangan sampai ada ekonom meramalkan baik-baik saja untuk kepentingan oligarki dan lupa rakyat makin susah,” tuturnya. 

Karena negara tergantung dari hutang, lanjut Rizal, kalau terjadi kenaikan bunga akan panik, apalagi nilai tukan rupiah terpuruk Rp15.300 per USD. Daya tahan rupiah ini, terus menerus dipertahankan oleh Bank Indonesia. “Kalau tidak ditolong BI, rupiah bisa Rp16.000 per USD,” 

Kondisi krisis global seperti ini, menurut Rizal yang penting menghadapi krisis pangan. Produksi pangan harus digenjot menanam padi, kedelai dan lainnya. “Memang ada Food Estate Kalimatan, Sumut, tetapi impactnya tidak ada. Habisin anggaran taka da hasilnya. Bukan main proyek,”cetusnya.

Pemerintah sepertinya, menuru Rizal Ramli tidak mampu menyelesaikan masalah. Pimpinan negara ini harus diganti karena pola pikirnya sudah tidak melindungi rakyat. Contohnya, untuk UMR dibatasi tidak boleh lebih 1,039% kenaiknya. Disisi lain, inflasi makanan sudah membubung tinggi 17%. “Ini niatnya memiskinkan massal. Jadi oposisi harus benar, bicara kebenaran,” tukasnya. 

Stabilitas Rupiah Genting

Antony Budiawan, Managing Director, Political Economic and Policy Studies (PEPSI) menuturkan, sekarang ini utang dinyatakan turun sekitar 15% bukan karena telah dibayarkan. Karena utang tersebut turun akibat capital outflow dari tahun 2020 hingga 2021. Sedangkan tahun ini, capital outflow sekitar 16 miliar USD. “Utang turun karena karena dibayar, tak ada yang dilunasi. Karena BI yang take over. Kalau tidak rupiah goyang,” tuturnya. 

Ingat, menurut Antony, Argentina, Turki, Srilangka terjadi inflasi diatas 50% yang menyebabkan krisis. Inflasi di Srilangka bukan terjadi karena demand pull karena kurs nya anjlok.”Sekarang ini, BI juga ancang-ancang suku bunga agresif. Karena BI harus segera ambil kebijakan kalau The Fed naik 4%. Kalau tidak bisa efek terjadi seperti 1998,” ujarnya./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

Related Articles

Mou Pengembangan Bioetanol (dok PTPN)
EKONOMIEnergi

Kementan dan ESDM Percepat Hilirisasi Pertanian dan Energi

JAKARTA, Bisnistoday - Pemerintah terus memperkuat komitmen dalam mempercepat program hilirisasi pertanian...

Dirut Jasa Marga
Ekonomi & Bisnis

Pendapatan Usaha Tumbuh 10,4%, Jasa Marga Bukukan Laba Bersih Rp774,7 Miliar di Kuartal I Tahun 2026

JAKARTA, Bisnistoday -  PT Jasa Marga (Persero) Tbk (“Perseroan”) mengawali tahun 2026...

Sinergi Pengembangan Bioetanol (Dok PTPN)
EKONOMI

PTPN, Pertamina dan Medco Sinergi Kembangkan Bioetanol

JAKARTA, Bisnistoday - Holding Perkebunan Nusantara, PT Perkebunan Nusantara III (Persero) (PTPN...

Donald Trump
EKONOMI

Sistem Pengamanan Presiden Donald Trump Dipertanyakan

JAKARTA, Bisnistoday - Sabtu (25/4/2026) lalu pukul 14.00 waktu setempat, Hotel Washington...