KARACHI, Bisnistoday – Indonesia kian memantapkan posisinya sebagai pemasok utama minyak sawit dunia, khususnya di pasar Pakistan. Negara Asia Selatan itu tercatat sebagai tujuan ekspor minyak sawit Indonesia terbesar ketiga, setelah Tiongkok dan India. Penguatan kerja sama ini ditegaskan dalam Indonesian Palm Oil Networking Reception yang digelar di Karachi, Jumat (9/1)
Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri mengungkapkan, dalam lima tahun terakhir ekspor minyak sawit Indonesia ke Pakistan tumbuh rata-rata delapan persen per tahun. Capaian tersebut mencerminkan kuatnya ketergantungan Pakistan terhadap minyak sawit Indonesia sekaligus kepercayaan jangka panjang pelaku usaha kedua negara.
“Pakistan adalah mitra strategis Indonesia. Pemerintah terus menggenjot kerja sama perdagangan agar manfaatnya makin dirasakan oleh masyarakat di kedua negara,” ujar Wamendag Roro dalam forum yang dihadiri pejabat tinggi pemerintah dan pelaku industri minyak nabati Pakistan
Momentum penting kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman pembentukan Joint Trade Commission (JTC) Indonesia–Pakistan oleh Wamendag RI dan Menteri Perdagangan Pakistan Jam Kamal Khan. JTC akan menjadi forum reguler untuk memperkuat promosi perdagangan, memfasilitasi pelaku usaha, mendukung UMKM, serta menyelesaikan hambatan teknis perdagangan secara lebih cepat dan terarah.
Pembentukan JTC juga menjadi tindak lanjut kunjungan Presiden RI ke Pakistan pada Desember 2025, yang menyepakati peningkatan Indonesia–Pakistan Preferential Trade Agreement (I-P PTA) menuju Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) pada 2027. Langkah ini dinilai akan membuka akses pasar yang lebih luas dan memperdalam integrasi ekonomi kedua negara
Minyak sawit sendiri telah lama menjadi tulang punggung perdagangan bilateral Indonesia–Pakistan. Selama lebih dari 15 tahun, minyak sawit mendominasi impor minyak nabati Pakistan, melampaui kedelai dan bunga matahari. Bahkan, Indonesia secara konsisten memasok 85–89 persen total impor minyak sawit Pakistan, menjadikannya pemasok yang paling andal di tengah ketidakpastian global.
Program B 50 Nasional
Di sisi lain, Wamendag Roro menegaskan bahwa kebijakan biodiesel nasional, termasuk persiapan program B50 pada 2026, tidak akan mengganggu pasokan ekspor. Indonesia, kata dia, telah mengatur keseimbangan antara kebutuhan domestik dan ekspor melalui peningkatan produktivitas, kapasitas produksi yang kuat, serta manajemen stok yang cermat.
Tak hanya fokus pada volume dan nilai perdagangan, Indonesia juga menekankan komitmen keberlanjutan sektor minyak sawit. Pemerintah terus memperkuat sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), meningkatkan ketertelusuran, serta memastikan kepatuhan hukum untuk menjawab berbagai isu global terkait lingkungan dan sosial.
Dalam kesempatan yang sama, Indonesia dan Pakistan juga menyepakati kerja sama antar-asosiasi melalui MoU antara GAPKI, PEORA, dan PVMA. Kemitraan ini bertujuan membangun edukasi publik dan narasi berbasis fakta mengenai minyak sawit Indonesia di Pakistan.
“Minyak sawit bukan sekadar komoditas, melainkan jembatan yang menghubungkan perekonomian dan masyarakat kedua negara,” tegas Wamendag Roro. Pernyataan tersebut diamini Menteri Perdagangan Pakistan Jam Kamal Khan yang menyebut Indonesia sebagai mitra strategis dan berharap kerja sama ke depan semakin terbuka serta saling menguntungkan.//








































