Press "Enter" to skip to content

Terimbas Gagal Bayar Modern Land Tiongkok, IHSG Makin Tertekan

IHSG dan rupiah kembali terkoreksi
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday- Pasar keuangan kembali dikejutkan kabar dari perusahaan properti Tiongkok, Modern Land yang mengalami gagal bayar. Hal ini juga berpengaruh negatif terhadap pasar saham, termasuk pasar modal Indonesia.

Pada perdagangan Rabu (27/10), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 54,73 poin ke posisi 6.602,21. Sementara indeks LQ45 turun 8,22 poin ke posisi 956,82. Pelemahan IHSG juga seiring koreksi bursa saham regional Asia.

Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya menyebutkan,  Modern Land telah melewatkan pembayaran obligasi yang jatuh tempo pada awal pekan ini. Modern Land tidak dapat melunasi kupon pembayaran atas obligasi 250 juta dolar AS.

Modern Land belum membayar pokok dan bunga atas senior notes 12,85 persen yang jatuh tempo pada awal pekan lalu dikarenakan masalah likuiditas yang tidak terduga.

Kondisi itu tentunya menambah kecemasan pelaku pasar dan investor atas satu per satu perusahaan properti Tiongkok yang mengalami gagal bayar, setelah sebelumnya ada Evergrande Group yang juga mengalami hal serupa.

Sementara itu, jelang akhir pekan ini pasar juga menanti keputusan kebijakan moneter dari pertemuan Bank Sentral Jepang (BoJ) dan Bank Sentral Eropa (ECB). Pasar menanti pandangan akan kebijakan moneter yang akan dilakukan sehubungan dengan suku bunga inflasi dan tingkat pertumbuhan.

Dibuka menguat, IHSG tak lama melemah dan terus berada di teritori negatif hingga sesi pertama perdagangan saham berakhir. Pada sesi kedua, IHSG masih tak mampu beranjak dari zona merah hingga penutupan bursa saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tiga sektor meningkat di mana sektor barang konsumen non primer naik paling tinggi yaitu 0,92 persen, diikuti sektor kesehatan dan sektor barang baku masing-masing 0,58 persen dan 0,18 persen.

Sedangkan delapan sektor terkoreksi dimana sektor barang konsumen primer turun paling dalam yaitu minus 1,39 persen, diikuti sektor keuangan dan sektor energi masing-masing minus 1,23 persen dan minus 1,04 persen.

Penutupan IHSG diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing sebesar Rp223,65 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.269.386 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 21,58 miliar lembar saham senilai Rp13,41 triliun. Sebanyak 193 saham naik, 334 saham menurun, dan 137 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 7,77 poin atau 0,03 persen ke 29.098,24, indeks Hang Seng turun 409,53 poin atau 1,57 persen ke 25.628,74, dan indeks Straits Times meningkat 13,6 poin atau 0,42 persen ke 3.218,17.

Rupiah Pun Merosot

Sementara itu, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta masih lanjut terkoreksi, sejalan pelemahan mata uang kawasan.

Rupiah sore ini ditutup melemah 20 poin atau 0,14 persen ke posisi Rp14.173 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.153 per dolar AS.

“Dolar AS yang sebelumnya turun oleh kekhawatiran tingginya inflasi di sana, berbalik naik,” kata tulis Tim Riset Monex Investindo Futures dalam kajiannya.

Sebelumnya bank sentral AS, Federal Reserve (Fed) telah mengumumkan rencana kenaikan suku bunga acuan pada akhir 2022.

Pelaku pasar mulai berspekulasi langkah serupa akan diambil oleh bank sentral-bank sentral besar dunia dan dapat dilakukan lebih cepat dari rencana The Fed. Rencana kenaikan suku bunga itu didorong oleh kenaikan inflasi di negara-negara besar yang mulai kembali pulih ekonominya dari bencana wabah Covid-19 dua tahun terakhir.

Meski demikian, ancaman kenaikan inflasi yang terlalu tinggi dapat mengancam turunnya daya beli masyarakat./

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *