www.bisnistoday.co.id
Senin , 21 September 2026
Home EKONOMI Keunggulan Koperasi di Indonesia “Disembunyikan”
EKONOMI

Keunggulan Koperasi di Indonesia “Disembunyikan”

Suroto
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday- Koperasi selama ini masih dipandang sebagai organisasi kuno, dianggap hanya sebagai cita cita politik semata dan jadi slogan. Koperasi diagungkan tapi tidak jadi praktek keseharian.

Padahal, koperasi sebetulnya secara bentuk adalah perusahaan modern dan futuristik sebagai kelembagaan. Koperasi memiliki dasar keunggulan sebagai bentuk organisasi demokratis.

“Koperasi tidak hanya memungkinkan bagi banyak orang untuk  bisa ikut mengendalikan kebijakan ‘perusahaan’, tapi juga membuka akses kepemilikan bagi semua orang baik bagi pekerja bahkan konsumenya sekalipun,” kata pengamat koperasi yang juga Ketua Umum Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES), Suroto di Jakarta, Kamis (2/9).

Menurut Suroto, Selama ini perusahaan konvensional hanya mampu bertransformasi sampai dengan berbagi kepemilikan pada pekerjanya secara terbatas.

Sementara, model kelembagaan koperasi telah melampaui sistem perusahaan konvensional yang hanya berorientasi bagi kepentingan pemegang saham (shareholder). Koperasi sudah berparadigma multipihak (multistakeholder). “Ini yang belum banyak dipahami masyarakat. Sehingga masyarakat banyak yang tidak tahu beda koperasi dan korporasi.  Koperasi di Indonesia itu keunggulanya sebagai perusahaan justru cenderung disembuyikan,” kata Suroto.

Koperasi di negara maju, seperti Amerika Serikat misalnya, disana bahkan kelembagaanya telah mampu menyelenggarakan kegiatan layanan publik seperti rumah sakit dan jasa perlistrikan. Sebut saja misalnya perusahaan koperasi listrik yang masif di seluruh negara bagian seperti NRECA (National Rural Elextricity Cooperative Association), dan jaringan rumah sakit terbesar di kota Washington seperti Koperasi Group Health.

Di era ekonomi berbagi dan digital saat ini, menurut Suroto, sebetulnya kelembagaan koperasi ini memiki kesesuaian untuk jadi pilihan badan hukum karena memungkinkan kepemilikan dari seluruh pihak baik investor, inventor, pekerja, bahkan konsumen.

Komunitas  ekonomi kreatif semacam talent baru para konten kreator misalnya, mereka bisa aktif dirikan koperasi platform bersama. Contohnya para fotografer di Vancouver Canada yang dirikan koperasi platform fotografi yang keuntunganya sepenuhnya dikembalikan kepada konten kreatornya. Bahkan sudah ada koperasi multipihak karwna penonton/ viever juga bisa ikut miliki perusahaan seperti FairBNB, Resonate dan lainnya.  

“Mestinya anak-anak muda yang berbasis komunitas dan juga para pemilik talent-talent baru serta wirausaha sosial pertimbangkan model kepemilikan koperasi ini sebagai alternatif,” pungkasnya./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

EKONOMIEkonomi & Bisnis

LPDB Koperasi Hadirkan Coaching Clinic Pembiayaan di Borobudur Expo 2026 

MAGELANG, Bisnistoday - Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi menghadirkan layanan Coaching...

EKONOMIKomunitasLIFESTYLE

15.000 Peserta Ramaikan Pocari Run 2026 Bandung, Pemkot Siapkan Rekayasa Lalu Lintas 19-20 September

BANDUNG, Bisnistoday - Pocari Run 2026 akan digelar selama dua hari di...

EKONOMI

Libatkan Pengemudi Lama, Bandung Angkot Utama Jadi Pintu Masuk Ekonomi Digital Berbasis Blockchain

BANDUNG, Bisnistoday - Pemerintah Kota Bandung mengembangkan Bandung Angkot Utama sebagai bagian...

EKONOMIEnergi

Listrik Jampang Sukabumi Belum Merata, DPRD Jabar Dorong Akses hingga Pedalaman

BANDUNG, Bisnistoday – Infrastruktur kelistrikan di wilayah Jampang, Kabupaten Sukabumi, mulai menunjukkan...