Press "Enter" to skip to content

Pengamat : Tatanan Dunia Masih Menganut Hukum Rimba

TATANAN GLOBAL : Arfin Sudirman, Kepala Departemen Hubungan Internasional, Unpad, saat Gelora Talks bertema : Mampukah Indonesia Menjadi Juru Damai Dunia Lewat Presidensi G20, pada Rabu (16/11).
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Tatanan dunia hingga sekarang bagi berbagai negara masih menganut hukum rimba atau anarkistis dalam kaitanya hubungan keamanan multilateral. Ketika perang yang menyangkut multilateral, tidak berlaku hukum antar negara. Hal ini diungkapkan oleh Arfin Sudirman, Kepala Departemen Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran.  

“Hubungan antar negara di dunia bersifat anarkis. Untuk itu, setiap negara harus mampu bertahan survival ditengah ketidakpastian tatanan global ini. Tidak ada aturan hukum yang pasti dalam hubungan tatanan global. ini pandangan dari pemaham orang realis,” terang Arfin, saat Gelora Talks bertema : Mampukah Indonesia Menjadi Juru Damai Dunia Lewat Presidensi G20, pada Rabu (16/11). 

Meski begitu, menurut Arfin bagi pandangan pesimistis ini mendapat tentangan dengan kelompok lainnya. Kelompok yang berbeda pandangan ini, menilai masih ada peluang bagi perdamaian di tatanan global. 

”Padahal secara realita pandangan realis yang sering terjadi. Perang Irak, begitupun lahirnya G20 juta tak jauh beda, adanya korporasi bangkrut minta di bailout negara, tak ada aturan,” tuturnya. 

Demikian pula, Ia mencontohkan, seperti halnya yang terjadi saat Rusia menyerang Ukraina, yang diperbolehkan dalam aturan, tetapi harus izin Dewan Keamanan PBB. Karena perang yang menyangkut unilateral sehingga aturan PBB juga tak berlaku. “Sehingga betul, Indonesia mencari jalan tengah dalam problem multilateral dalam kontek Presidensi G20,” terangnya. 

Moment Yang Tepat

Menurut Arfin, moment kepemimpinan Indonesia dalam KTT G20 tahun 2022 ini, cukup tepat. Indonesia dipandang sebagai negara yang bisa menjembatani persoalan Rusia dan Amerika Serikat serta sekutunya.”Meski begitu, dalam ajang working Group ada juga yang deadlock karena mengarah pembahasan ke geopolitik.” 

Arfin memperkirakan, perang Rusia-Ukraina tidak berhenti dalam waktu dekat. Setidaknya perang masih saja berlangsung paling cepat musim semi mendatang. “Gencatan senjata Rusia kemungkinan tidak dalam waktu dekat. Apalagi popularitas Vladimir Putin cukup tinggi karena berhasil turunkan inflasi dan membayar utang IMF,” terangnya. 

Terpenting juga, pihak yang tidak bersengketa tidak boleh malah memicu pertengkaran. Ini terjadi ketika, ditengah perhelatan KTT G20 terjadi peluncuran rudal ke wilayah perbatasan Polandia. Padahal peuncuran rudal tersebut disinyalir bukan dari wilayah Rusia. 

“Ini penting diketahui, sedangkan gesture politik antara Joe Biden dan Xi Jinping cukup memberikan sinyal positif dan pernyataan one china policy,” ujarnya.  

Dinilai Berhasil 

Imron Qotan Mantan Duta Besar Indonesia Untuk Australia & Tiongkok mengatakan, secara kuantitas perlaksanaan KTT G20 di Bali sudah sangat baik. Kehadiran pemimpin dunia sebanyak 17 orang pemimpin sedangkan 50% saja sudah baik. Kahadiran Xi Jinping Presiden China dan Joe Biden begitu melegakan. 

“Terlebih pertemuan kedua pemimpin negara itu relative kondusif. Dan untuk ketidakhadiran Rusia digantikan Menlu karena Rusia tidak mau merepotkan,” ujarnya. 

Didalam kesepakatan, lanjut Imron, juga dihasilkan deklarasi baru mengenai Pandemic Fund. Kendati baru terkumpul sekitar4-5 miliar Dolar AS dari tagetnya 30 miliar dollar AS, merupakan pencapaian sangat baik.”Bahkan AS berkomitmen menyisihkan sekita 700 miliar dolar AS untuk masa transisi energi hijau untuk Indonesia,” terangnya. 

Meski begitu, menurut Imron, jangan sampai perubahan transisi energi ini terlalu cepat, sehingga mengorbankan potensi SDA Indonesia dalam hal energi batubara yang melimpah. 

Imron Cotan juga sepakat Indonesia mampu menjadi juru damai. Indonesia perlu kebijakan yang saling menguntungkan ditengah persaingan ekonomi global dan perang. “Secara garis besar pelaksanaan KTT G20 sudah cukup berhasil,” tuturnya./ 

Comments are closed.