JAKARTA, Bisnistoday – Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung alot. Menurut Kantor berita resmi Iran, Tasmin, AS masih menolak menerima klausul-klausul tertentu dari Iran.
Mengutip informasi yang diperoleh wartawannya, Tasnim mengatakan meskipun beberapa pembicaraan telah dilakukan antara kedua pihak pada Minggu (24/5/2026), AS masih menghalangi klausul-klausul tertentu dari kemungkinan penadatanganan perdamaian, termasuk pelepasan aset Iran yang dibekukan.
Menurut Tasmin masih ada kemungkinan pendatanganan tersebut batal, dan Iran telah menekankan bahwa mereka tidak akan mundur dari prinsipnya dalam melindungi hak-hak rakyatnya.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan kesepakatan dengan Iran belum sepenuhnya dinegosiasikan karena ketidakpastian masih menyelimuti perbedaan yang terus berlanjut antara kedua pihak.
Para pejabat Gedung Putih tampaknya mengambil nada hati-hati sambil menyatakan bahwa kesepakatan tersebut mungkin membutuhkan waktu beberapa hari untuk diselesaikan, menurut koresponden Al Jazeera di Washington, DC.
Pada Sabtu lalu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan kepada stasiun televisi pemerintah IRIB, bahwa Iran dan AS sedang berupaya untuk menandatangani kesepakatan damai.
“Pada tahap ini, fokus kami adalah mengakhiri perang,” tegas Baghaei. “Niat kami adalah untuk pertama-tama menyepakati MoU yang terdiri dari 14 klausul,” imbuhnya.
30 Hari
Ia mengatakan dalam jangka waktu 30 hingga 60 hari, Teheran dan Washington akan mencapai kesepakatan akhir. “Di antara pembahasan utama dalam MoU adalah penghentian serangan maritim AS, atau blokade angkatan laut seperti yang mereka sebut sendiri, dan masalah lain yang berkaitan dengan pembebasan aset Iran yang dibekukan.”
Iran, AS, dan Israel mencapai gencatan senjata pada 8 April setelah 40 hari pertempuran yang dimulai serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Setelah gencatan senjata, delegasi Iran dan AS sempat merundingkan perdamaian di Islamabad, Pakistan pada 11 dan 12 April, yang gagal menghasilkan kesepakatan.
Seain meelan banyak korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, konflik yang telah berlangsung lebih dari lima bulan ini, telah memicu gejolak ekonomi lantaran melambungnya harga energi buntut dari penutupan Selat Hormuz oleh Iran. //

