Setelah menikah, H Chandra Datuk Bandaro SH memulai profesi barunya sebagai penjual gambir. Anggota DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota itu mengumpulkan dan mencari gambir dari kampung ke kampung. Itu dilakukannya karena honor sebagai tenaga pengajar sangat kecil dan tidak bisa diandalkan guna mencukupi kebutuhan sehari hari.
“Maka dicobalah berjualan gambir. Cuma awalnya saya memulai dulu dengan berjualan karet atas saran abang H Sahar dari Gunung Malintang. Dia menyarankan dari mengajar yang ngak ada uangnya, bagaimana kalau dicoba berjualan karet di Payakumbuh, Saat saya tinggal di Tanjung Pati. Istri kerja di Departemen Agama di sana di kabupaten,” ungkap H Chandra SH.
Karena tidak ada pengalaman, awal berjualan karet muncul masalah. Modal yang dipakai untuk berjualan karet saat itu adalah dari pinjaman di Kantor Departemen Agama , tempat istri bekerja sebesar Rp700.000. Dengan uang pinjaman itulah H Chandra SH keliling membeli karet dari kampung ke kampung.
“Karena baru membeli karet dan belum mengerti maka karet yamg dibeli ternyata banyak yang susutnya. Karet yang dibeli basah dan ditimbang, dijapuik. Kita tidak tahu. Empat hari setelah itu datang urang beli, ternyata karet itu susutnya banyak, maka habislah sebagian modal usaha,” ungkap H Chandra SH.
Karena takut bertengkar dengan istri di rumah, terpaksalah membohongi istri . Setiap ditanya apakah ada dapat uang penjaulan kareta, H Chandra SH selalu menjawab “ada”. “Kalau ditanya apakah ada untung, selalu dibilangin ada keuntungan sedikit,” kata H Chandra mengingat masa lalu itu.
Kebohongan yang dilakukannya kepada istrinya tersebut selalu membuat dirinya gelisah setiap malam. Dia mulai berfikir, kalau begini terus, bisa – bisa pinjaman Rp700.000 dari kantor istri itu bisa ludes dan hasilnya tidak ada.Ini sangat berbahaya.
“Maka saya bertanyalah kepada orang yang membeli, kenapa barang ini jadi susut? Apakah tidak dipotong basa air, biasanya 10 persen. Setiap menimbang 100 kilo potong 10 kilo karena karet diambil dari kolam. Akhirnya dicoba seperti itu dan alhamdulilah berjalan lancer,”ungkap H Chandra.
Karet-karet yang kumpulkan di Payakumbuh dikirim ke Bangkinang. Di sana terdapat sebuah PT untuk menampung karet yaitu PT Tanun. Saat itu H Chandra telah menjalani profesinya sebagai guru honor sambil jualan, Setiap datang ke sana, dia selalu berpakaian rapi layaknya sebagai seorang guru.
“ Karena sering datang balok-balik ke PT Itu, bertemulah saya dengan anak pembeli karet di PT Tanun itu. Karena saya guru tentu penampilan bersih. Ketika saya melihat anak bos karet itu menggambar maka saya bantu dia belajar menggambar. Suatu kali, saat Bersama anak itu di PT, saya diajak ke rumah bos karet itu, “kata H Chandra SH.,
“ Akhirnya anak itu senang dan tertarik dengan dengan saya . Suatu kali saat kami menggambar bersama anaknya, diajaklah oleh orang tua anak itu ke rumahnya. “kata H Chandra SH.
Bos karet itu akhirnya percaya pada H Chandra SH. Dia bertanya mengapa bawa bawa karenya sedikit saja dan pakaian saya masih bersih dan rapi. “Saya katakan kemampuan saya hanya segitu, modal saya ngak ada,” jawan H Chandra SH kepada bos karet itu.
Bos karet itu akhirnya menawarkan kerja sama. H Chandra SH diminta mencari karet sebanyak-banyaknya dan dicocokkan dengan harga pabrik. Bila kekurangan uang untuk membeli karet itu, bos tersebut siap untuk menutupinya dan membantunya.
“Dia bilang kalau kamu mau dagang, cari karet di sana, cocokan harga dengan pembeli nanti saya kirim uang. Terbukah ceritalah dengan bapak itu. Akhirnya saya ke Payakumbuh cari karet bila kurang uang telepon dia. Akhirnya jadilah kita juragan karet 1989 sampai 1995.
Setelah meningkat penjualan di karet, H Chandra SH mulai melirik bisnis berjualan gambir. Dari hasil berjualan karet, H Chandra SH telah berhasil mengumpulkan modal sebesar Rp 600 juta. Dari uang hasil karet itu dibelikan sebagian untuk mobil dan motor, dan sisanya tinggal Rp 200 juta, untuk berjualan gambir pada tahun 1989 .
“Akhirnya berjalanlah bisnis gambir ini, kebetulan ada keluarga istri untuk ekspor. Coba berlangganan dengan dia, awalnya minta 200 kilo sampai 300 kilo. Setelah berjalan setahun akhirnya sampailah permintaan karet mencapai satu ton dan dua ton untuk di ekspor,” cerita H Chandra SH.
Karena sudah berhasil di Payakumbuh,H Chandra SH minta izin pada bos gambir itu untuk berjualan gambir ke Padang. Alhamdulillah penjualan gambir ke Padang pun berjalan lancar dan berkembang, bahkan H Chandra SH mengantar gambir pakai truk Fuso ke Padang.
Tapi malang tak dapat ditolak. Tiba-tiba datang krisis moneter 1998. Semua modal habis dan kembali ke titik nol. “ Sampai kini begitulah modelnya, di samping berusaha berjualan gambir, maka 2014 mencoba jadi Caleg,” kata H Chandra SH..
(tulisan ke-2)








































