www.bisnistoday.co.id
Kamis , 13 Agustus 2026
Home EKONOMI Ekonomi & Bisnis Betulkah AI Ciptakan Turbulensi di Pasar Kerja?
Ekonomi & BisnisOtomotif & Tekno

Betulkah AI Ciptakan Turbulensi di Pasar Kerja?

Data dari analisis terbaru Stanford Institute for Economic Policy Research menunjukkan bahwa AI belum menyebabkan pergeseran atau hilangnya lapangan kerja secara besar-besaran.

Kecerdasan Buatan Diprediksi Ciptakan Turbulensi di Pasar Kerja (Dok: Igor Omilaev)
Kecerdasan Buatan Diprediksi Ciptakan Turbulensi di Pasar Kerja (Dok: Igor Omilaev)
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Tanggapan terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) umumnya suram. Sebagian besar pengamat memerkirakan akal imitasi itu bakal menggantikan pekerjaan yang selama ini dilakukan manusia. Meski demikian, dunia kerja terus berubah dan para ekonom memperkirakan akan ada lebih banyak perubahan di masa depan.

Pada Mei tahun lalu, CEO Anthropic, Dario Amodei mengatakan kemajuan kecerdasan buatan (AI) akan melenyapkan lapangan kerja secara massal. Ia memprediksi separuh dari seluruh pekerjaan kerah putih tingkat pemula akan hilang. Sebulan kemudian, CEO OpenAI, Sam Altman, memprediksi berakhirnya kategori pekerjaan tertentu.

Sejumlah perusahaan lalu mulai mengaitkan AI dengan langkah pemutusan hubungan kerja (PHK). Di sisi lain, para pekerja mulai menggalang kekuatan dan para mahasiswa pun mulai mempertimbangkan kembali karier masa depan mereka.

Namun, setahun berselang, prediksi tentang hilangnya pekerjan itu tidak terjadi, atau setidaknya belum sampai saat ini.

Menurut para ekonom, meskipun kemampuan AI berkembang pesat dan perusahaan-perusahaan AI melaju cepat menuju debut pasar saham bernilai triliunan dolar, transformasi ekonomi tidak bergerak secepat itu—sama halnya dengan revolusi teknologi di masa lalu.

Akibatnya, para CEO mulai mengubah narasi dan melunakkan sikap mereka, dengan menyatakan bahwa AI justru memperkuat kinerja karyawan alih-alih menggantikan mereka.

Terjadi pergeseran

Namun, terlepas dari tidak lenyapnya lapangan kerja secara massal, sebuah pergeseran tetap terjadi: AI mengubah sifat pekerjaan, di mana sejumlah perusahaan semakin mengharapkan pencari kerja memiliki keterampilan terkait AI.

“Dalam jangka panjang, AI dapat menggeser lebih banyak pekerjaan ke arah sistem lepas (freelance) dan kontrak seiring perusahaan menentukan keterampilan apa yang sebenarnya mereka butuhkan,” demikian prediksi sejumlah ekonom.

Guardian melaporkan, data dari analisis terbaru Stanford Institute for Economic Policy Research menunjukkan bahwa AI belum menyebabkan pergeseran atau hilangnya lapangan kerja secara besar-besaran.

Sejak 2022, tahun peluncuran ChatGPT, tingkat pengangguran di kalangan 20% pekerja yang paling terdampak oleh AI naik sebesar 0,77 poin persentase; angka ini lebih rendah dibandingkan kenaikan 0,85 poin persentase pada kelompok pekerja yang paling sedikit terdampak.

AI mungkin menjadi salah satu faktor penyebab meningkatnya pengangguran di kalangan lulusan baru, yang mencapai 5,6% dibandingkan dengan rata-rata nasional sebesar 4,2% pada awal tahun ini.

Namun, laporan tersebut menyatakan bahwa faktor-faktor lain, termasuk tren kerja jarak jauh dan penyesuaian kembali jumlah karyawan setelah perekrutan berlebih di masa pandemi, kemungkinan juga turut berperan.

“Tren ketenagakerjaan pada bidang pekerjaan yang diperkirakan akan merasakan dampak paling awal sebagian besar masih stabil,” ujar Erika McEntarfer, peneliti di Stanford Institute sekaligus salah satu penulis laporan tersebut, seperti dilansir Guardian, Kamis (13/8/2026).

“Revolusi komputer membutuhkan waktu puluhan tahun untuk benar-benar mengubah pasar tenaga kerja, dan situasi yang kita saksikan saat ini sangat mirip dengan itu.”

