www.bisnistoday.co.id
Jumat , 6 November 2026
Home HEADLINE NEWS Bingung Investasi, Mirae Asset Sarankan Logam Mulia Jadi Pilihan
HEADLINE NEWS

Bingung Investasi, Mirae Asset Sarankan Logam Mulia Jadi Pilihan

Mirae Asset Sekuritas
Media Day Mirae Asset,/
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday- PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai saham emiten emas dapat menjadi pilihan trading jangka pendek di tengah potensi penguatan harga komoditas emas global.Farras Farhan, Research Analyst Mirae Asset, menyatakan optimistis harga logam mulia masih dapat menguat dalam waktu dekat seiring dengan ketidakpastian geopolitik dan makroekonomi yang meningkat di tingkat global.

“Kami masih optimis harga emas masih bisa menguat hingga US$3.500 per troy ounce dalam jangka pendek, yaitu pada periode 1-3 bulan ke depan, karena ketidakpastian globalnya masih tinggi. Untuk itu, saham-saham emiten terkait emas bisa jadi pilihan trading jangka pendek,” ujar Farras dalam Media Day: June 2025 by Mirae Asset, (12/6).

Harga komoditas emas global pada penutupan kemarin berada pada kisaran US$3.340 per troy ounce. Dibanding posisi akhir 2024 dari kisaran US$2.620 per troy ounce, harganya sudah mengalami lonjakan signifikan yaitu lebih dari 27%.

Farras menambahkan bahwa potensi kenaikan harga tersebut masih dapat terjadi seiring dengan prediksi rerata harga emas tahunan yang diprediksi dapat mencapai US$3.100 per troy ounce, sedangkan sejak awal tahun rerata harga emas masih di bawah US$3.000 per troy ounce. Dengan demikian, harga emas diprediksi masih dapat menguat tahun ini.

“Bulan depan patut diingat juga ada momentum 90 hari masa suspensi tarif dagang Presiden AS Donald Trump terkait kebijakan perdagangan dan politiknya, Selain itu, permintaan emas juga diprediksi akan naik menjelang perayaan Diwali di India pada Oktober yang biasanya turut mendongkrak harga emas global.”

Meskipun diprediksi naik dalam waktu dekat, dia menjelaskan bahwa harga emas diprediksi akan melemah pada akhir tahun ini terkait dengan tambahan suplai produksi dari Australia dan penurunan permintaan emas dunia.

Mencari Instrumen Aman

Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset, menambahkan bahwa risiko geopolitik dan makroekonomi global masih menjadi pendorong utama harga emas dunia sejak awal tahun. Sebagai instrumen safe have, harga emas akan kembali naik jika kondisi global diliputi ketidakpastian atau bahkan jika terjadi sentimen negatif.

Terkait dengan tarif dagang Trump, dia memprediksi pasar baru akan bereaksi jika keputusan tarif tersebut jauh di atas atau jauh di bawah acuan tarif yang sudah diwacanakan.

“Kalau nanti keputusan tarif impor barang China ke AS jauh dari rencana awal 30% dan sebaliknya tarif impor AS ke China 10%, maka baru akan ada perubahan di prediksi ekonomi dan pasar keuangan. Pelaku pasar global sudah mengantisipasi level 30%-10% tersebut.”

Setelah tensi Perang Dagang semakin mereda sejak 2 bulan terakhir yang ditandai melemahnya nilai tukar dolar AS (DXY) dan harga komoditas, dia mengatakan terjadi aksi jual bersih investor asing pada pasar saham Indonesia. Hal itu ditandai adanya aliran dana asing keluar (foreign capital ouflow) di pekan pertama Juni dengan nilai setara Rp 4,7 triliun terutama dari saham bank-bank besar.

Emas Prospek Cerah

Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Herwin Hidayat mengatakan prospek cerah harga emas masih dapat menguntungkan emiten terkait emas, salah satunya perusahaan yang dia pimpin. Tahun depan harga emas diprediksi masih dapat menguat lagi seiring dengan permintaan emas dari publik yang tinggi di tengah ketidakpastian global.

“Untuk BRMS, setiap kenaikan harga emas dapat membuat kinerja keuangan lebih positif, bersama dengan faktor lain yaitu peningkatan kapasitas produksi. Kami menargetkan produksi emas tahun ini naik menjadi 70.000-75.000 troy ounce dari 64.983 troy ounce pada 2024.”/

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Industri Elektronik
HEADLINE NEWS

Triwulan III-2026, Industri Manufaktur Tumbuh 5,88 Persen

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,88 persen secara tahunan (year-on-year/yoy)...

Pameran SIAL
HEADLINE NEWS

SIAL Food & Drinks Indonesia 2026 Perkuat Koneksi Bisnis Dan Akses Pasar Global Bagi Industri F&B

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - SIAL Food & Drinks Indonesia 2026 resmi dibuka hari...

GEDUNG BEI
HEADLINE NEWS

Potensi Arus Keluar Dana Asing hingga USD 11 Miliar Membayangi Pasar Saham

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai tekanan terhadap pasar...

Kabareskrim
HEADLINE NEWS

Bareskrim Ungkap Dugaan Penyadapan Ilegal terhadap Presiden hingga Tokoh Politik

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri mengungkap dugaan praktik penyadapan telepon...