BANDUNG, Bisnistoday – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar Wisuda Gelombang III Tahun 2026 dengan mewisuda sebanyak 999 lulusan dari program Sarjana (S1), Magister (S2), dan Doktor (S3) dari seluruh kampus UPI, baik di Bumi Siliwangi maupun kampus daerah.
Rektor UPI Didi Sukyadi, mengatakan pelaksanaan wisuda terus mengalami penyempurnaan, tidak hanya dari sisi penyelenggaraan, tetapi juga melalui penguatan pesan moral kepada para lulusan sebelum memasuki dunia kerja dan pengabdian kepada masyarakat.
“Wisuda hari ini adalah wisuda yang ketiga di tahun 2026. Kita mewisuda 999 lulusan mulai dari S1, S2, dan S3 dari seluruh kampus UPI yang ada di daerah dan juga yang ada di Bumi Siliwangi. Ini merupakan wisuda yang formatnya terus kita tingkatkan,” ujar Didi.
Menurutnya, tema utama yang ditekankan pada wisuda kali ini adalah pentingnya menjaga integritas. Ia berharap para lulusan mampu menjadi pribadi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang dapat menjadi teladan.
“Kita menekankan pentingnya menjaga integritas untuk para wisudawan, sehingga ketika mereka nanti berkiprah di masyarakat, mereka tidak hanya bermanfaat tetapi juga memberikan nilai-nilai yang bisa diteladani. Jadi tidak hanya pintar, tetapi juga mereka harus punya integritas,” katanya.
Selain pesan dari rektor, para lulusan juga mendapatkan motivasi dari perwakilan Ikatan Alumni (IKA) UPI. Didi menjelaskan, alumni menekankan tiga karakter utama yang harus dimiliki lulusan, yakni dapat dipercaya (amanah), memiliki kemampuan sebagai problem solver, dan mempunyai kapabilitas tinggi.
“Lulusan harus menjadi orang yang bisa dipercaya, kemudian mereka harus punya kemampuan menjadi pemecah masalah (problem solver), dan juga memiliki kapabilitas yang sangat tinggi. Insyaallah itu akan menjadi bekal bagi mereka untuk sukses di tengah masyarakat,” ujarnya.
Agen Solusi di Tengah Tantangan Ekonomi
Di tengah kondisi ekonomi yang masih menghadapi berbagai tantangan, Didi mengajak para lulusan agar hadir sebagai bagian dari solusi, bukan justru menambah persoalan.
“Mudah-mudahan para alumni kita ini tidak menjadi penyebab masalah, tetapi menjadi solusi untuk setiap persoalan yang ada. Daripada menyalahkan orang lain, lebih baik kita mampu mencari solusi atas persoalan yang kita hadapi,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Didi juga menyoroti maraknya praktik judi online yang dinilainya bertentangan dengan nilai religius dan nilai-nilai Pancasila yang dijunjung masyarakat Indonesia.
“Tidak ada upaya yang bisa membuat kita sukses apalagi kaya dalam waktu yang singkat melalui tindakan seperti judi online. Kita harus bekerja keras secara terarah dan mengerahkan segala daya untuk memperoleh penghasilan yang wajar,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa pemberantasan judi online tidak dapat dibebankan kepada pemerintah semata, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk keluarga.
Rektor UPI juga menanggapi program kolaborasi Probidik Gema Jabar yang melibatkan mahasiswa kependidikan untuk membantu sekolah-sekolah yang mengalami kekurangan tenaga pendidik. Menurutnya, kehadiran mahasiswa merupakan solusi sementara agar proses pembelajaran tetap berjalan.
“Daripada kelas kosong dan tidak ada guru yang mengajar, kita sebagai Universitas Pendidikan merasa terpanggil. Ini merupakan solusi sementara, bukan menggantikan guru honorer ataupun menghalangi pengangkatan guru baru,” jelasnya.
Didi menjelaskan bahwa Indonesia masih menghadapi persoalan kekurangan guru akibat tingginya angka pensiun, sementara pengangkatan guru baru belum mampu mengimbangi kebutuhan nasional karena keterbatasan anggaran pemerintah.
Karena itu, ia berharap lulusan UPI, khususnya dari bidang kependidikan, dapat terus menunjukkan semangat pengabdian dan menjadi bagian dari solusi bagi dunia pendidikan Indonesia.
Menurutnya, menjadi pendidik bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa untuk membangun generasi masa depan yang berkualitas.








