Namun, mengukur dampak AI terhadap lapangan kerja secara akurat merupakan sebuah tantangan. Statistik pemerintah pada umumnya bersifat tertinggal dan tidak melacak dampak teknologi spesifik, sementara data dari sektor swasta—meskipun lebih mutakhir—kurang komprehensif.

Jadi, meskipun para ekonom umumnya sepakat bahwa AI akan memberikan dampak, mereka kesulitan memprediksi seberapa besar dampaknya dan kapan hal itu akan terjadi.

Bukan menghilang

Untuk saat ini, dampak terbesar AI bukan terletak pada jumlah lapangan kerja, melainkan pada sifat pekerjaan itu sendiri. AI mengonsolidasikan berbagai peran, mengurangi perekrutan baru untuk tugas-tugas yang dapat diotomatisasi, dan meningkatkan standar kualifikasi bagi calon pekerja, namun angka pengangguran secara keseluruhan tidak banyak berubah.

Tren perekrutan menunjukkan bahwa AI menjadi semakin penting bagi pemberi kerja. Menurut survei terbaru ZipRecruiter terhadap pemberi kerja, sekitar 74% perusahaan menganggap keterampilan AI sebagai keunggulan besar atau persyaratan, dengan 13% di antaranya mewajibkan keterampilan tersebut di seluruh lini perusahaan, bukan hanya untuk peran teknis.

Separuh dari perusahaan yang yang jadi responden survei mengharapkan kandidat sudah mampu menggunakan AI secara praktis atau mahir sejak hari pertama bekerja. Terkadang, persyaratan ini tidak muncul secara eksplisit sebagai “AI” dalam iklan lowongan kerja, melainkan tercermin dari meningkatnya ekspektasi terkait kecepatan, kualitas, dan kemandirian kerja.

“Tren yang paling jelas terlihat adalah meningkatnya standar kualifikasi, bukan menyusutnya jumlah lapangan kerja,” kata Nicole Bachaud, ekonom ketenagakerjaan di ZipRecruiter. “Tantangan pasar tenaga kerja bagi para pekerja kini lebih berkaitan dengan kesesuaian keterampilan (skills-matching) daripada sekadar kelangkaan lapangan kerja.”

Secara bersamaan, perusahaan menambah dan mengurangi tenaga kerja dalam fungsi yang sama—seperti teknologi, layanan pelanggan, serta manajemen dan operasional bisnis. “Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan masih mencari tahu kombinasi keterampilan yang tepat untuk mencapai kesuksesan,” tambah Bachaud.

Nicholas Bloom, profesor ekonomi di Universitas Stanford, menyebut fenomena ini sebagai turbulensi di pasar kerja. Menurutnya, AI melenyapkan beberapa jenis pekerjaan namun juga menciptakan pekerjaan baru yang melibatkan penerapan, penjualan, perbaikan, dan pengembangan sistem AI.

Robert Seamans, seorang profesor di NYU Stern yang turut mengembangkan salah satu tolok ukur standar untuk mengukur tingkat keterpaparan suatu pekerjaan terhadap AI, mengategorikan dampak AI ke dalam tiga kelompok: pekerjaan yang menjadi usang, pekerjaan yang tercipta, dan pekerjaan yang mengalami perubahan.

“Kelompok ketiga inilah yang sejauh ini merupakan yang terbesar,” ujarnya. “AI sedang dan akan terus mengubah cara sebagian besar dari kita bekerja, sama halnya seperti kerja komputer dan internet .”

Sebagai contoh, di platform pemrograman berbasis AI Bolt.new, sebuah tim analitik yang terdiri dari tiga orang menciptakan agen yang mampu menganalisis data di seluruh sistem mereka, sehingga menghemat waktu kerja manusia sebanyak 12 hingga 13 jam.//

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Menteri Koperasi
EKONOMIEkonomi & Bisnis

Berkapasitas 45 Ton, Menkop Resmikan Pabrik CPO KUD Sejahtera di Musi Banyuasin

MUSI BANYUASIN, Bisnistoday — Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono meresmikan CPO milik...

Rapat KUR
EKONOMIEkonomi & Bisnis

Bunga PNM Mekaar Turun Jadi 8 Persen, Berlaku Mulai September

JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah memastikan suku bunga pinjaman Program Membina Ekonomi Keluarga...

Ekonomi & Bisnis

BNI Dorong Gaya Hidup Sehat, Lewat Inovasi Digital 

JAKARTA, Bisnistoday,- Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan fisik serta mental meningkat...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Menteri UMKM Tegaskan Ojol Tidak Dikenai Pajak

JAKARTA, Bisnistoday - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman...