JAKARTA, Bisnistoday – Kegiatan KTT G20 yang dihadiri resmi sebanyak 17 pemimpin dunia di Bali, harus mampu dijadikan kekuatan baru dalam kehidupan tatanan global. Ketidakberdayaan PBB, malah memberikan peluang Forum KTT G20 sebagai ajang menghasilkan kesepakatan dalam menata kehidupan global yang damai.
“Forum G20 harus menjadi kekuatan baru dan mewujudkan tatanan dunia baru, karena yang diketahui peran PBB tak efektif lagi dalam menciptakan suasana kondusif,” tutur Sekertaris Jenderal Partai Gelora Indonesia, Mahfuz Sidik, saat Gelora Talks bertema : Mampukah Indonesia Menjadi Juru Damai Dunia Lewat Presidensi G20, pada Rabu (16/11).
Ia mengatakan, Indonesia harus bisa menarik benefit untuk kepentingan di kancah global. Posisi Indonesia ranking 7 dunia, didalam KTT G20 Indoneia memiliki jalan relatif terbuka menjadi negara dengan potensi ekonomi lebih tinggi.”Ini sejalan dengan dengan tekad Partai Gelora dalam memperjuangkan menjadi Posisi Kelima Besar Dunia,” terangnya.
Hal lainya, menurut Mahfuz Sidik, Indonesia juga berkepetingan untuk menciptakan situasi perdamaian dunia. Seperti diketahui, dunia saat ini dihadapkan situasi konflik kedua kekuatan dunia dengan terpicunya perang Rusia -Ukraina. Sedangkan masa pandemic yang berkepanjangan masih berdampak ekonomi hingga sekarang.
“Seperti diketahui juga, saat KTT G20 juga dikabarkan muncul serangan Rusia ke wilayah negara perbatasan Polandia. Meski begitu, Rusia masih memandang penting pertemuan KTT G20 dengan mengirimkan Menlu Rusia ke Bali,” tuturnya.
Berikan Hasil Positif
Sementara, Robi Nurhadi, Kapuslitbang Ilmu Politik Universitas Nasional, situasi Indonesia sebagai pelaksana KTT G20 sangat luar biasa. Indonesia memiliki peluang, pertama, kapasitas untuk melakukan proses ke perundingan bisa diakselerasi menjadi lebih efektif.
“Tentu menu perundingan yang bisa ditawarkan. Kita lihat dua hari ini, namun demikian kontek kemampuan berunding, tetap ukuran strategi. Tidak hanya kepentingan inner side, tetapi juga dilihat dari eksternal,” ujarnya.
Selama ini, menurut Robi, perang Rusia-Ukraina tidak hanya melibatkan kedua negara, tetapi merupakan perang polarisasi. Dengan begitu, akan sulit siapa yang menjadi juru damai dalam meredakan persoalan. Akibat perang polarisasi ini, tidak ada negara pengendali dan nantinya terbentuk tatanan baru.
“Secara matematis hubungan internasional sekarang ini belum bisa terlihat dengan jumlah positif,” tuturnya.
Peran Indonesia, menurut Robi, dalam KTT G20 cukup positif namun butuh peran bersama melibatkan berbagai negara kawasan untuk mewujudkan berbagai kesepakatan. “Setidaknya meredakan ketegangan yang selama ini antara AS dan China, dengan pertemuan Xi Jinping dan Joe Biden. Ini memperlihatkan Indonesia memiliki peran penting dalam perdamaian dunia,” tuturnya./







































