www.bisnistoday.co.id
Jumat , 10 April 2026
Home LIFESTYLE Trends & Mode Strategi Nina Nugroho Angkat Tenun Bulu Garut ke Panggung Fashion Lebaran 2026

Trends & Mode

Strategi Nina Nugroho Angkat Tenun Bulu Garut ke Panggung Fashion Lebaran 2026


Social Media

JAKARTA, Bisnistoday,- Persiapan matang jauh-jauh hari menjadi kunci kesuksesan seorang desainer dalam memenangkan hati pasar, terutama menjelang momentum besar seperti Idul Fitri. Nina Nugroho, desainer yang dikenal dengan garis rancang tegas namun feminin, membuktikan bahwa eksekusi dini adalah strategi terbaik untuk menghadapi lonjakan permintaan busana muslim tahun ini. Bertempat di Humble Baker, Jakarta Selatan, Sabtu 14/3/2026), ia berbagi kisah di balik layar mengenai koleksi terbarunya yang telah menyita perhatian publik sejak awal tahun.

“Sebenarnya saat ini bukan lagi tahap persiapan, karena koleksi Raya 2026 sudah diluncurkan sejak 25 Januari,” ungkap Nina Nugroho saat menjelaskan timeline produksinya yang sangat disiplin. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan, mengingat kerumitan detail dan penggunaan material lokal memerlukan ketelitian tinggi agar kualitas tetap terjaga hingga ke tangan konsumen. Antusiasme masyarakat yang luar biasa menunjukkan bahwa pasar merindukan sentuhan autentik yang menggabungkan nilai tradisi dengan gaya hidup modern.

Koleksi kali ini tidak hanya sekadar pakaian, melainkan sebuah pesan tentang identitas dan keberpihakan pada industri kreatif lokal yang sering kali terlupakan. Melalui sentuhan tangan para perajin tenun, Nina berusaha menjembatani kebutuhan akan busana yang elegan dengan semangat pemberdayaan ekonomi kerakyatan. “Filosofinya adalah kelembutan sebagai kunci dalam membangun silaturahmi,” tambahnya, menekankan bahwa busana yang dikenakan harus mampu memancarkan aura positif bagi pemakainya.

Peluncuran koleksi Raya 2026 kali ini menandai langkah baru bagi jenama Nina Nugroho dengan menghadirkan total 14 koleksi yang terdiri dari 7 desain untuk perempuan dan 7 desain untuk laki-laki. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang lebih condong pada busana tunggal bagi wanita, tahun ini konsep couple atau sarimbit menjadi menu utama yang ditawarkan kepada para pelanggan setia. Transformasi ini merupakan jawaban atas tingginya permintaan pasar yang menginginkan keselarasan tampilan visual saat merayakan momen kebersamaan bersama keluarga besar di hari kemenangan.

Tema besar yang diusung adalah “Kembali”, sebuah kata sederhana yang menyimpan tiga makna mendalam bagi sang desainer, yakni kembali ke keluarga, kembali mengingat UMKM, dan kembali pada makna hakiki Lebaran. Melalui tema ini, Nina ingin mengajak setiap individu untuk merayakan kehangatan dan rasa syukur atas momen Idul Fitri melalui busana yang seragam dan penuh harmoni. “Harapannya, pelanggan tidak hanya membeli untuk diri sendiri, tetapi juga untuk pasangan, bahkan untuk seluruh keluarga,” jelasnya mengenai visi di balik pemilihan konsep sarimbit tersebut.

Selain koleksi untuk hari raya, hadir pula lini “Abaya Profesional” yang dirancang khusus untuk mendukung aktivitas padat para muslimah selama bulan suci Ramadan. Dengan desain yang lebih bersahaja dan pilihan warna lembut seperti mauve, pink soft, dan abu-abu, abaya ini ditujukan untuk mereka yang aktif di lingkungan kantor maupun organisasi. Konsep ini mempertegas posisi Nina Nugroho sebagai brand yang memahami dinamika perempuan masa kini yang harus tampil profesional tanpa meninggalkan sisi kelembutannya dalam bersosialisasi.

Keputusan Nina Nugroho untuk menggunakan tenun bulu Garut sebagai bahan dasar koleksi tahun ini menjadi bukti nyata dukungannya terhadap sektor UMKM lokal. Material ini dipilih bukan hanya karena aspek estetika semata, melainkan karena teksturnya yang unik dan sangat lembut menyerupai sutra namun tetap memberikan struktur yang baik pada pakaian. Proses pembuatannya yang memakan waktu hingga 14 hari untuk satu helai kain mencerminkan dedikasi dan ketelitian tingkat tinggi yang harus dihargai oleh para penikmat mode tanah air.

