BANDUNG, Bisnistoday – Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A. menargetkan peningkatan pendapatan non-UKT serta dana riset hingga Rp70 miliar pada 2026 sebagai langkah strategis memperkuat daya saing UPI di tingkat nasional dan global.
Didi mengatakan, peningkatan pendapatan di luar UKT mahasiswa menjadi tantangan utama UPI ke depan, seiring komitmen memperkuat Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berdampak langsung bagi masyarakat dan kebijakan nasional.
“Dampak riset tidak cukup berhenti pada hilirisasi. UPI harus mampu menyumbangkan pemikiran yang digunakan dalam kebijakan, baik melalui peran sebagai konsultan, tim ahli, policy brief, buku, maupun produk riset lainnya,” ujar Didi, baru-baru ini.
Ia menegaskan, penguatan pendapatan institusi berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan dosen, peningkatan dana riset, serta kualitas luaran akademik yang dapat dibaca dan disitasi, tidak hanya oleh kalangan akademisi tetapi juga non-akademisi.
Saat ini, anggaran UPI dinilai masih terbatas untuk menjawab kebutuhan pengembangan riset secara optimal.Tahun ini dana riset UPI Rp15 miliar, Didi menyebut angka tersebut belum ideal.
“Saya ingin di 2026 dana riset bisa naik menjadi sekitar Rp70 miliar. Itu sedang kita upayakan dengan efisiensi anggaran dan penerapan sistem EBK yang lebih adil,” katanya.
Strategi Internasionalisasi
Dalam upaya meningkatkan peringkat dan reputasi global, UPI juga memperkuat strategi internasionalisasi dengan memperluas kerja sama pendidikan lintas negara.Fokus kerja sama diarahkan ke sejumlah negara Asia Tengah seperti Uzbekistan, Tajikistan, dan Turkmenistan, yang dinilai memiliki potensi besar untuk pertukaran mahasiswa dan pengembangan akademik.
Didi mengungkapkan, UPI telah menjalin kemitraan dengan sedikitnya lima perguruan tinggi di Uzbekistan, di antaranya Termes State University, Tashkent State University of Economics, dan Uzbekistan World University of Languages. Melalui kerja sama tersebut, UPI menargetkan peningkatan jumlah mahasiswa asing secara signifikan dalam dua tahun ke depan.Saat ini, jumlah mahasiswa asing UPI berada di kisaran 500 orang, termasuk sekitar 70 mahasiswa asal Tiongkok.
Didi menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 1.000 mahasiswa asing pada 2026, tanpa membatasi asal negara, mengingat indikator pemeringkatan global menilai kuantitas mahasiswa internasional sebagai salah satu faktor utama.
Untuk mendukung target tersebut, UPI melakukan pembenahan fasilitas dan layanan bagi mahasiswa asing, mulai dari perbaikan asrama dan dormitory, penyediaan akses internet, fasilitas penunjang kebutuhan harian, hingga pendampingan pengurusan imigrasi dan izin tinggal.
Selain fasilitas, UPI juga menyiapkan kurikulum yang lebih fleksibel, dengan skema pembelajaran kombinasi daring dan luring, serta penyesuaian biaya pendidikan agar lebih kompetitif.
“Jadi mereka bisa belajar itu tidak hanya belajar di sini 1 tahun full tetapi bisa apa namanya kombinasi lah kapan mereka bisa belajar online, kapan mereka bisa belajar offline gitu. Jadi kombinasi sistem belajarnya lebih fleksibel, biayanya kita buat lebih bersaing, fasilitasnya kita perbaiki, kemudian kurikulumnya kita buat lebih menarik,” kata Didi.
Strategi ini diharapkan mampu menarik minat mahasiswa internasional sekaligus memperkuat posisi UPI dalam pemeringkatan perguruan tinggi dunia.//









































