www.bisnistoday.co.id
Kamis , 23 Juli 2026
Home OPINI Indepth Jejak Terakhir Raja Jawa: Wafatnya PB XIII, Penjaga Warisan Mataram yang Tenang dan Tegar
Indepth

Jejak Terakhir Raja Jawa: Wafatnya PB XIII, Penjaga Warisan Mataram yang Tenang dan Tegar

Keraton Surakarta
WAJAH Keraton Surakarta Hadiningrat, belum lama ini./ istimewa/
Social Media

SUARA gamelan pelan mengalun di balik dinding Keraton Surakarta Hadiningrat. Para abdi dalem berjalan perlahan dengan pakaian lurik dan blangkon hitam, menunduk dalam kesedihan. Di tengah suasana hening itu, kabar duka menyebar: Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XIII Hangabehi wafat pada tahun 2025.

Kepergian beliau bukan sekadar berpulangnya seorang raja, melainkan berakhirnya satu bab panjang sejarah Mataram Islam yang telah bertahan lebih dari empat abad. Dari Sultan Agung Hanyakrakusuma hingga Pakubuwono XIII, dinasti ini telah menjadi penjaga nilai-nilai luhur, budaya, dan filosofi kehidupan orang Jawa.

Sejarah panjang ini berakar pada masa Kerajaan Mataram Islam di abad ke-17. Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613–1645) memimpin Mataram mencapai puncak kejayaannya, menaklukkan hampir seluruh Jawa dan menjadi simbol kekuasaan serta kebudayaan.

Namun, selepas wafatnya Sultan Agung, kerajaan mulai diguncang oleh pemberontakan dan perebutan takhta. Dari sinilah muncul Pangeran Puger, yang kelak dikenal sebagai Pakubuwono I, pendiri dinasti baru di Kartasura.

Melalui putranya, Pakubuwono II, sejarah Mataram berubah drastis. Tahun 1755, Perjanjian Giyanti membelah kerajaan menjadi dua: Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. Dari sinilah dua garis keturunan raja Jawa terus bertahan hingga zaman modern.

Surakarta: Singgasana Budaya yang Tak Pernah Padam

Di Surakarta, deretan raja Pakubuwono III hingga Pakubuwono X mengukir masa kejayaan kebudayaan Jawa.PB IV dikenal sebagai raja yang gemar pada kesenian, sementara PB X (1893–1939) menjadi simbol kebijaksanaan dan modernitas.

“Surakarta bukan sekadar istana, tetapi sekolah kehidupan,” ujar R. Ng. Purwanto Hadikusumo, sejarawan budaya keraton. “Dari PB X-lah muncul tradisi kehalusan, sopan santun, dan tatanan moral Jawa yang kemudian diwariskan ke seluruh nusantara.”

Di masa kolonial, PB X bahkan menjadi tokoh panutan rakyat dan simbol kebanggaan identitas Jawa di tengah penjajahan Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, tampuk kekuasaan dipegang oleh Pakubuwono XII (1945–2004).Beliau dikenal sebagai raja yang lembut dan berwibawa, menjembatani hubungan antara keraton dan Republik Indonesia yang baru berdiri.

Masa pemerintahannya menjadi periode adaptasi besar, ketika keraton bukan lagi pusat pemerintahan, tetapi simbol warisan dan budaya.Di bawah PB XII, Surakarta tetap hidup sebagai pusat spiritual dan kebudayaan Jawa, meski fungsinya lebih simbolik.

PB XIII Hangabehi: Penjaga Tradisi di Tengah Zaman Modern

Naik takhta pada 2004, Pakubuwono XIII Hangabehi menghadapi tantangan baru. Zaman berubah cepat, tradisi istana menua di tengah modernitas, dan bahkan terjadi perpecahan internal antara dua kubu keraton.

Namun PB XIII tetap tenang dan sabar. Dalam berbagai kesempatan, beliau menegaskan bahwa tugas utama seorang raja bukan berkuasa secara politik, melainkan menjaga keseimbangan batin dan warisan leluhur.

“Keraton adalah pusaka bangsa. Selama adat dijaga, jiwa Jawa akan tetap hidup,” ujar beliau dalam wawancara pada 2012.

Di bawah kepemimpinan PB XIII, Surakarta kembali memperkuat akar budaya: upacara Grebeg Mulud, Sekaten, dan berbagai ritual keraton tetap dijalankan dengan khidmat. Beliau juga mendukung pendidikan budaya bagi generasi muda dan pelestarian naskah-naskah kuno Jawa.

Wafatnya Sang Raja: Duka dan Doa dari Rakyat Surakarta

Ketika kabar wafatnya PB XIII menyebar, ribuan warga Surakarta berbondong-bondong datang ke alun-alun utara. Bendera setengah tiang berkibar di Keraton, sementara para abdi dalem menggelar doa dan tabur bunga.

“Sinuhun adalah simbol ketenangan dan kebijaksanaan. Beliau jarang berkata keras, tapi setiap ucapannya menyejukkan,” tutur K.R.T. Wuryanto, abdi dalem senior yang telah mengabdi lebih dari 40 tahun.

Wafatnya PB XIII seolah menutup satu era panjang penjaga tradisi Jawa. Namun di balik kesedihan itu, banyak yang percaya bahwa ruh Mataram, semangat kehalusan, tata krama, dan keteguhan akan tetap hidup di hati rakyatnya.

Kini, Keraton Surakarta bukan lagi pusat pemerintahan, tetapi pusat makna.Ia menjadi cermin dari nilai-nilai Jawa  yang tak lekang oleh waktu: ngajeni, andhap asor, lan sabar narima.

Sultan Agung pernah menulis dalam seratnya, “Sapa eling lan waspada, iku kang linuwih.”
(Siapa yang selalu ingat dan waspada, dialah yang utama.)

Kata-kata itu terasa hidup kembali saat rakyat Surakarta mengenang PB XIII, raja yang hidup sederhana, bersahaja, dan selalu mengingatkan bahwa kekuasaan sejati bukan di singgasana, melainkan di hati yang lapang.

Dari Sultan Agung hingga Pakubuwono XIII, perjalanan panjang dinasti Mataram adalah kisah tentang keteguhan menjaga nilai di tengah arus perubahan. Kini, setelah ratusan tahun, sinar istana Surakarta mungkin tak lagi semeriah dulu, tapi cahayanya tetap redup hangat, menerangi jiwa Jawa yang tak pernah padam./

Jakarta, November 2025

Tim Redaksi (dirangkum berbagai sumber)

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Topan Bavi melanda Tiongkok (dok:AP/Southchinamorning)
Indepth

Topan Bavi Terjang Asia, Bukti Krisis Iklim di Depan Mata

JAKARTA, Bisnistoday -  Lebih dari belasan orang tewas akibat tanah longsor yang...

Kebakaran hutan (dok:Unsplash/Matt-Palmer)
IndepthLingkungan

Mengantisipasi Dampak El Nino

JAKARTA, Bisnistoday - Perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana ilmiah yang hanya...

Timnas Prancis yang didominasi keturunan imigran (dok:FFF)
IndepthSport & Health

Manuver Politikus Sayap Kanan yang Memalukan

JAKARTA, Bisnistoday – Pada 16 Juni 2026 lalu, di tengah udara gerah...

Didier Deschamps (dokLInstagram/FFF)
IndepthSport & Health

Sang Legenda yang tak Pernah Kehilangan Cinta

JAKARTA, Bisnistoday - Sebelum melakoni laga melawan Norwegia, para pemain Prancis dan...