JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah, BUMN dan swasta diminta untuk mendukung optimalisasi angkutan berbasis perkeretapian. Kehadiran KA dalam angkutan barang dan jasa harus mampu membuat transportasi berjalan efektif sehingga daya saing infrastruktur transportasi kereta terus meningkat.
“Munculnya truk yang kategori (over dimension and over load/ODOL) karena penggunaan transportasi KA belum dijadikan angkutan menarik bagi stakeholder. Bayangkan pengemudi truk itu bawa barang dari ujung Jawa Timur hingga kota-kota di Sumatera, dan kalau saja pakai kereta akan optimal,” ungkap Pengamat Transportasi, Joko Setyowarno, dalam diskusi transportasi kereta yang digagas SPKA (Serikat Pekerja Kereta Api), di Jakarta, Kamis (24/2).
Berita Terkait : Pengemudi Truk Tutup Tol Padaleunyi Protes Regulasi ODOL
Joko mengungkapkan, inilah peran BUMN seperti PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai pelayanan public. “Jangan BUMN disuruh ngejar keuntungan terus, atau setidaknya tidak merugi saja sudah baik. Yang dikedepankan upaya pelayanan masyarakat. Jangan sedikit-dikit masalah direksi diganti,” tuturnya.

Konsep angkutan KA, menurut Joko, harus terintegrasi secara fisik, pengjadwalan, dan integrasi pembayaran serta pelayanan. Secara fisik, pengintegrasian sudah berjalan baik seperti distasiun terintegasi dengan bus trans Jakarta. Demikian halnya, diiringi dengan penyesuaian jadwal antar moda dan integrasi pembayaran di suatu lokasi pertemuan.
“Khusus tentang pelayanan, direksi jangan ditarget setoran terus. Jadinya, sekarang angkutan rel masih lebih mahal dibanding jalan raya atau truk. Kalau pengiriman ke Pelembang, memakan waktu 10 hari, berapa kali buat jalan cepat rusak,” tuturnya./







































