www.bisnistoday.co.id
Kamis , 27 Agustus 2026
Home EKONOMI Sektor Riil Mencari Bentuk Baru Solidaritas Kelas Pekerja
Sektor Riil

Mencari Bentuk Baru Solidaritas Kelas Pekerja

Tantangan hari ini adalah menemukan bentuk solidaritas baru di tengah dunia kerja yang semakin terfragmentasi.

Dr Nicolaas Warouw (kiri) dan Dr Andi Achdian seusai acara diskusi di Universitas Nasional, Rabu (26/8/2026) (foto: Adi)
Dr Nicolaas Warouw (kiri) dan Dr Andi Achdian seusai acara diskusi di Universitas Nasional, Rabu (26/8/2026) (foto: Adi)
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Perubahan dunia kerja menghadirkan persoalan baru bagi politik kelas pekerja. Jika pada masa lalu buruh relatif mudah membangun solidaritas karena bekerja dalam ruang, waktu, dan kondisi yang sama, kini batas-batas tersebut semakin kabur. Buruh tersebar di pabrik, kantor, platform digital, hingga sektor informal dengan pengalaman kerja dan kepentingan yang semakin beragam.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam diskusi bertajuk Kapitalisme Mutakhir, Budaya Kelas Pekerja, dan Teknologi” yang dipandu oleh Kepala Pusat Pengkajian Peradaban dan Perubahan Sosial (P4S) Universitas Nasional, Andi Achdian,  di Jakarta, Rabu (26/8/2026). Diskusi menghadirkan Dr. Nicolaas Warouw, antropolog dari Universitas New South Wales Canberra, Australia.

Pertanyaan mengenai masa depan solidaritas kelas menjadi penting ketika teknologi dan perubahan struktur ekonomi tidak hanya mengubah cara orang bekerja, tetapi juga memengaruhi cara kelas pekerja melihat dirinya sendiri.

Dalam diskusi yang di Ruang  Meeting Cyber Library, Unas ini, Nicolaas Warouw—yang akrab disapa Nico, menyoroti perubahan budaya yang berlangsung di kalangan buruh, salah satunya melalui pengalamannya sewaktu meneliti soal buruh di Tangerang pada awal 2000-an.

Menurutnya, perubahan kelas pekerja tidak dapat dilihat hanya dari posisi mereka dalam proses produksi. Kehidupan buruh juga mengalami perubahan dalam hal gaya hidup, konsumsi, teknologi, dan cara mereka membangun identitas sosial.

Ia mencontohkan bagaimana sebagian buruh di Tangerang mulai mengadopsi berbagai bentuk budaya kehidupan modern. Berdandan, memiliki telepon seluler, hingga mengikuti pola konsumsi tertentu menjadi bagian dari perubahan tersebut. Bahkan, kepemilikan telepon seluler dalam sejumlah kasus tidak selalu berjalan seiring dengan kemampuan menggunakan seluruh teknologi yang tersedia di dalamnya.

Fenomena tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa kelas pekerja bukanlah kelompok yang statis. Mereka tidak hanya berhadapan dengan persoalan upah dan kondisi kerja, tetapi juga dengan perubahan budaya yang dibawa oleh perkembangan kapitalisme dan teknologi.

Di satu sisi, konsumsi dan teknologi dapat menjadi bagian dari proses integrasi buruh ke dalam kehidupan modern. Namun di sisi lain, perubahan tersebut juga menghadirkan pertanyaan mengenai bagaimana pengalaman bersama sebagai kelas pekerja dipertahankan ketika identitas dan gaya hidup mereka semakin beragam.

Makin tersebar

Persoalan solidaritas menjadi semakin kompleks ketika tempat kerja tidak lagi menjadi satu-satunya ruang pembentukan identitas kelas.

Pekerja platform digital, pekerja informal, pekerja kantor, dan buruh manufaktur dapat berada dalam posisi yang berbeda-beda. Mereka menghadapi bentuk kontrol kerja, pendapatan, serta hubungan dengan pemberi kerja yang tidak selalu sama.

Dalam situasi seperti ini, pertanyaan besarnya adalah: apa yang terjadi pada solidaritas kelas ketika buruh tidak lagi bekerja dalam ruang dan kondisi yang sama?

Pertanyaan tersebut sekaligus menantang bentuk-bentuk lama organisasi kelas pekerja. Serikat buruh, misalnya, secara historis berkembang dari pengalaman bersama di tempat kerja. Namun ketika pekerjaan semakin tersebar dan hubungan kerja semakin fleksibel, basis solidaritas tersebut menghadapi tantangan baru.

