LHOKSEUMAWE, Bisnistoday- Gubernur Aceh, Nova Iriansyah meminta semua pihak untuk mendukung segala upaya pemerintah daerah untuk menuju kedaulatan pengelolaan energi. Pengambil alihan Wilayah Kerja B kepada pengelolaan PT Pema Global Energi merupakan bentuk kesuksesan dan melalui perjalanan panjang semenjak Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) lahir melalui PP 23 Tahun 2015.
BPMA sendiri merupakan salah satu bukti implementasi MoU Helsinky dan UU Pemerintah Aceh Nomor 11 Tahun 2006.
“Untuk PT PEMA (PT Pembangunan Aceh) dan PGE dalam pengawasan BPMA sudah setahun menjalan proses alih kelola WK B, sebagai tonggak sejarah. Dalam prosesnya, banyak tantangan, dan usaha ini akhirnya berhasil dengan dibuktikan mampu mengelola WK B, untuk kesejahteraan rakyat Aceh. Kami apresiasi hal ini,” ungkap Gubernur Nova, saat kegiatan Kenduri Syukuran Satu Tahun Alih Kelola Wilayah Kerja Blok B, di Lhoksumawe, Aceh, Kamis (26/5).
Gubernur Nova menuturkan, perjalan panjang alih kelola ini bahkan diawali dari kesepakatan Helsinsky, dan berkembangkan hingga kesepakatan hidrokarbon. Untuk wilayah pengelolaan blok migas dibawah 12 mil laut sesuai aturan menjadi kewenangan pemda Aceh. Misalnya, ada eksplorai Blok Andaman I, dan Repsol juga disusul Zaratex terus berkembang.
“Ini semua memang ditakdirkan untuk kesejahteraan rakyat Aceh dimasa mendatang,” tuturnya. “Kembali saya berterima kasih kepada BPMA, PT PEMA, dan PT PGE serta semua pihak, bahkan dalam pengelolaan setahun yang lalu hingga mencapai 19 tahun kedepan,” terangnya.
Nova Iriansya menyatakan, semua upaya yang dilakukan ini muaranya adalah kesejahteraan rakyat Aceh. Misalnya dalam waktu dekat akan dibangun jalan desa sepanjang 6 km. Jalan desa ini sudah bertahan tahun mengalami kerusakan. “Kalau tak mengalir ke rakyat, sama aja bohong. Tak ada artinya, kalau tak terasa ke akar rumput. Mari sama-sama sejahterakan rakyat dan harus nampak mulai sekarang.” terangnya./








































