JAKARTA, Bisnistoday -Sebagai program unggulan pemerintahaan Presiden Prabowo Subianto-Gibran Rakabumingraka yakni program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kegiatan ini, diminta untuk diterapkan lebih awal di daerah kantong-kantong kemiskinan.
Pendiri INDEF, Prof Dr Didik J Rachbini mengatakan, penggunaan dana Makan Bergizi Gratis (MBG) memang harus diwujudkan sebagai janji kampanye Prabowo, dengan catatan, penggunaan dananya sangat besar.
“Jadi supaya tidak mengganggu APBN maka harus bertahap mulai dari wilayah-wilayah miskin terutama. Program MBG ini belum jelas ujudnya, bagaimana dijalankan dan lain-lain,” tutur Didik, saat diskusi INDEF bertajuk “Makan Bergizi Gratis via UMKM : Apa Saja Pembelajaran ke Depan?”, di Jakarta, baru-baru ini.
Menurutnya, program MBG ini seharusnya diwajibkan dan didesentralisasikan dengan UMKM di daerah-daerah meski dananya dari pusat. Apabila dana dipusatkan, bisa jadi sumber korupsi dan lain-lain. “Jadi memang sudah harus diwajibkan. Hanya problemnya bagaimana gizinya cukup.”
Didik menguraikan, bahwa program MBG ini harus didesentralisasikan ke daerah dengan melibatkan UMKM lokal. Terutama difokuskan ke daerah-daerah yang rawan gizi. Namun untuk standarisasi mutu dan sebagainya memang perlu dimonitor. UKM sendiri memang harus diajari soal standar mutu. Meski pernah punya catering sebelumnya.
Mengingat dananya terbatas, lanjut Didik, harus menggandeng perusahaan besar yang berada di wilayah masing-masing dan sumber-sumber dana lain yang sifatnya sosial di luar APBN, CSR, termasuk zakat, hendaknya dijadikan satu program. “Masyarakat mampu juga diajak berderma untuk MBG, dengan masuk wilayah amal baik seperti zakat.”
Mendorong Multiplier Effect Wilayah
Esther Sri Hastuti Ph.D, Direktur Esksekutif INDEF menuturkan, multiplier Effect dari program MBG atau penambahan asupan buat otak siswa didik agar lebih cemerlang. Diharapkan juga pendidikan anak akan lebih baik. Kualitas pendidikan yang lebih baik maka mobilitas sosial juga membaik. Faktor mutu kesehatan juga menjadi lebih baik.
“Program MBG diharapkan juga berdampak pada lingkungan sekitarnya, contoh, Kesejahteraan UMKM, mitra-mitra makanan minuman, kesejahteraan keluarga, juga lapangan pekerjaan apakah akan lebih banyak tercipta. Juga munculnya kebiasaan memilih pangan lokal yang lebih sehat,” tuturnya.
Ester menambahkan, target MBG adalah 80 juta orang terdiri dari : 44 juta anak usia sekolah, 4 juta santri, 30 juta balita dan 4 juta ibu hamil. Anggaran Rp71 triliun.
“Penerima manfaat MBG yakni, peserta didik PAUD, SD,SMP, baik di kabupaten atau kota, terlebih daerah yang punya status stunting tinggi. MBG seyogyanya dilakukan oleh UMKM lokal, penyedia makanan ataupun berupa dapur umum.”/








