Karena proses produksinya yang memakan waktu cukup lama, perencanaan produksi harus dilakukan dengan sangat presisi agar tidak kehilangan momentum Lebaran yang sangat singkat. Penggunaan material ini juga menjadi solusi atas tantangan dalam menciptakan busana sarimbit yang nyaman digunakan baik oleh laki-laki maupun perempuan tanpa terkesan terlalu kaku. Keberhasilan dalam memadukan kekuatan tenun dengan desain modern ini merupakan bentuk penghormatan terhadap para perajin lokal yang selama ini menjadi tulang punggung industri fashion nasional.

“Kami ingin mengajak pelanggan dan pelaku industri fashion untuk kembali peduli pada perajin lokal, bukan hanya menggunakan bahan impor,” tegas Nina saat menceritakan kolaborasinya dengan perajin dari Garut. Karakter warna yang ditampilkan tetap setia pada identitas brand, yakni back to basic dengan pilihan warna-warna abadi seperti navy, cokelat, maroon, dan gold lembut. Warna-warna ini tidak hanya memberikan kesan mewah, tetapi juga memastikan busana tersebut tetap relevan untuk digunakan dalam jangka waktu yang panjang setelah masa Lebaran usai.

Efektivitas strategi komunikasi dan kualitas produk yang ditawarkan terbukti dengan terjual habisnya (sold out) seluruh koleksi Raya bahkan saat baru memasuki hari ketujuh bulan Ramadan. Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar sangat merespons positif perpaduan antara desain profesional dan sentuhan material etnik yang eksklusif. Tingginya minat ini sempat mengejutkan tim produksi, namun hal tersebut segera ditangani dengan langkah-langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang belum sempat mendapatkan koleksi tersebut.

Menanggapi permintaan yang masih terus mengalir, Nina Nugroho saat ini tengah bergerak cepat dengan memperpanjang kerja sama dengan para pengrajin tenun bulu Garut untuk menambah kuota produksi. Meskipun proses pengerjaannya membutuhkan waktu sekitar dua minggu, tim optimis bahwa tambahan koleksi ini akan tetap bisa dinikmati oleh masyarakat sebelum hari raya tiba. Langkah ini juga menjadi angin segar bagi para UMKM di Garut yang mendapatkan pesanan tambahan di tengah musim puncak belanja nasional.

Keberhasilan koleksi sarimbit tahun ini membuktikan bahwa tantangan dalam mencari material yang cocok untuk lintas gender telah teratasi dengan penggunaan tenun lokal yang tepat. Nina berharap melalui karya-karyanya, busana dapat menjadi media komunikasi yang efektif untuk menyampaikan nilai dan karakter kuat perempuan Indonesia di mata dunia. “Brand dapat terus mendampingi para profesional muslimah dalam berbagai aktivitas dan peran mereka,” pungkasnya, menutup sesi wawancara mengenai visi jangka panjangnya.(E2-ADIT).

Arsip

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

TRADE EXPO INDONESIA 2025

SOROTAN BISNISTODAY

Beritasatu Network

Related Articles

Trends & Mode

Gebrakan Desain Indonesia di Milan Melalui Kehadiran IDD Pavilion dalam Ajang Salone del Mobile 2026

JAKARTA, Bisnistoday,- Dunia desain internasional kini kembali menaruh perhatian besar pada kreativitas...

Hunian Hijau
Trends & Mode

Survei Properti : Milenial Cenderung Pilih Hunian Hijau dan Hemat Energi

JAKARTA, Bisnistoday – Berdasarkan survei calon pembeli rumah di Kota Jakarta, para...

Vape atau Pod
HumanioraLIFESTYLELingkunganTrends & Mode

Limbah Vape Menimbulkan Masalah Lingkungan di Inggris

JAKARTA-Bisnistoday: Penggunaan vape dan pod masih menjadi permasalahan di sejumlah negara. Selain...

PEKERJA Online
Trends & Mode

Tren Resign Pasca THR, Tak Sekedar Gaji Untuk Pertahankan Karyawan

JAKARTA, Bisnistoday - Berakhirnya masa libur Lebaran dan cairnya Tunjangan Hari Raya (THR)...