JAKARTA, Bisnistoday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (22/1) kembali tergelincir dan ditutup melemah di level 8.992,2, menandai dua hari penurunan beruntun sekaligus pertama kalinya kembali ke bawah 9.000 sejak pertengahan pekan lalu. Tekanan jual investor asing masih menjadi faktor dominan yang membebani pergerakan pasar.
Dalam dua hari perdagangan terakhir, arus dana asing mencatat net foreign outflow sekitar Rp3,2 triliun, dengan tekanan terbesar mengarah ke saham-saham perbankan berkapitalisasi jumbo. Saham BBCA menjadi penyumbang outflow paling signifikan, mencapai sekitar Rp2,6 triliun, disusul BMRI, BBNI, dan BBRI.
Analis Senior PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai pelemahan ini tidak terlepas dari meningkatnya kehati-hatian investor terhadap dinamika kebijakan domestik. Salah satu sentimen utama yang membayangi pasar adalah kekhawatiran terhadap independensi Bank Indonesia, yang dinilai berpotensi menambah ketidakpastian serta meningkatkan premi risiko aset keuangan Indonesia.
“Sentimen tersebut membuat investor global memilih mengurangi eksposur pada saham-saham likuid, khususnya sektor perbankan,” ujar analis Mirae Asset, Rully, dalam kajiannya.
Menurut Rully, ditengah tekanan tersebut, pasar masih menyisakan ruang optimisme. Sektor komoditas seperti batu bara, nikel, dan emas, serta emiten berorientasi ekspor, diperkirakan berpotensi menjadi penopang IHSG dalam jangka pendek. Pelemahan nilai tukar dan permintaan global terhadap komoditas dinilai dapat menjaga kinerja sektor ini relatif lebih defensif.
Teknikal: Konsolidasi Sehat, Peluang Rebound Terbuka
Dari sisi teknikal, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Tasrul Tanar menjelaskan bahwa meskipun IHSG melemah 0,20%, struktur tren jangka pendek masih tergolong bullish. Dengan nilai R-squared 0,931 dan slope 12,20, pergerakan indeks dinilai konsisten dan terarah.
Namun demikian, sejumlah indikator momentum menunjukkan kondisi oversold ekstrem. RSI di level 11,18, Williams %R -80,10, dan CMO -77,63 mengindikasikan tekanan jual yang sudah sangat dalam, sehingga membuka peluang terjadinya technical rebound apabila area support mampu bertahan.
Volume perdagangan yang meningkat di atas rata-rata juga menandakan aktivitas pasar yang tinggi di fase koreksi, bukan kepanikan massal.
Secara teknikal, resistance terdekat berada di kisaran 9.100–9.150, sementara support krusial berada di level 8.875. Selama IHSG mampu bertahan di atas batas tersebut, pelemahan saat ini masih dipandang sebagai pullback sehat, bukan sinyal pembalikan tren.
Ke depan, pelaku pasar diperkirakan masih akan bersikap selektif sambil menanti kejelasan arah kebijakan moneter dan stabilitas institusional. Dengan tekanan global dan domestik yang masih membayangi, pergerakan IHSG berpotensi tetap fluktuatif, meski peluang pemulihan teknikal tetap terbuka./


