www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 3 Oktober 2026
Home EKONOMI Kuartal II-2023, Gubernur BI Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,1%
EKONOMIEkonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Kuartal II-2023, Gubernur BI Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,1%

GubernurBI, Perry Warjiyo
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo memproyeksikan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2023 tumbuh 5,1 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy), setelah perkiraan lima persen (yoy) pada kuartal I-2023.

“Pada kuartal I ekonomi sudah menggeliat, sehingga di triwulan kedua bisa mencapai 5,1 persen (yoy) atau bahkan lebih sedikit dengan adanya momen Lebaran,” kata Perry dalam  pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta, Selasa (18/4).

Dengan perkiraan tersebut, kata Perry, secara keseluruhan tahun 2023 perekonomian domestik kemungkinan akan tumbuh bias ke atas pada proyeksi BI dalam rentang 4,5 persen (yoy) sampai 5,3 persen (yoy) atau tepatnya kemungkinan sekitar 5,1 persen (yoy).

Perry menuturkan perkiraan keseluruhan tahun tersebut seiring dengan perekonomian Indonesia yang semakin menggeliat lebih baik berkat konsumsi swasta yang lebih kuat, kinerja ekspor lebih kuat, dan investasi khususnya non bangunan yang bagus.

Konsumsi swasta diperkirakan semakin kuat seiring dengan terus naiknya mobilitas, membaiknya keyakinan konsumen, dan meningkatnya daya beli seiring dengan penurunan inflasi.

Adapun kegiatan investasi tetap berlanjut, terutama investasi non bangunan. Sementara, kinerja ekspor tetap positif.

Perry menyebut, hingga Maret 2023 ekspor nonmigas Indonesia tumbuh tinggi yang didukung antara lain oleh ekspor batu bara, mesin listrik, dan kendaraan bermotor. Berdasarkan negara tujuan, ekspor non migas ke Tiongkok, Amerika Serikat (AS), dan Jepang menjadi kontributor utama.

Berdasarkan lapangan usaha, kinerja sektor industri pengolahan, perdagangan, serta informasi dan komunikasi diprakirakan tumbuh kuat.

“Secara spasial, peningkatan konsumsi terjadi di hampir seluruh wilayah dan diikuti kinerja ekspor yang tetap tinggi di wilayah Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua),” kata dia.

Pertahankan Suku Bunga

Pada kesempatan tersebut, Perry juga mengatakan bahwa BI kembali mempertahankan suku bunga acuan BI alias BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada 17-18 April 2023, setelah terakhir menaikkan bunga acuan pada Januari 2023.

Selain itu, suku bunga deposit facility pun tetap dipertahankan pada level 5 persen dan suku bunga lending facility etap di posisi 6,5 persen.

“Keputusan ini konsisten dengan stance kebijakan moneter yang pre-emptive dan forward looking untuk memastikan terus berlanjutnya penurunan ekspektasi inflasi dan inflasi ke depan,” kata Perry.

Ia meyakini suku bunga acuan sebesar 5,75 persen memadai untuk mengarahkan inflasi inti terkendali kisaran 2-4 persen di sisa tahun 2023 dan inflasi Indeks Harga Konsumen dapat kembali kesasaran 2-4 persen lebih awal dari perkiraan sebelumnya.

Kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah juga terus diperkuat guna mengendalikan inflasi barang impor (imported inflation) dan memitigasi dampak rambatan ketidakpastian pasar keuangan global terhadap nilai tukar rupiah.

“Penurunan inflasi memang sudah terjadi lebih cepat dan bahkan lebih rendah dari yang kami perkirakan,” katanya.

Menurut dia, tekanan inflasi yang terus menurun dipengaruhi oleh dampak positif kebijakan moneter BI yang pre-emptive dan forward looking.

Serta sinergi yang erat dalam pengendalian inflasi antara BI dan pemerintah (pusat dan daerah) dalam (Tim Pengendali Inflasi Pusat dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPIP dan TPID) melalui penguatan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di berbagai daerah.

Dengan demikian, Bank Sentral akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah) dalam pengendalian inflasi.

Tekanan inflasi terus menurun dan mendukung stabilitas perekonomian. Inflasi IHK (Indeks Harga Konsumen) secara bulanan tercatat 0,18 persen lebih rendah dari pola historis di periode awal bulan Ramadhan yakni Maret 2023, sehingga secara tahunan turun dari level bulan sebelumnya sebesar 5,47 persen menjadi 4,97 persen.

Perry menyebutkan penurunan inflasi terjadi di semua kelompok, yaitu inti, pangan bergejolak, dan harga diatur pemerintah.

Sementara, inflasi inti Maret 2023 terus melambat dari 3,09 persen menjadi 2,94 persen secara tahunan, yang dipengaruhi ekspektasi inflasi dan tekanan inflasi barang impor yang menurun serta pasokan agregat memadai dalam merespons kenaikan permintaan barang dan jasa.

“Adapun inflasi harga bergejolak turun dari 7,62 persen menjadi 5,83 persen secara tahunan,” tambahnya./

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Ekonomi & Bisnis

Dua Hari Operasi Tanpa Tarif, Jalan Tol Prosiwangi Segmen Gending-Paiton Layani 24 Ribu Kendaraan

PROBOLINGGO, Bisnistoday.co.id - PT Jasamarga Probolinggo Banyuwangi (JPB) mencatat sebanyak 24.914 kendaraan...

Perdagangan Global
HEADLINE NEWSKawasan Global

Menteri Perdagangan G20 Tolak Persoalan Pangan Dijadikan Alat Geopolitik

WISCONSIN AS, Bisnistoday.co.id – Menteri Perdagangan RI Budi Santoso mengatakan, para Menteri...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

OJK Tetapkan Perlakuan Khusus Kredit Bagi Debitur Terdampak Bencana di NTT

JAKARTA, Bisnistoday - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan perlakuan khusus atas kredit/pembiayaan...

Menteri Perindustrian
Ekonomi & Bisnis

Menperin Sarmuji: Industri Tumpuan Daya Ungkit Pertumbuhan Ekonomi dan Penyerapan Tenaga Kerja

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan sektor industri merupakan tumpuan...