JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah diminta mengantisipasi adanya potensi penurunan produktifitas pangan nasional, yang terjadi di tengah terus meningkatnya kebutuhan pangan domestik. Terlebih, tren pangan global menuju situasi yang semakin kritis, akibat perubahan iklim serta pengaruh geo spasional global.
Hal tersebut diungkapkan olah Prof. Bustanul Arifin, Dewan Komisioner dan Ekonom Senior INDEF, Guru Besar UNILA saat diskusi publik yang berjudul “Waspada Bola Panas Harga Beras” di Jakarta, baru-baru ini.
Seperti diketahui, Bustanul Arifin mengatakan, El Nino tahun 2023 yang telah terjadi mengakibatkan produksi pangan terdampak. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga penyediaan komoditas pangan di beberapa dunia. “Gejolak harga pangan global ini tidak hanya disebabkan oleh iklim saja tetapi juga dampak kondisi geo spasial.”
Baca Juga : Rakyat Mayoritas Merasakan Krisis dan Lonjakan Harga Pangan
Tampak, menurut Bustanul, dinamika harga beras dan gandum, khususnya terpengaruh dari konflik geospasial invasi Rusia-Ukraina. Begitupun, akibat produksi terbatas, India juga sudah melarang ekspor beras sehingga harga beras global juga meningkat. Disisi lain, Indonesia juga masih memiliki ketergantungan impor beras.
“Didalam negeri sendiri dampak El Nino mempengaruhi luas panen dan produksi padi nasional. Kekeringan ekstrem, apalagi dalam kondisi fase generative, mengurangi kemampuan tanaman untuk berproduksi,” paparnya.
Produksi Menurun
Penurunan produksi, menurut Bustanul Arifin, terlihat dari produksi beras antara Januari -September 2023, turun 2,08% setara 0,54 juta ton dari angka 26,17 juta ton menjadi sekitar 25,63 juta ton. Lalu, produksi padi GKG (gabah kering giling) dari 45,43 juta ton menajdi 44,48 juta ton dalam periode yang sama. “Meski begitu, masih ada peluang panen gadu pada Oktober 2023 nanti,” harapnya.
Secara umum dalam jangka panjang, lanjut Bustanul, El- Nino juga menyebabkan ketidakstabilan harga komoditas pangan strategis lainnya selain beras. Ini terlihat selama kurun 2020 -2023, terjadi fluktuasi harga pangan, seperti Gula Putih, Minyak Goreng serta Daging Sapi. Tampak, semua komoditas strategis ini mengalami lonjakan dengan tren terus meningkat.
Pengaruh Iklim Global
Bustanul Arifin lebih lanjut mengatakan, tren dunia menghadapi tantangan perubahan iklim serta pemanasan global. Dalam 120 tahun terakhir, suhu bumi naik 1,5 derajat Celcius, dan diprediksi mencapai 2 derajat Celcius pada tahun 2100 mendatang. Kondisi ini, menjadikan lapisan es kutub mencair, berdampak pada naiknya permukaan air laut.
“Untuk wilayah Indonesia diprediksi terjadi kenaikan muka air laut 3,9 mm per tahun. Dan diperkirakan IPCC, akan terjadi kenaikan air laut 60 cm selama 2000-2100.”
Bustanul menyebut juga, dari data ENSO (El-Nino Southerm Oscillation) memperlihatkan bahwa El Niño membuat memanasnya suhu muka laut (SML) di atas normal di Pasifik Tengah dan Timur. El-Nino mengakibatkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia turun.
“Indian Ocean Dipole (IOD) juga disebutkan, bahwa fenomena laut atmosfer di Samudera India berdasarkan anomali SML di Pantai Timur Afrika dan Pantai Barat Sumatera. IOD memperkirakan secara positif menyebabkan penurunan curah hujan di Bagian Barat Indonesia.”
El Nino tahun 2023 telah terjadi, telah mengakibatkan produksi pangan terdampak. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga penyediaan komoditas pangan di beberapa belahan dunia terdampak.//








































