www.bisnistoday.co.id
Rabu , 22 April 2026
Home BURSA & KORPORASI 2022, Pasar Saham dan Obligasi Diprediksi Tumbuh Positif
BURSA & KORPORASI

2022, Pasar Saham dan Obligasi Diprediksi Tumbuh Positif

Senior Portfolio Manager Equity, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Samuel Kesuma memprediksi pasar saham dan pasar obligasi Indonesia tumbuh positif
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday- Pasar saham dan pasar obligasi Indonesia tahun depan diprediksi akan tumbuh positif, seiring pemulihan perekonomian domestik.

Senior Portfolio Manager Equity, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Samuel Kesuma mengatakan, situasi dan penanganan pandemi sempat membuat kinerja pasar saham tertinggal. Namun, perbaikan penanganan dan kondisi fundamental yang semakin kuat membuat pasar saham menawarkan peluang pertumbuhan yang baik di 2022.

Selain itu, lanjut dia, prospek pemulihan ekonomi yang lebih kuat dan resilient mendorong normalisasi pertumbuhan profitabilitas perusahaan ke level yang lebih sehat pada 2022.

Selain itu, lanjut Samuel, peluang pertumbuhan e-economy yang cerah mendorong tingginya minat investor, terutama didukung potensi inklusi pada indeks saham global dan rencana IPO beberapa saham e-economy pada 2022.

“Di tahun 2022, kami mempertahankan posisi overweight pada sektor inti yang mendapatkan manfaat dari perubahan struktural, seperti e-economy, green economy, dan telekomunikasi. Sementara itu, secara selektif kami mengambil posisi overweight pada beberapa sektor yang menjadi proxy pembukaan kembali ekonomi, seperti finansial, otomotif, dan properti. Kami memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan berada di level 7.600,” ujar Samuel di Jakarta, Selasa (7/12).

Director & Chief Investment Officer, Fixed Income MAMI, Ezra Nazula menambahkan, saat ini pasar obligasi Indonesia memberikan imbal hasil riil yang relatif tinggi dibandingkan kawasan.
“Hal ini membuat pasar obligasi kuat menghadapi perubahan sentimen global di 2022,” ujarnya.

Prospek pasokan yang terkendali dan permintaan domestik yang kuat, kata dia, ditopang oleh laju pertumbuhan kredit yang masih relatif rendah dan imbal hasil obligasi yang menarik, dapat mendukung pergerakan obligasi Indonesia.

“Faktor sentimen dan fundamental yang lebih kokoh berkontribusi pada stabilitas pergerakan pasar obligasi Indonesia, menjadi sarana diversifikasi portofolio yang baik,” kata Ezra.

Ia menambahkan pemerintah dan Bank Indonesia telah berkomitmen mereformasi perpajakan dan melanjutkan skema berbagi beban jilid III untuk pendanaan APBN pada 2022. Kondisi itu menjaga ruang dan berkelanjutan fiskal dalam jangka menengah, terutama dalam menurunkan defisit anggaran menuju di bawah 3 persen terhadap PDB pada 2023.

“Di tengah kondisi fiskal yang lebih hati-hati, sinergi fiskal-moneter dinilai sebagai hal yang positif berpotensi mengurangi tekanan terhadap peringkat kredit Indonesia. Kami memperkirakan imbal hasil obligasi pemerintah dengan durasi 10 tahun untuk tahun 2022 akan berada di level 6 persen hingga 6,25 persen,” pungkas Ezra./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

Related Articles

Panama City (dok: Unsplash/Sol Cerrud)
BURSA & KORPORASIEkonomi & BisnisGLOBALKawasan Global

Para Konglomerat Sembunyikan Pajak Senilai 3% dari PDB Global

JAKARTA-Bisnistoday: Lembaga nirlaba internasional, Oxfam mengungkapkan orang-orang superkaya di dunia diduga menyembunyikan...

BURSA & KORPORASIKorporasi

BRI Life Luncurkan Logo Baru dan Identitas Visual Perusahan

JAKARTA, Bisnistoday – PT Asuransi BRI Life mengumumkan perubahan logo perusahaan sebagai...

BURSA & KORPORASIKorporasi

BRI Life Catat Pertumbuhan Signifikan, Raih Laba Rp954 Miliar

JAKARTA, Bisnistoday - PT Asuransi BRI Life membukukan pertumbuhan bisnis yang signifikan...

BURSA & KORPORASIKorporasi

BRI Life Kembali Meraih Penghargaan “Indonesia Best Digital Innovation Award 2025”

JAKARTA, Bisnistoday – BRI Life meraih penghargaan Indonesia Best Digital Innovation 2025...