JAKARTA, Bisnistoday – Prancis diminta segera menyelesaikan masalah rasisme dalam badan-badan penegak hukum di aparatur negara. Hal ini ditegaskan oleh Juru Bicara Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (OHCHR), Ravina Shamdasani.
PBB telah merespon kerusuhan yang terjadi di Prancis pasca kematian seorang remaja berusia 17 tahun karena ditempat oleh polisi. “Ini adalah momen bagi negara tersebut untuk serius menyelesaikan masalah rasisme dan diskriminasi rasial yang tertanam dalam penegakan hukum,” kata Shamdasani, akhir pekan ini.
“Setiap dugaan penggunaan kekuatan yang berlebihan harus segera diselidiki,” ungkap Ravina.
Iapun menekankan pentingnya aksi protes yang dilakukan secara damai. PBB mengimbau pihak-pihak berwenang dan kepolisian agar selalu menghormati prinsip-prinsip hukum, keseimbangan, dan non-diskriminasi dalam menjalankan tugasnya menjaga demonstrasi tersebut.
Seperti diketahui, kerusuhan pecah di Prancis usai polisi menembak mati pemuda keturunan Aljazair, Nahel (17 tahun) karena tidak mengikuti perintah berhenti untuk pemeriksaan lalulinta pada Selasa, 27 Juni kemarin, di wilayah perbatasan Paris, Nanterre.
Tindakan polisi ini, memicu kemarahan dan kerusuhan meluas ke daerah-daerah pinggiran lainnya di Paris. Daerah pinggiran dimaksud yakni Seine-Saint Denis danVilleurbanne, dan beberapa kota besar lainnya termasuk Nantes dan Toulouse.
Mengenai hal tersebut, Perdana Menteri Prancis, Elisabeth Borne mengatakan pemerintah akan mempertimbangkan semua opsi, termasuk menyatakan keadaan darurat, untuk memulihkan kembali hukum dan ketertiban.
Prancis Menyangkal
Disisi lain, bahwa Prancis menyangkal Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) yang mendesak Prancis untuk mengatasi masalah diskriminasi rasial.
“Setiap tudingan rasisme atau diskriminasi sistemik oleh polisi di Prancis sama sekali tidak berdasar,” kata Kementerian Luar Negeri Prancis dalam sebuah pernyataan.
Menurut Kemlu Prancis, bahwa para petugas polisi di Prancis terikat pada pengawasan internal, eksternal, dan yudisial sebagaimana yang diterapkan di beberapa negara.
“Prancis dan polisinya berjuang dengan tegas melawan rasisme dan segala bentuk diskriminasi.Tidak ada keraguan tentang komitmen ini,” dalam pernyataanya.
Pernyataan tersebut juga menggarisbawahi bahwa polisi menangani situasi kekerasan “dengan profesionalisme yang tinggi”, dan menambahkan bahwa penggunaan kekuatan oleh otoritas terkait “diatur oleh prinsip-prinsip kebutuhan dan proporsionalitas yang mutlak, dan diatur dan dikendalikan dengan ketat.”
Prancis telah mengalami gelombang protes setelah petugas polisi menembak mati remaja berusia 17 tahun bernama Nahel di Nanterre, pinggiran kota Paris pada Selasa (27/6).
Tuding Tindakan Rasisme
Dilain sisi, Ibu dari seorang remaja berusia 17 tahun bernama Nahel, yang ditembak oleh polisi Prancis, pada Kamis mengatakan bahwa dia yakin rasialisme menjadi motif kematian putranya.
Dalam wawancara yang disiarkan pada saluran TV France 5, ibu Nahel, Mounia, mengatakan bahwa petugas polisi itu “melihat wajah seorang Arab, seorang anak kecil”, dan “ingin mengambil nyawanya.”
Mounia mengatakan dia tidak berniat menyalahkan seluruh institusi penegak hukum, dia hanya menuntut seorang petugas polisi yang membunuh putranya.
“Saya tidak menyalahkan (institusi) polisi. Saya menyalahkan satu orang: orang yang merenggut nyawa anak saya,” katanya./Ant







































