BANDUNG, Bisnistoday – Menjadi mahasiswa terbaik tidak pernah direncankan oleh Muhammad Fadhly Rafiansyah. Lulusan Program Studi Rekayasa Perangkat Lunak itu mengaku menjalani masa kuliah dengan normal sebagaimana mahasiswa pada umumnya, selain itu dirinya terbilang aktif berorganisasi, siapa sangka akhirnya berhasil menorehkan prestasi tertinggi di tingkat universitas.
“Jujur enggak nyangka juga kaget, Alhamdulillah,” ujar Fadhly, saat ditemui Bisnis Today, usai acara Wisuda, di Kampus UPI Bandung, Selasa (21/7).
Fadhly mengatakan, tantangan terbesar selama kuliah adalah membagi waktu antara perkuliahan, organisasi, dan pekerjaan yang mulai dijalaninya sejak semester akhir.
“Sebenarnya tantangannya lebih ke membagi waktu antara organisasi, kuliah, dan pekerjaan. Alhamdulillah dengan kerja keras akhirnya bisa menjadi mahasiswa terbaik. Jujur saya benar-benar tidak menyangka,” ujarnya.
Selama kuliah, Fadhly aktif di Himpunan Mahasiswa i serta Unit Kegiatan Mahasiswa Dapur Seni yang menjadi wadahnya menyalurkan minat di bidang musik. Menurutnya, keterlibatan dalam organisasi justru memberikan banyak manfaat, termasuk memperluas jaringan yang kemudian membuka peluang karier.
“Relasi itu sangat penting. Dari teman-teman organisasi akhirnya saya mendapat kesempatan yang mengantarkan saya ke dunia kerja,” katanya.
Ketertarikannya pada dunia pemrograman juga lahir saat memasuki bangku kuliah. Berbekal ilmu yang dipelajari di kampus, Fadli mulai mengikuti program magang pada semester enam sebagai pengembang perangkat lunak (software developer). Magang tersebut kemudian berlanjut menjadi kontrak kerja hingga akhirnya ia langsung bekerja di perusahaan yang sama setelah lulus.
“Saya awalnya iseng mencari uang jajan lewat magang. Ternyata kemudian dikontrak, jadi saya lanjut bekerja sambil kuliah,” tuturnya.
Tantangan AI di Dunia Kerja
Meski berhasil lebih cepat memasuki dunia kerja, Fadli mengakui bahwa tantangan industri teknologi saat ini semakin besar. Selain persaingan lulusan yang semakin banyak, perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga mengubah kebutuhan dunia kerja.
Menurutnya, AI tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, melainkan alat yang dapat meningkatkan produktivitas.
“Sekarang AI sedang berkembang pesat. Jangan jadikan AI sebagai musuh, tetapi jadikan teman yang membantu kita bekerja lebih baik. Kita harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi,” ujarnya.
Ia mengakui, kondisi pasar kerja di bidang teknologi saat ini memang tidak mudah. Sejumlah pekerjaan mulai berubah seiring hadirnya teknologi AI sehingga lulusan dituntut memiliki kemampuan yang terus berkembang.
Karena itu, Fadhly berpesan kepada calon mahasiswa maupun generasi muda yang ingin menekuni bidang teknologi agar tidak berhenti belajar dan selalu terbuka terhadap inovasi baru.
“Kalau ingin masuk ke jurusan komputer, semangat saja. Jangan terpaku pada satu bidang saja. Terima inovasi-inovasi baru dan mulai beradaptasi dengan teknologi terbaru karena perubahan berlangsung sangat cepat,” katanya.
Di tengah maraknya fenomena judi online yang menyasar anak muda, Fadli juga mengingatkan pentingnya literasi digital. Sebagai seorang programmer, ia memahami cara kerja sistem di balik praktik tersebut dan menilai masyarakat harus lebih waspada.
“Judi online itu pada akhirnya hanya akan merugikan penggunanya. Tidak mungkin bandar yang kalah. Karena itu, jangan sampai terjebak. Stop judi online,” tegasnya.
Bagi Fadhly, perjalanan menjadi mahasiswa terbaik membuktikan bahwa prestasi tidak selalu ditentukan oleh rekam jejak akademik sejak sekolah. Ia mengaku bukan siswa yang selalu berada di peringkat teratas. Namun, melalui kerja keras, kemampuan beradaptasi, serta keberanian memanfaatkan setiap kesempatan, ia berhasil menuntaskan studi selama empat tahun sekaligus memulai karier profesional sebagai software developer.










































