JAKARTA, Bisnistoday – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Tengah (Jateng) 2024 semakin menarik perhatian masyarakat, terutama dengan munculnya perbedaan mencolok dalam hasil survei yang dirilis oleh tiga lembaga di bawah naungan Perhimpunan Survei Opini Publik (Persepi). Ketiga lembaga tersebut adalah Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Indikator Politik Indonesia, dan Populi Center.
Hasil survei terbaru menunjukkan bahwa hanya SMRC yang mengunggulkan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur nomor urut 1, Andika Perkasa-Hendrar Prihadi (Hendi), dengan elektabilitas mencapai 50,4 persen. Sementara itu, pasangan nomor urut 2, Ahmad Lutfi-Taj Yasin, tercatat memiliki elektabilitas 47,0 persen. Namun, hasil ini bertolak belakang dengan survei yang dilakukan oleh Indikator Politik Indonesia, yang mencatat Lutfi-Taj Yasin unggul dengan elektabilitas 47,19 persen, sedangkan Andika-Hendi hanya 43,46 persen.
Lebih mengejutkan lagi, survei yang dirilis oleh Populi Center menunjukkan keunggulan Lutfi-Taj Yasin dengan elektabilitas mencapai 57,8 persen, sementara Andika-Hendi hanya 32,8 persen.
Peneliti Populi Center, Dimas Ramadhan, menjelaskan bahwa tingginya popularitas Lutfi-Taj Yasin menjadi faktor utama di balik keunggulan mereka dalam survei.
“Selain itu, akumulasi tingkat kesukaan terhadap Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen juga lebih tinggi daripada Andika Perkasa-Hendrar Prihadi,” terang Dimas Ramadhan dalam keterangan hasil survei yang dirilis, Sabtu (23/11/2024).
Guru Besar Ilmu Politik Universitas Airlangga, Prof. Kacung Marijan, menekankan pentingnya Persepi untuk mengambil tindakan tegas terhadap anggotanya. Ia mengingatkan bahwa publik akan mempertanyakan integritas Persepi jika tidak ada langkah yang diambil untuk menjelaskan perbedaan hasil survei ini.
Prof. Kacung juga menyoroti bahwa Persepi sebelumnya telah bertindak cepat dalam menangani perbedaan hasil survei di Jakarta, dan hal yang sama diharapkan terjadi di Jateng. Ia menegaskan bahwa ketidakadilan dalam penanganan hasil survei dapat menimbulkan prasangka baru di kalangan masyarakat.
“Ya menurut saya harus fair dong, harus fair kepada anggota ya kalau ada datanya tinggal di ekspos aja datanya ada atau nggaknya, benear atau enggaknya,” terang Prof Kacung.
Dengan situasi ini, masyarakat Jateng dihadapkan pada tantangan untuk memahami dinamika politik yang sedang berlangsung. Perbedaan hasil survei ini tidak hanya mencerminkan persaingan ketat antara pasangan calon, tetapi juga menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam dunia survei politik. Ke depan, bagaimana Persepi dan lembaga-lembaga survei lainnya merespons situasi ini akan menjadi perhatian utama bagi publik dan pengamat politik.









































