BANDUNG, Bisnistoday – Operasi tulang belakang masih kerap dianggap sebagai tindakan yang menakutkan karena adanya kekhawatiran terhadap risiko kelumpuhan. Namun, perkembangan teknologi kedokteran membuat prosedur bedah tulang belakang terus berkembang, termasuk melalui penggunaan robotic navigation untuk membantu dokter melakukan tindakan secara lebih terencana dan presisi.
Hal tersebut disampaikan dr. Asrafi Rizki Gatam, Sp.OT (K-Spine), Orthopaedic Spine Surgeon RS Premier Bintaro, dalam Media Gathering “Penanganan Terkini Problem Tulang Belakang dengan Navigasi Robotic” di Hotel Grand Tjokro Premiere Bandung, Kamis (17/9) lalu.
Menurut dr. Asrafi, kekhawatiran terhadap operasi tulang belakang memang masih ditemukan di masyarakat. Salah satunya anggapan bahwa operasi tulang belakang dapat menyebabkan pasien mengalami kelumpuhan.
“Saya juga tidak memungkiri bahwa operasi tulang belakang memang memiliki risiko kelumpuhan atau cedera saraf. Tetapi, sebenarnya berapa banyak operasi tulang belakang yang bisa mengakibatkan kelumpuhan atau cedera saraf? Angkanya sangat minimal,” kata dr. Asrafi.
Ia mengatakan, berdasarkan literatur yang dipaparkannya, tingkat kepuasan pasien yang menjalani operasi tulang belakang mencapai sekitar 80–90 persen. Perkembangan teknologi juga dinilai dapat membantu meningkatkan hasil dan pengalaman pasien.
“Jadi, sebenarnya operasi tulang belakang bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan. Tidak perlu takut apabila memang diperlukan tindakan pada tulang belakang, apalagi jika dilakukan oleh dokter yang memang berkompeten di bidangnya.”
Mengenal Fungsi dan Masalah pada Tulang Belakang
Sebelum membahas teknologi operasi, dr. Asrafi menjelaskan pentingnya memahami fungsi tulang belakang. Struktur tersebut berperan menopang tubuh, menjaga stabilitas, membantu pergerakan, sekaligus menjadi tempat bagi struktur saraf.
“Tulang belakang seperti tiang yang menjaga tubuh tetap stabil,” kata dr. Asrafi dalam pemaparannya.
Di dalam struktur tulang belakang terdapat saraf yang bercabang dari otak dan berperan dalam mengontrol berbagai fungsi tubuh. Saraf tersebut antara lain berkaitan dengan fungsi otot serta organ tertentu.
Tulang belakang juga memungkinkan manusia melakukan berbagai gerakan, seperti membungkuk, memutar badan, maupun bergerak ke samping karena adanya sendi pada tulang belakang.
Permasalahan tulang belakang sendiri cukup beragam. Kondisinya dapat berupa tumor, infeksi, penyakit degeneratif akibat proses penuaan, hingga kelainan bentuk tulang belakang.
Namun, menurut dr. Asrafi, salah satu masalah yang banyak ditemukan berkaitan dengan proses degeneratif atau penuaan.
“Kebetulan, pada tulang belakang, proses penuaan atau aging process mendominasi berbagai permasalahan yang terjadi,” jelasnya.
Proses degenerasi pada tulang belakang dapat terjadi secara bertahap. Di antara tulang-tulang belakang terdapat bantalan yang pada kondisi normal membantu tubuh beraktivitas tanpa gangguan.
Seiring waktu, bantalan tersebut dapat mengalami kerusakan atau robekan. Kondisi itu dapat menimbulkan sakit pinggang yang muncul dan menghilang.
Jika terjadi berulang, bantalan dapat semakin rusak hingga keluar dari posisi semestinya. Kondisi tersebut dikenal sebagai Hernia Nucleus Pulposus (HNP) atau yang dalam istilah awam sering disebut saraf kejepit.
“Ketika bantalan keluar, bantalan tersebut dapat menjepit saraf yang berada di dalam saluran tulang belakang. Akibatnya, muncul kondisi yang disebut radicular pain atau nyeri yang menjalar,” ujar dr. Asrafi.
Nyeri yang muncul bergantung pada bagian saraf yang mengalami penjepitan. Pada bagian pinggang, misalnya, rasa sakit dapat menjalar dari bokong hingga kaki. Sementara jika terjadi di bagian leher, nyeri dapat menjalar hingga tangan.
Pada kondisi tertentu, pasien dapat membutuhkan pengobatan maupun tindakan operasi untuk menangani bagian bantalan yang pecah atau keluar. Perubahan pada bantalan juga dapat berkembang menjadi nyeri kronis.
Operasi Tulang Belakang Lebih Minim Invasif
Perkembangan teknik operasi membuat pendekatan bedah tulang belakang mengalami perubahan. Jika sebelumnya operasi membutuhkan sayatan panjang dan pembukaan otot untuk mencapai tulang, kini dokter dapat menggunakan pendekatan minimal invasif.
