JAKARTA, Bisnistoday- Militer AS melancarkan serangkaian serangan di dekat Selat Hormuz pada Selasa (26/5/2026) pagi, saat delegasi Iran berangkat menuju Qatar untuk berunding guna mengakhiri perang AS-Israel di Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengklaim serangan itu untuk melindungi pasukan AS dari kemungkinan ancaman pasukan Iran. Namun, mereka tidak memberikan rincian tentang serangan dan lokasinya.
“Target termasuk lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal Iran yang mencoba memasang ranjau,” kata Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, juru bicara CENTCOM, kepada Al Jazeera.
Media Iran melaporkan ledakan terjadi di Bandar Abbas, sekitar 70 km (42 mil) dari Selat Hormuz, di Iran selatan.
Serangan terbaru AS ini terjadi di tengah gencatan senjata yang telah berlaku sejak 8 April, dan di tengah upaya perundingan (yang dimediasi Qatar), untuk mengakhiri perang yang telah memicu krisis energi di seluruh dunia.
Koresponden Al Jazeera di Teheran mengatakan para pejabat Iran telah mengecam pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata oleh Amerika Serikat.
Seorang juru bicara senior angkatan bersenjata Iran memperingatkan serangan ini akan dibalas dengan respons yang jauh lebih berat dan dan akan membuat konflik ini makin meluas.
Sebelumnya, pada Senin, dalam sebuah unggahan panjang di Truth Social, Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran berjalan dengan baik, tetapi ia memperingatkan akan adanya serangan lebih lanjut jika tidak ada kesepakatan.
Serang Drone
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah menembak jatuh sebuah drone AS, tanpa menyebutkan kapan. Mereka hanya menyatakan “Iran berhak untuk membalas.”
Beberapa sumber Iran mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Korps Garda Revolusi Islam juga telah menargetkan sebuah kapal sebelum serangan AS tersebut.
Gesekan terbaru antara pasukan AS dan Iran ini membuat upaya untuk mengakhiri konflik semakin sulit.//

