JAKARTA, Bisnistoday – Masyarakat diminta untuk tidak menyikapi lonjakan pangan khususnya beras secara panik. Kondisi panik hanya akan menimbulkan dampak lebih parah terhadap stabilitas harga beras. Seperti diketahui, harga beras terus mengalami peningkatan seiring dampak kekeringan akibat El Nino belakangan ini.
Rusli Abdullah, Peneliti Center Food, Energi and Sustainable Development INDEF (The Institute for Development of Economics and Finance) mengatakan, dibutuhkan manajemen beras yang taktis dan tidak menimbulkan panik lebih jauh.
”Guna meredam gejolak harga pangan ini, selayaknya masyarakat tidak panik parah. Puncak El nino 2023 diperkirakan terjadi di akhir musim gadu. El Nino 2023 diprediksi tidak separah 1997,” tutur Rusli saat diskusi publik yang berjudul “Waspada Bola Panas Harga Beras” di Jakarta, baru-baru ini.
Ekonomi INDEF ini mengutarakan, hal yang diperlukan lainya yakni meningkatkan siaga Satgas Pangan dengan memastikan tidak ada oknum yang memancing di air keruh. “Hal penting dilakukan juga, diversifikasi pangan melalui, penataan tata niaga beras, koordinasi antar Kementerian Lembaga, ditengah kompleksitas pangan perubahan iklim.”
Rusli mengingatkan, bahwa persoalan beras sangat sensitive dan memicu gejolak sosial. Persoalan beras selayaknya menjadi perhatian pemerintah lebih serius. Sebab, selama ini, beras memiliki penimbang tinggi dalam perhitungan inflasi. Komoditas beras memiliki elastisitas harga yang tinggi yang memicu kemiskinan.
“Bahkan, ini bisa memicu isu politik, karena pada titik ekstrim bisa menimbulkan chaos,” cetusnya.
Apalagi, lonjakan harga beras tidak dinikmati para produsen, tetapi hanya pedagang beras kelas besar. Sedangkan, keuntungan para petani dan penggilingan padi relative minim. Produsen yakni petani atau penggilingan ‘tidak menikmati’ kenaikan harga beras.
“Harga ditingkat pedagang besar memicu kenaikan di pasar tradisional.Harga di tingkat pedagang besar dan pasar tradisional lebih dinamis dibandingkan di pasar modern dan produsen.”
Menurut Rusli, deviasi harga beras di pasar tradisional dan modern mengecil. Data dari 2 Januari 2023 sampai 20 September 2023, kenaikan harga rata-rata beras tertinggi di pedagang besar sebesar 12,77%. Sedangkan kenaikan terendah di tingkat produsen sebesar 7,58%.
“Harga pedagang besar pada 20 September sebesar Rp13.250, sedangkan pada 2 Januari harga Rp 11.750 per kg. Pedagang besar beras menikmati margin terbesar dalam perdagangan beras.”
Ia menuturkan, sejak awal tahun 2023, deviasi harga di tingkat produsen sampai peadagang besar meningkat. Pada 2 Januari 2023 perbedaan harga antara produsen dan pedagang besar Rp1.200/kg. Pada 20 September 2023 angkanya meningkat menjadi Rp1.900/kg.//










































