JAKARTA, Bisnistoday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (05/03) ditutup melemah 29,29 poin ke posisi 7.247,45. Sementara indeks LQ45 turun 2,06 poin ke posisi 979,88.
Pasca Pemilihan Presiden (Pilpres) dan legislatif, muncul usulan ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk dilakukan hak angket terhadap indikasi kecurangan Pilpres, yang membuat pasar cenderung mencermati perkembangan situasi politik dalam negeri.
Pada hari ini, Selasa (05/03), merupakan jadwal sidang paripurna DPR RI, tentunya pasar menanti apakah DPR akan membahas keberlanjutan rencana hak angket dugaan kecurangan Pilpres 2024.
Dibuka menguat, IHSG bergerak ke teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, satu sektor meningkat yaitu sektor energi yang naik sebesar 0,49 persen.
Sedangkan sepuluh sektor terkoreksi dimana sektor barang konsumen non primer turun paling dalam minus 1,21 persen, diikuti sektor teknologi dan sektor properti yang masing-masing minus 1,18 persen dan 1,10 persen.
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu ALII, MPIX, SATU, JESTA dan PTPP. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni SMLE, SURI, BWPT, DRMA, dan LIVE.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.233.160 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 17,72 miliar lembar saham senilai Rp9,61 triliun. Sebanyak 198 saham naik, 340 saham menurun, dan 236 tidak bergerak nilainya.
Rupiah Melemah
Di pasar uang, nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa, ditutup melemah menjadi Rp15.771 per dolar AS dipengaruhi sentimen domestik terkait inflasi Indonesia.
Pada akhir perdagangan, Selasa, rupiah merosot 29 poin atau 0,18 persen menjadi Rp15.771 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp15.742 per dolar AS.
“Isu dalam negeri mungkin masih menjadi sentimen negatif untuk rupiah seperti isu inflasi yang meninggi karena pangan dan isu twin deficit,” kata pengamat pasar uang Ariston Tjendra.
Baca juga: Kurs Rupiah Melemah 31 Poin Terhadap Dolar AS
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) pada Februari 2024 mencapai 2,75 persen.
Tingkat inflasi tahunan pada Februari 2024 adalah 2,75 persen, atau terjadi peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 102,75 pada Februari 2023 menjadi 105,58 pada Februari 2024./





































