Beberapa waktu lalu, istilah megathrust ramai diperbincangkan. Kini giliran El Nino yang ramai disebut. Kedua kata itu (Megathrust dan El Nino) adalah istilah yang mengacu pada fenomena alam tertentu. Megathrust, misalnya, berarti gempa ekstrem/besar (biasanya di atas 6 skala richter). Adapun El Nino merupakan fenomena alam berupa pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur di atas rata-rata normal. Fenomena ini menyebabkan perubahan pola cuaca global, sering kali memicu kekeringan panjang dan berkurangnya curah hujan. Secara sederhana El Nino dapat dibaca sebagai musim kemarau yang terlampau kering.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) adalah lembaga yang paling getol mengampanyekan soal ini. Sebagai badan pemantau cuaca, itu memang tugas utama mereka, memberi warning atau peringatan. Kewajiban kita sebagai anggota masyarakat adalah menyimak setiap informasi yang disampaikan lembaga tersebut.
Terkait musim kemarau tahun ini, BMKG telah mewanti-wanti peluang munculnya El Nino kategori lemah hingga moderat mulai meningkat pada semester kedua tahun ini dengan probabilitas sekitar 50-60 persen. Itu artinya, mulai April sebagian wilayah Indonesia, akan mulai memasuki musim kemarau yang puncaknya diprediksi terjadi pada Agustus/September.
Organisasi Lembaga Meteorologi Dunia (WMO) menyebut fenomena El Nino yang terjadi pada tahun 2023-2024 merupakan salah satu dari lima El Nino terkuat yang pernah tercatat dan berperan dalam meningkatnya rekor suhu global yang terjadi pada tahun itu.
Menurut studi yang dimuat di Sciene.org, El Nino saban tahun telah mengurangi pertumbuhan ekonomi di tiap negara terdampak. Studi itu menghubungkan hilangnya pendapatan global sebesar US$4,1 triliun dan US$5,7 triliun akibat peristiwa El Nino pada 1982–1983 dan 1997–1998.
Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo dalam situs resminya pekan lalu mengatakan prakiraan musiman untuk El Nino dan La Nina membantu kita mencegah kerugian ekonomi akibat fenomena tersebut. Selain itu, ia merupakan alat perencanaan penting untuk sektor-sektor yang sensitif terhadap iklim, seperti pertanian, kesehatan, energi, dan pengelolaan air.
Di Indonesia, musim kemarau selalu identik dengan ancaman kebakaran hutan, kekeringan berkepanjangan yang dapat menyebabkan gagal panen, penyakit yang berkaitan dengan pernapasan, dan berbagai permasalahan lainnya. Itu artinya, perlu langkah mitigasi serius dari kementerian maupun lembaga terkait, pemerintah daerah, maupun masyarakat.
Sektor Pangan
Di sektor pangan, misalnya, para petani bisa diimbau untuk menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih varietas tanaman yang lebih hemat air, tahan terhadap kekeringan, serta memiliki siklus panen yang lebih singkat.
Langkah ini juga mesti dibarengi dengan penguatan sektor sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi demi menjamin ketersediaan air bersih bagi kebutuhan domestik maupun operasional PLTA di sektor energi.
El Nino merupakan gejala alam yang lumrah terjadi, seturut iklim yang terus berubah. Namun, dengan bantuan teknologi dan kearifan, kita selaku manusia bisa memprediksi dan mengurangi dampaknya. Kita mungkin bisa belajar dari fenomena serupa yang pernah terjadi beberapa tahun lalu, baik di Tanah Air maupun di negara lain.
Apa yang disampaikan BMKG maupun WMO juga merupakan bagian penting dari ‘intelijen iklim’ yang untuk mendukung operasi kemanusiaan dan manajemen risiko bencana, sehingga banyak nyawa yang dapat diselamatkan.
Sebagai masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, kita sudah sepatutnya wajib membaca setiap fenomena alam yang terjadi. Minimal mau memperhatikan setiap imbauan yang disampaikan BMKG. Jangan ketika bencana sudah terjadi, baru semua sibuk saling menyalahkan.//
Penulis: Adiyanto, Jurnalis Bisnistoday.co.id



