JAKARTA, Bisnistoday – Di panggung yang temaram, puluhan lelaki dan perempuan itu meliuk-liuk, menggeliat. Mereka bergerak bukan sekadar melepaskan energi dan trauma, tapi juga berupaya menerjemahkan narasi atas tubuh. Narasi tentang manusia yang keluar dan lepas dari rahim kota, namun kemudian terombang-ambing dan tenggelam ditelan lautan problematikanya.
Itulah yang menjadi intisari pentas Urban Raga yang dihelat di Teater Salihara, Rabu (12/8/2026) malam. Pertunjukkan itu mengeksplorasi kesepian, ketergantungan, dan perpisahan yang kerap tersembunyi di balik kerasnya kehidupan metropolitan. Narasi tentang seorang perempuan pekerja yang kesulitan mencari kos dan seorang lagi yang trauma kehilangan ibu, cukup mewakili hal itu, terlebih mampu diterjemahkan dengan apik melalui gerak penari di atas panggung.
Karya ini merupakan eksperimen kolektif di kelas Olah Kata Olah Tubuh di Salihara yang diampu Ayu Utami (jurnalis/penulis) dan Siko Setyanto (penari/koreografer). Ada pun idiom gerak dan keping ceritanya ditemuciptakan oleh masing-masing peserta kelas tersebut.
”Sebagai bahan eksplorasi, saya menugaskan mereka melakukan riset tentang kekerasan yang terjadi di Jakarta,” kata Ayu, yang sehari-hari mengajar kelas menulis di Salihara.
Bagian paling menarik dari pentas ini adalah bagaimana peserta menerjemahkan teks ke dalam tubuh. Bagaimana mereka, yang sebagian besar bukan penari dan penulis profesional, berupaya menghayati narasi dan menerjemahkannya menjadi gerak tubuh.
Di sinilah tantangan sekaligus kejeniusan seorang Siko Setyanto sebagai seorang koreografer. Dari gerak tubuh yang ditampilan para penari, kehidupan Jakarta dengan segala kebrengsekannya, sepertinya dapat tervisualisasi dengan jelas dalam benak penonton yang memadati Teater Salihara malam itu.
Jika boleh dibandingkan, ia seperti seorang Seno Gumira Ajidarma yang berhasil mengajak pembacanya mengembara di belantara Jakarta, melalui keindahan aksara dalam beberapa cerita pendeknya.
Masalah Pelafalan
Satu hal lainnya yang membuat pentas ini menarik adalah tata cahaya panggung. Sorot lampu pada tembok yang membentuk siluet sebuah pintu, rasanya pas untuk menarasikan rahim, tempat segala probematika manusia bermula.
Salah satu kekurangan dan menjadi bagian evaluasi dari pertunjukan ini, yakni masih adanya kata-kata yang kurang jelas yang dilafalkan para aktor/aktris. Sebagian mungkin karena demam panggung, sebagian barangkali karena adegan itu dimainkan berbarengan dengan alunan musik pengiring yang terlampau keras.
Tapi, secara umum, pementasan kali ini patut diacungi jempol. “Kompor gas,” kalau boleh memimjam istilah Om Indro Warkop.//







































