www.bisnistoday.co.id
Jumat , 6 November 2026
Home EKONOMI Tiga Tantangan untuk Kendalikan Inflasi Pangan
EKONOMIEkonomi & Bisnis

Tiga Tantangan untuk Kendalikan Inflasi Pangan

Gubernur BI, Perry Warjiyo mengungkapkan, sada tiga tantangan untuk mengendalikan inflasi pangan pada tahun 2023
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengungkapkan, setidaknya ada tiga tantangan untuk mengendalikan inflasi pangan pada tahun 2023 agar masyarakat sejahtera dan keadaan politik stabil.

Perry memaparkan, tantangan pertama adalah inflasi global saat ini masih tinggi meskipun sudah menurun dari 10 persen dari tahun lalu menjadi sekitar 5-6 persen pada tahun 2023. “Karena itu, sesuai arahan Presiden, seluruh dunia tangani inflasi sehingga kita kena imbas (secara ekonomi). Mengapa Bank Indonesia betul-betul jaga nilai tukarnya stabil ?  Supaya harga-harga di dalam negeri stabil,” ucapnya dalam Kick Off Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) Jawa 2023 dengan tema “Sinergi dan Inovasi untuk Ketahanan Pangan Nasional Melalui Penerapan Digitalisasi dan Hilirisasi Pertanian di Jawa: Gemah Ripah Loh Jinawi” yang dipantau secara virtual, Jakarta, Rabu (05/4).

Tantangan kedua, lanjut Perry,  ialah kecukupan pasokan pangan di daerah dan antar daerah. Misalnya, daerah Jawa Barat yang menjadi lumbung padi bisa menyuplai komoditas tersebut ke daerah lainnya. Untuk itu, diperlukan ketahanan dan produksi pangan dengan memanfaatkan agri farming yang telah terdigitalisasi.

Adapun tantangan terakhir yaitu faktor musiman yang membuat inflasi pangan harus dikendalikan. “Sekarang akan hadapi lebaran. Bagi yang punya barang jangan disimpan, rakyat membutuhkan beras, minyak goreng, telur, ayam, apapun, harus ada di pasar-pasar sehingga ini betul-betul suplainya ada.

Demikian juga musimannya ada pada triwulan III dan IV karena faktor musim cuaca yang tak baik dan harus kita atasi bersama,” kata Gubernur BI.

Pada 18 Agustus 2022, Presiden Joko Widodo disebut telah mengarahkan jajarannya untuk mengendalikan pangan. Sejumlah cara yang dilakukan antara lain mengadakan pasar murah di 2.636 titik, 63 Kerjasama Antar Daerah (KAD), 75 program Subsidi Ongkos Angkut (SOA), 2,39 juta polybag dalam program gerakan tanam cabai, replikasi model bisnis, penyaluran bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) serta sarana produksi pertanian (saprotan), hingga digitalisasi.

“Kalau harga pangan terkendali dan terjangkau, maka urusan perut selesai. Kalau urusan perut selesai, ya tentu saja stabil, rakyatnya sejahtera,” tandas Perry./

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Para pengunjuk rasa menuntut keringanan utang bagi negara-negara miskin dalam pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Bangkok pada Oktober lalu. (dok: Peerapon Boonyakiat/Sopa Images/Shutterstock)
EKONOMIGLOBAL

Utang Luar Negeri Semakin Mencekik Negara Miskin

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Negara-negara miskin kini semakin sulit untuk berinvestasi untuk masa...

Pemilu Sela di AS (dok: The GuardianSteven Garcia/NurPhoto/Shutterstock)
EKONOMIGLOBAL

Demokrat Menangi Pemilu Sela di AS, Apa Dampaknya bagi Asia?

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Partai Demokrat berhasil menang telak dalam pemili paruh waktu...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Suku Bunga Mekaar 8 Persen Resmi Berlaku

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama PT...

Aktifitas Bongkar Muat di Pelabuhan Belawan.
Ekonomi & Bisnis

Hingga September 2026, Kemendag Catat Tren Positif Perdagangan Luar Negeri  

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Indonesia kembali mencatatkan surplus neraca perdagangan pada September 2026...