www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 26 September 2026
Home EKONOMI Ekonomi & Bisnis INDEF : Kekuatan Ekonomi Asia Makin Berperan
Ekonomi & Bisnis

INDEF : Kekuatan Ekonomi Asia Makin Berperan

Pameran China Expo
PAMERAN ASEAN CHINA EXPO, di Nanning China, baru-baru ini./
Social Media

JAKARTA, Bisistoday – Badai krisis ekonomi dunia yang melanda di berbagai kawasan seperti Amerika Serikat dan Eropa akibat berbagai konflik geopolitik dunia, menjadikan Asia sebagai pusat perhatian baru bagi pertumbuhan ekonomi dunia. Beberapa negara maju yang memiliki peran penting, mengalami pelemahan sedangkan pertumbuhan Cina dan Korea Selatan semakin berperan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Asmiati Malik, Associate Researcher, The Institute for Development of Economics and. Finance (INDEF) dalam diskusi publik Ekonom Perempuan INDEF bertajuk “Evaluasi dan Perspektif Ekonom Perempuan terhadap Perekonomian Nasional” di Jakarta, Kamis (28/12).

Asmiati Malik mengatakan, perekonomian Indonesia berkait erat dengan ekonomi kawasan dan global, atau telah highly interconnected dengan perekonomian global. Ini, ditandai dengan beragamnya investasi yang masuk disamping impor barang industri dari luar negeri dan juga ekspor Indonesia ke pasar internasional.

“Terjadinya pergeseran pemain ekonomi global dari semula berorientasi ke ekonomi Barat menjadi Asia Centered Economy. Hal itu ditandai dengan kemampuan China bersama Korea Selatan yang unggul dalam merebut pasar ekspor mobil. Menggeser peran Jepang dan Jerman yang menurun, serta mandegnya industri mobil Amerika Serikat,” terang Asmiati.

Sementara, lanjut Asmiati, dari perspektif politik global ada peristiwa politik utama di Asia terutama Pemilu di Taiwan, India dan Indonesia. Pemilu Taiwan berpengaruh terhadap aliansi strategisnya dengan Amerika Serikat dan hubungannya dengan China. India dengan penduduknya yang besar, dan jika partai berkuasa BJP menang, akan mempengaruhi konstalasi politik bagi kawasan.

Demikian juga, lanjut Asmiati, terdapat juga risiko skenario geopolitik dari sisi militer. Terutama konflik di Myanmar dan melimpahnya pengungsi rohingya yang berpengaruh terhadap Indonesia. Ancaman agresi China ke Taiwan, Konflik Gaza, dan berlanjutnya perang Rusia – Ukraine. Jika Ukraina menang, maka akan terjadi penguatan aliansi NATO yang otomatis akan meningkatkan ketegangan dengan Rusia bersama China.

Jika Rusia menang, akan meningkatkan kontrol Rusia terhadap Laut Hitam dan Laut Arctic, yang berpengaruh terhadap kebijakan politik ke belahan dunia Timur.

“Dari perspektif Ekonomi, kenaikan suku bunga global akan meningkatkan resesi dunia. Peningkatan eskalasi perang dagang. Sektor pertanian Asia yang terancam panen padinya oleh El Nino berkepanjangan, dan lainnya,” tuturnya.

Mengenai kondisi global, tidak terlepas dari risiko kerusakan lingkungan di mana suhu pemanasan global dalam 20 tahun ke depan diperkirakan meningkat di atas 1,5 derajat C menuju 2.0 derajat Celcius. Jika terjadi, risiko amat besar akan menimpa produksi pertanian dan pangan, dan dampaknya pada pertumbuhan GDP global.

Investasi Strategis Nasional

Asmiati mengatakan, target investasi nasional pada 2024 meningkat menjadi Rp1,650 triliun atau naik 17,85% dibanding 2023 sebesar Rp1.400 triliun juga harus dicapai dengan penuh tantangan. Data menunjukkan, bahwa negara-negara yang menjadi pusat bisnis atau financial seperti Singapura, British Virgin Ireland dan Mauritius memainkan peran penting dalam investasi Indonesia.

Sementara, kontribusi investasi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) meningkat 29,68% terhadap GDP dan bertumbuh 5,77% pada Kuartal III tahun 2023 (Data: BPS,2023).

Hanya saja, menurut Asmiati, terjadi penurunan nilai investasi PMA pada sektor primer pada 2019-2023. Padahal sektor primer seperti tanaman pangan, perkebunan, peternakan, kehutanan, perikanan, pertambangan adalah sektor yang menopang kebutuhan dasar hidup kelas menengah bawah. Dibanding nilai investasi PMA di sektor Sekunder seperti industri makanan, alas kaki, kayu, kertas, kimia dan percetakan dan lainnya sebagai pendukung.

“Begitu juga pada investasi PMDN yang terbesar masih di sektor pertambangan. Untuk sektor Kehutanan, Perikanan, dan tanaman pangan, kebun dan peternakan amat tertinggal nilai investasi dibanding sektor Pertambangan.”/

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Ekonomi & Bisnis

Hartadinata Perkuat Pasokan Emas melalui Kerja Sama Pembelian Emas Murni dengan PT Freeport Indonesia

BANDUNG, Bisnistoday– PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) memperkuat bisnis bullion melalui kerja...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

KDKMP Akan Menjadi Agen dan Distributor Barang Bersubsidi

JAKARTA, Bisnistoday –Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) akan menjadi simpul distribusi barang...

Ekonomi & Bisnis

ProtoArc Indonesia Hadir di CIEIE 2026, Tawarkan Workspace Ergonomis

JAKARTA, Bisnistoday - China (Indonesia) International E-Commerce Industry Expo 2026 (CIEIE 2026)...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

KemenUMKM Andalkan Lembaga Inkubator Bangun Ekosistem Kewirausahaan

SURABAYA, Bisnistoday–Kementerian UMKM mengandalkan lembaga inkubator sebagai ujung tombak memperkuat ekosistem kewirausahaan...