www.bisnistoday.co.id
Jumat , 28 Agustus 2026
Home OPINI Gagasan Indonesia Dibangun Tanpa Politikus ‘Karbitan’
Gagasan

Indonesia Dibangun Tanpa Politikus ‘Karbitan’

Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Sumpah Pemuda 1928 dipahami sebagai kesepakatan umum tentang KeIndonesiaan dan nasionalisme kaum muda, yang diejawantahkan dalam satu sumpah bersama untuk kesatuan Tanah tumpah darah, Bahasa, dan Bangsa yang satu Indonesia.

Dalam landscape nasionalisme, sumpah pemuda 1928 tentu sudah selesai. Proklamasi 1945 telah menggariskan kesatuan nasional sebuah bangsa merdeka yang dimotori oleh kaum muda terdidik, berintegritas dan berwawasan internasional.

Boleh jadi Sumpah Pemuda 1928 kini oleh kaum muda Indonesia yang disebut Gen–Milenial dan Gen–Z dipahami hanya sebatas kumpul-kumpul para pemuda nasionalis yang kemudian bersama bersepakat bersumpah untuk tanah air, bangsa dan Bahasa yang satu.

Apakah kaum muda kini memahami bahwa proses nation building tersebut juga terbangun atas dasar pikiran-renungan mendalam akan kebutuhan sebuah “philosophie grondslag” sebagai dasar menyusun pokok-pokok pikiran ideal pendirian sebuah negara-bangsa?

Sebelum 1928, HOS Tjokroaminoto juga telah meletakkan ‘Pataka‘ Zelfbestuur atau negara dengan pemerintahan sendiri, sebagai proklamasi pendahuluan bagi sebuah bangsa di Hindia Timur.

Gerakan sosio-ekonomi-religius HOS Tjokroaminoto telah menggetarkan Belanda yang tidak menyangka telah munculnya sebuah gerakan intelektual di kalangan pribumi yang menginginkan kemandirian ekonomi dan nasionalisme.

Jika ditambah dengan intelektualisme radikal Sukarno, Hatta, Tan Malaka, Natsir, Syahrir dan kawan-kawan, jelas terbaca benang merah bahwa bangsa ini berdiri dengan landasan intelek yang sangat kuat dan mendunia.

Karena itu, Sumpah Pemuda 2023 hendaknya juga memunculkan langgam baru intelektualisme anak bangsa, dan tidak hanya berkutat pada keasyikan tersendiri dalam mengutak atik perangkat artifisial kontemporer, tanpa muatan-muatan ideologis.Sumpah Pemuda 2023 dan Musim (Peregangan) Politik bisa diartikan sebagai tuntutan hal-hal tersebut diatas.

Politik Gaya Lama

Musim peregangan politik bisa kita pahami sebagai satu situasi di mana para aktor politik dari masing-masing partai politik plus kelompok kepentingan sedang bergesekan menyesuaikan diri, untuk selanjutnya berproses dalam labirin dialektika tertentu guna memunculkan sintesa baru dari kecenderungan-kecenderungan politik lama.

Tetapi pasti kita mengharapkan bahwa pemunculan sintesa baru perpolitikan tersebut tidak hanya memamerkan perebutan kekuasaan politik nir substansi high politic. Atau hanya berupa fragmen-fragmen politik tidak bermutu dari para aktor politik.

Kita tidak bisa mengerti betapa para aktor politik dan ketua-ketua parpol menjadi bisu tuli hilang nalar, ketika dihadapkan pada kepentingan-kepentingan sesaat yang jauh dari hitungan ideologis. Apalagi sifat-sifat ksatria berani berbuat-berani bertanggungjawab.

Tentang kaum muda? Eep Saefulloh Fatah, dalam wawancara podcast Abraham Samad, mengharapkan agar kaum muda yang hendak muncul ke permukaan saat ini tidak mempraktikkan politik hina-dina dengan ikut dalam arus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) akut.

“Kalau itu dilakukan, maka itu perilaku politik yang ‘tua’ sekali. Dalam arti praktik politik kotor dengan memanfaatkan fasilitas KKN orang tua sudah menjadi barang punah yang telah ditinggalkan lama sekali oleh adab dan perilaku politik modern di negara dengan tingkat kematangan demokrasi amat baik.

Jika hal negatif di atas tetap dilakukan, maka kita semua sudah pantas kecewa terhadap perkembangan perpolitikan terakhir.

Mengharapkan adanya pergulatan pemikiran politik bermutu ala Ahmad Wahib dan Nurcholis Madjid di era 70-an, atau para intelektual muda se zamannya, menjadi jauh panggang dari api, jika mengidealkan kaum muda tertentu yang terlanjur bergelimang janji dan asyik tenggelam dalam kubangan KKN.

Ahh, terlalu receh jika konfigurasi politik kita sekarang hanya dihiasi dengan pameran sosok anak muda yang ingin jadi pemimpin negara bermodalkan fasilitas KKN bapaknya.

Jakarta, 31 Oktober 2023

Oleh : Pril Huseno, Pemerhati Kebijakan Publik

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Bencana Banjir Bandang dan Longsor di Nepal, 26 Agustus 2026 (Dok: NDTV)
Gagasan

Ketika Alam Mulai Kehilangan Daya Tahannya

SEJUMLAH  kengerian demi kengerian terjadi di berbagai belahan dunia: badai, kebakaran hutan,...

Saiful Chaniago
Gagasan

Gas sebagai Jembatan Energi Indonesia

MENJAGA lampu tetap menyala bukan sekadar perkara menekan sakelar. Di baliknya terdapat...

Patung Kota Jakarta
Gagasan

Mengurai Benang Kusut Jakarta: Saatnya Fakta dan Data Berbicara

MEMBAHAS Kota Jakarta tidak pernah kekurangan persoalan. Dari urusan bantuan sosial, transportasi...

Pemberdayaan Warga
Gagasan

Mangrove, Ekonomi Warga, dan Pertaruhan Iklim Dunia

JAKARTA, Bisnistoday - Ada ironi besar dalam cara kita berbicara tentang perubahan...