Teknologi bahkan memiliki posisi yang ambivalen. Ia dapat digunakan untuk mengontrol pekerja, mengatur ritme kerja, dan menciptakan bentuk-bentuk pekerjaan baru. Tetapi teknologi yang sama juga dapat membuka ruang komunikasi dan organisasi baru di antara pekerja yang secara fisik tidak berada di tempat yang sama.

Dengan demikian, persoalannya bukan semata-mata apakah teknologi melemahkan atau memperkuat kelas pekerja. Yang lebih mendasar adalah bagaimana pekerja membangun pengalaman bersama dan kepentingan kolektif di tengah perubahan tersebut.

Pertanyaan lain yang muncul dari peserta diskusi membawa pembahasan pada persoalan deindustrialisasi. Apa yang terjadi ketika basis industri yang selama ini menjadi ruang penting pembentukan kelas pekerja mulai menghilang?

Kasus pabrik tekstil Sritex  di Solo menjadi salah satu contoh yang disinggung dalam diskusi. Ketika sebuah kawasan industri atau perusahaan manufaktur besar mengalami keruntuhan, persoalannya bukan hanya hilangnya lapangan pekerjaan. Ada kemungkinan ikut hilangnya ruang sosial yang selama bertahun-tahun menjadi tempat pekerja membangun pengalaman bersama, jaringan solidaritas, dan identitas sebagai kelas pekerja.

Di titik ini, deindustrialisasi menghadirkan persoalan politik yang lebih besar. Jika pabrik tidak lagi menjadi pusat kehidupan ekonomi dan sosial pekerja, lalu dari mana politik kelas pekerja akan dibangun?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan di Indonesia, ketika sebagian tenaga kerja bergerak dari sektor manufaktur menuju sektor jasa, pekerjaan informal, maupun pekerjaan yang dimediasi platform digital.

Menurut Nico kelas pekerja tidak serta-merta menghilang ketika pabrik tutup. Namun bentuk dan pengalaman kelas tersebut dapat berubah. Seorang mantan buruh pabrik, misalnya, dapat berpindah menjadi pekerja informal atau memasuki jenis pekerjaan lain yang tidak memiliki ruang kolektif seperti pabrik.

Perubahan itu membuat politik kelas menghadapi tantangan untuk menemukan kembali titik temu di antara pengalaman kerja yang semakin terfragmentasi.

Diskusi tersebut menempatkan Indonesia sebagai ruang penting untuk melihat perubahan kelas pekerja secara lebih konkret. Transformasi industri, perkembangan teknologi digital, perubahan budaya konsumsi, dan pertumbuhan pekerjaan informal berlangsung secara bersamaan.

Karena itu, memahami kelas pekerja hari ini tidak cukup hanya dengan melihat hubungan antara buruh dan pemilik modal di dalam pabrik. Kelas pekerja juga perlu dipahami melalui kehidupan sehari-hari: bagaimana mereka bekerja, menggunakan teknologi, mengonsumsi barang, membangun identitas, dan berhubungan satu sama lain.

Perubahan tersebut pada akhirnya membawa pertanyaan yang lebih besar mengenai masa depan politik kelas.

Jika solidaritas buruh pada masa lalu banyak dibangun dari kesamaan tempat kerja dan pengalaman produksi, maka tantangan hari ini adalah menemukan bentuk solidaritas baru di tengah dunia kerja yang semakin terfragmentasi.

Di sinilah perdebatan mengenai kapitalisme mutakhir, budaya kelas pekerja, dan teknologi menjadi penting. Bukan semata untuk menjelaskan bagaimana dunia kerja berubah, tetapi juga untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana pekerja dapat membangun kekuatan kolektif ketika ruang kerja, bentuk pekerjaan, dan bahkan identitas kelas mereka terus berubah.//

 

 

 

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Peserta Roundtable Discussion “Mewujudkan Aksi Kolaborasi Ekonomi Sirkular dalam Rantai Nilai TPT. (dok:Ist)
Sektor Riil

Percepat Ekonomi Sirkular, Pelaku Rantai Nilai Tekstil Dorong Kolaborasi

JAKARTA, Bisnistoday – Para pelaku industru tekstil yang tergabung dalam Indonesia Business...

Sektor Riil

IM3 Hadirkan Lebih Banyak Manfaat dalam Satu Paket Prabayar

JAKARTA, Bisnistoday – Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) melalui brand IM3...

Sektor Riil

Resmi Berlakukan Mandatori B50, Prabowo Klaim Indonesia Stop Impor Solar Bulan Ini

JAKARTA - Pemerintah secara resmi mengumumkan penghentian total kebijakan impor Bahan Bakar...

Kunjungan Denso
Sektor Riil

Pabrikan Manufaktur Denso Minta Penyederhanaan Administrasi serta Peningkatan Infrastruktur

JAKARTA, Bisnistoday – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menerima perwakilan principal Denso...