JAKARTA, Bisnistoday – Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, Anis Matta mengingatkan pemerintah serta dunia usaha umumnya agar lebih serius mengantisipasi potensi ancaman krisis ekonomi di tanah air. Gelombang krisis ekonomi sudah melanda secara global dan bisa terjadi di Indonesia.
Anis Matta menegaskan, sekarang waktunya serius karena tidak tahu seperti apa situasi global bergerak. Seperti krisis tahun 1998, semua ekonom menyatakan optimis bahwa fiskal sangat kuat, tetapi kenyataanya krisis tetap terjadi juga.
“Jangan terlalu dininabobokan dengan kondisi fundamental sekarang, takutnya apa yang dibanggakan tiba-tiba menghilang, sehingga buat frustasi publik, ledakan pengangguran, dan potensi angkatan kerja yang tinggi tak bisa dioptimalkan,” ungkap Anis Matta saat Gelora Talks bertema : Ancaman Resesi Global Mengintai, Bagaimana Indonesia Menghadapinya,” secara daring di Jakarta, Rabu (20/7).
Anis menuturkan, krisis global yang sedang terjadi tidak bisa prediksi arahnya. Sementara krisis ekonomi berkepanjangan juga tidak dapat dipisahkan dari pengaruh geopolitik global. ”Ini saling berkaitan tak bisa dipisahkan dengan geopolitik,” tuturnya.
Ia mengandaikan, krisis yang terjadi seperti ledakan yang sulit dikendalikan, dan membentuk pola tersendiri. Ketika serpihan-serpihan itu terlihat, baru bisa sedikit terbaca arah krisis yang terjadi. Persoalannya, Indonesia ditengah krisis dunia ini, berada di posisi yang mana? “Sebagai pemain kan tidak, dan sudah begitu, jangan sampai sebagai korban (kolateral demage) saja,” cetusnya.
Tanda Menuju Resesi
Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy & Policy Studies (PEPS) mengutarakan, sekarang ini ekonomi global berjalan menuju arah resesi. Beberapa indikasi, seperti inflasi terus membubung tinggi, akibat harga-harga melonjak dan utamanya harga komoditas dunia. Hal ini, sebagai dampak penerapan quantitative easing (QE) sebagai kebijakan yang diterapkan pemerintah AS yang berlangsung lama.
“Untuk merelaksasi tingginya harga barang sudah barang tentu pilihanya, menaikkan bunga bank central, agar harga semakin landai sehingga mengobati inflasinya,” tuturnya.
Hanya saja, lanjut Anthony, seberapa mampu suku bunga tinggi meredam inflasi yang terus menghantui. Kalau saja inflasi tetap membubung tinggi dan sulit diredam, maka akan nyata hadirnya stagflasi berpelung menjadi chaos.
Sebaliknya, terang Anthony, kendatipun harga komoditas ini berhasil diturunkan merespon suku bunga yang naik tersebut, maka akan berdampak terhadap perekonomian nasional Indonesia. Karena selama ini, harga komoditas yang tinggi terus menguntungkan Indonesia sebagai eksportir.
“Yang dikhawatirkan, suku bunga global yang dinaikkan tersebut, dan berhasil direspon dengan harga komoditas yang menurun, tentu akan sangat menyulitkan kembali bagi Indonesia,” terangnya.
Kalau hal ini terjadi, menurut Anthony, sangat terbuka capital outflow serta berkah win fall dari harga komoditas berangsur-angsur hilang. Begitupun cadangan devisa bakal tergerus sehingga Rupiah akan cenderung sulit dikendalikan.
“Belum lagi, dari sisi pendapatan dalam negeri sendiri tax ratio nasional masih rendah, sehingga agak mengkhawatirkan. Saat ini, kondisi baik-baik saja, karena diuntungkan faktor eksternal,” tegasnya.
Rencana The Fed
Untuk jangka pendek, menurut Anthony, pemerintah harus lebih waspada kalau saja The Fed (Bank Sentra AS) menaikkan bunga acuan hingga 1%, atau setidaknya 0,75% yang pasti sangat berpengaruh terhadap pelemahan rupiah. “Suka tidak suka yang terjadi perekonomian dunia melambat, termasuk AS juga mengalami masa sulit, sehingga hal tersebut menjadi pilihan,” terangnya.
Menurut Anthony, inflasi yang terjadi secara global ini merupakan cost push inflation atau dorongan akibat kenaikan harga karena berbagai faktor termasuk transportasi. Ditengah harga yang melambung, pastinya terjadi penurunan permintaan. “Jadi inflasi sekarang bukan demand pull tetapi cost push inflation atau harga satuan barang menjadi lebih mahal,” tuturnya.
Terkait potensi krisis, Anthony menerangkan, apa yang diprediksi dari 15 negara dari 100 negara termasuk Indonesia yang diramalkan menuju jurang krisis. Kondisi masing-masing negara berbeda seperti Sri Lanka misalnya, sebelum krisis global, perekonomian Sri Lanka juga sudah terpasung.
“Sebenarnya hanya butuh sekitar 10 miliar Dollar AS saja untuk menyelamatkan Sri Lanka, namun itu tidak mudah, tergantung geopolitik global, dibantu atau tidak. Dan ternyata tak ada yang bantu, jadi makin parah,” ujar Anthony./







































