JAKARTA,Bisnistoday- Buku “Rao Rao Nagari Batuah, Rindu di Ujung Cakrawala”, adalah sebuah karya naratif dari Firdaus Rasyad Bgd Sampono, yang memadukan esai perjalanan, memori kultural, dan refleksi mendalam mengenai filosofi kehidupan masyarakat Minangkabau.
Buku ini bermula dari gejolak batin seorang perantau yang didera rindu kampung halaman,sebuah rindu di ujung cakrawala yang membentang antara tanah rantau dan tanah asal.
Perjalanan ini dimulai dari kegelisahan personal, memicu keputusan untuk pulang meniti jejak akar kekerabatan dan kebudayaan di bawah naungan Gunung Marapi.
Melalui buku ini pembaca diajak menelusuri lanskap geografis dan sosiologis Nagari Rao-Rao di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, mulai dari panorama alam seperti Ranah Katitiran dan Koto Kaciek, hingga menyelami denyut kehidupan sosial tradisionalnya.
Buku ini mengupas tuntas pilar-pilar penting tatanan masyarakat Minangkabau, seperti:
Keagungan Adat dan Falsafah: Peran Tigo Tungku Sajarangan (ulama, cerdik pandai, dan ninik mamak) serta sistem kekerabatan suku. Spiritualitas dan Intelektualitas: Peran strategis surau serta harmoni antara ajaran agama Islam dan adat istiadat (adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah). Budaya Merantau: Dinamika kehidupan di lapau kopi, realitas kehidupan perantauan (samudera rantau), hingga akhirnya siklus perjalanan hidup yang bermuara pada keputusan untuk kembali ka rantau membawa nilai-nilai luhur nagari.
Gaya penulisan yang puitis sekaligus kontemplatif menjadikan buku ini bukan sekadar panduan sejarah atau etnografi biasa, melainkan sebuah surat cinta yang panjang untuk sebuah nagari batuah,sebuah tempat di mana tradisi, keimanan, dan ikatan darah dijaga turun-temurun.
Tentang Penulis
Firdaus lahir di Ambon, anak ke enam dari tujuh bersaudara, ayahnya Muhammad Rasyad Jamil, suku Caniago dan Ibunya Hj. Fatimah Ahmad dari suku Patapang, Nagari Rao-Rao, Kecamatan. Sungai Tarab, Kabupaten. Tanah Datar, Sumbar. Keduanya wafat di Ambon.
Menyelesaikan Pendidikan SD dan SMP di Ambon, SLTA di Surabaya, S1 pada Fakultas Ekonomi, jurusan Manajemen Universitas Hasanuddin (UNHAS), di Makassar. S2 Pasca Sarjana Magister Manajemen (MM) pada Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen-Jakarta (STIMJ) di Jakarta. Berprofesi sebagai PNS. Beristrikan seorang gadis Minang yang masih ada hubungan kerabat dari kesukuan Patapang, Nagari Rao-Rao, Batusangkar dan mendapat gelar sibiran Bagindo Sampono.
Kendati lahir di Ambon, budaya yang diterapkan dalam keluarganya adalah budaya Minang yang kental dengan segala adat istiadat, petatah petitih dan hikayat serta tambo yang selalu meluncur dari mulut umaknya. Tapi karena kecintaan terhadap tempat kelahirannya dia selalu mengaku sebagai orang Ambon. Menulis puisi sejak di SMP di Ambon, pernah menerbitkan kan puisi Berjudul Bundaku Pelitaku, 1980. Indonesia,Bagian Dari Desaku Rao Rao ,2002. AMBON,Ada Kisah di Telukmu,2026. Sewaktu menjadi mahasiswa di Makassar, aktif dalam kegiatan Kemahasiswaan.
Dia juga aktif menulis pada koran lokal Pedoman Rakyat di Makassar saat itu bernama Ujung Pandang dan anggota HMI Cabang Ujung Padang. Mengenal adat Minangkabau dari lingkungan keluarga, dari buku-buku kebudayaan Minangkabau.
“RAO RAO NAGARI BATUAH, Rindu diujung Cakrawala”, adalah goresan perjalanan,awal pulang kampung ke tanah leluhur. Sumatera Barat. Telah menjelajah hampir seluruh bumi Indonesia, dalam rangka petualangan mendaki gunung atau berkaitan pekerjaan.









