Dr. Asrafi menjelaskan bahwa dalam operasi konvensional, punggung pasien dapat dibuka cukup panjang untuk memberikan akses kepada dokter dalam memasang implan.
“Sekarang kami mencoba mengubah pendekatan tersebut. Bagaimana caranya agar pemasangan implan bisa dilakukan tanpa membuat sayatan besar di bagian tengah punggung, melainkan melalui beberapa sayatan kecil di bagian samping.”
Pendekatan tersebut bertujuan mengurangi cedera terhadap jaringan, termasuk otot di sekitar tulang belakang. Dengan demikian, perkembangan teknik minimal invasif juga diarahkan untuk mendukung mobilisasi dan pemulihan pasien.
Namun, muncul tantangan lain, yakni bagaimana mempertahankan tingkat presisi ketika dokter tidak membuka area operasi secara luas.
“Pertanyaannya, bagaimana kita bisa mendapatkan presisi yang sama atau bahkan lebih baik dibandingkan operasi tulang belakang terbuka?” ujar dr. Asrafi.
Bukan Pengganti Dokter, Robot Bantu Menentukan Posisi Implan
Di sinilah teknologi navigasi dan robotik berperan. Menurut dr. Asrafi, dokter tetap menjadi pihak yang menentukan strategi operasi, termasuk menentukan lokasi pemasangan implan.
Teknologi kemudian digunakan sebagai perangkat pendukung untuk membantu merealisasikan rencana tersebut.
“Dokter harus membuat perencanaan sebelum operasi. Strategi operasi harus ditentukan terlebih dahulu, termasuk di mana implan akan dipasang. Itu merupakan bagian yang dilakukan oleh dokter.”
Dalam perkembangannya, teknologi perangkat lunak dan perangkat keras kemudian dikombinasikan untuk membantu proses bedah. RS Premier Bintaro menggunakan ExcelsiusGPS, sistem robotik yang membantu dokter dalam melakukan tindakan, termasuk pemasangan implan pada tulang belakang.
“Kalau dua hal tersebut digabungkan, yaitu software dan hardware, seperti halnya komputer yang memiliki sistem operasi dan perangkat kerasnya, maka dalam bidang tulang belakang muncul teknologi seperti ExcelsiusGPS,” jelas dr. Asrafi.
ExcelsiusGPS bekerja dengan mengintegrasikan proses perencanaan dan panduan tindakan. Setelah dokter menentukan rencana pemasangan implan, sistem robotik membantu mengarahkan instrumen menuju lokasi yang telah direncanakan.
“Setelah dokter menentukan rencana pemasangan implan, robot akan membantu mengarahkan instrumen menuju lokasi yang telah direncanakan,” sambungnya.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi robotik menjadi alat bantu untuk mendukung dokter melakukan prosedur secara lebih terarah dan presisi.
Meski menggunakan teknologi robotik, peran dokter tetap menjadi bagian utama dalam prosedur. Dokter menentukan strategi dan rencana tindakan, sedangkan sistem robotik membantu pelaksanaan berdasarkan rencana tersebut.
Dr. Asrafi juga menjelaskan bahwa salah satu karakteristik robot adalah kemampuannya membantu pekerjaan secara konsisten selama sistem berfungsi dengan baik. “Bagaimanapun juga, robot tidak memiliki rasa lelah. Selama perangkatnya berfungsi dengan baik, robot dapat digunakan untuk membantu pekerjaan secara konsisten.”
Dengan demikian, penerapan robotic navigation bukan berarti menggantikan keahlian dokter, melainkan memberikan perangkat tambahan untuk menghadapi kompleksitas operasi tulang belakang.
Teknologi Ditujukan untuk Pemulihan Pasien
Perkembangan bedah tulang belakang pada akhirnya tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada pengalaman dan proses pemulihan pasien.
Jika dahulu pasien dapat membutuhkan waktu rawat yang cukup panjang setelah operasi tulang belakang, perkembangan teknik bedah kini mengarah pada mobilisasi dan pemulihan yang lebih cepat.
“Sekarang hampir semua prosedur bedah, bukan hanya pada tulang belakang, berusaha membuat pasien dapat menjalani perawatan yang lebih singkat, melakukan mobilisasi lebih cepat, dan mengalami pemulihan yang lebih cepat.”
Melalui pengembangan layanan spine dan pemanfaatan teknologi seperti robotic navigation, RS Premier Bintaro memperkenalkan pendekatan modern dalam penanganan berbagai masalah tulang belakang.
Kegiatan media gathering tersebut turut dihadiri Chintami Handayani Passat, Manager Marketing RS Premier Bintaro, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan perkembangan layanan dan teknologi kesehatan kepada masyarakat di Bandung dan sekitarnya.
Kehadiran teknologi robotic navigation menjadi bagian dari perkembangan layanan bedah tulang belakang, dengan dokter tetap memegang peran utama dalam menentukan diagnosis, strategi, dan tindakan yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.









































